Kemala Harris, Wapres Wanita Kulit Hitam Pertama AS yang Berpeluang Jadi Presiden Wanita Pertama

Terkini.id, Jakarta – Kamala Harris sebelumnya dipilih oleh Joe Biden untuk mendampinginya sebaga calon Wakil Presiden dalam pilpres Amerika Serikat 2020.

Kini, pasangan Capres dan Cawapres Amerika tersebut sukses menang dalam Pilpres Amerika Serikat pada Sabtu 7 November 2020.

Jika dilantik nanti, Kamala Harris bakal menjadi Wapres Wanita Kulit Hitam pertama di Amerika Serikat.

Bahkan, jika dalam perjalanan nantinya Biden berhalangan tetap, Kamala Harris-lah yang bakal menggantikan Biden sebagai Presiden Amerika Serikat.

Mungkin Anda menyukai ini:

Pengumuman kemenangan pasangan Partai Demokrat tersebut dipastikan setelah hasil penghitungan suara di Pennsylvania mengunggulkan mereka atas pasangan Donald Trump dan Mike Pence.

Baca Juga: Biden Hentikan Dukungan AS ke Arab Saudi terkait Perang di...

Diketahui, Kamala Harris sebenarnya pesaing Biden dalam konvensi pemilihan presiden dari Partai Demokrat. Akan tetapi mundur di tengah jalan, salah satunya karena alasan dana.

Perempuan 56 tahun tersebut menyingkirkan tujuh kandidat kuat pendamping Biden yang semuanya juga perempuan, di antaranya Susan Rice, Elizabeth Warren, dan Karen Bass.

Pemilihan Harris sangat mengejutkan, bukan hanya karena menjadi perempuan kulit hitam pertama yang menduduki posisi wakil presiden, namun pernah melawan Biden dalam konvensi.

Baca Juga: Presiden AS Joe Biden Jatuhkan Sanksi atas Kudeta Militer Myanmar

Orangtua Harris merupakan imigran, ayahnya sempat menetap di Jamaika dan ibunya dari India. Dia juga merupakan perempuan kulit hitam pertama yang menjadi jaksa agung California serta perempuan kulit hitam kedua yang terpilih menjadi anggota Senat AS.

Harris lahir pada 20 Oktober 1964 di Oakland, California, yang saat itu menjadi pusat aktivis hak-hak sipil dan anti-perang. Setelah orangtuanya bercerai, dia dibesarkan single mother, Shyamala Gopalan, yang juga peneliti kanker dan aktivis hak-hak sipil.

Dalam asuhan Shyamala Gopalan, dia tumbuh di tengah budaya India yang kental. Meski demikian Harris mengakui ibunya mengadopsi budaya kulit hitam Oakland yang kental.

“Ibu saya paham betul bahwa dia membesarkan dua anak perempuan kulit hitam,” kata Harris dalam otobiografinya berjudul ‘The Truths We Hold’.

“Dia tahu bahwa tanah air angkatnya akan melihat Maya dan saya sebagai perempuan kulit hitam dan dia bertekad untuk membuat kami tumbuh menjadi perempuan kulit hitam yang percaya diri dan bangga.”

Gelar diploma dari Black Howard University, Washington, menjadi awal dari kenaikan karier yang membawanya dari jaksa penuntut kepada dua masa jabatan jaksa wilayah San Francisco dan jaksa agung California pada 2010.

Tugasnya sebagai jaksa agung juga membuatnya dekat dengan putra Biden, Beau, yang saat itu memegang posisi yang sama di Negara Bagian Delaware. Beau meninggal akibat penyakit kanker pada 2015 di usia 46 tahun.

Harris sempat bentrok dengan Biden saat debat Demokrat pertama pilpres 2020. Dia mencela Biden terakait program bus tahun 1970-an yang memaksa integrasi sekolah-sekolah.

Namun sejak itu pamornya menurun di kalangan para pendukung Partai Demokrat. Dia pun memutuskan mundur dari pencalonan pada Desember 2019. Namun pada Maret dia memutuskan mendukung Biden.

Harris merupakan politikus Demokrat pengkritik keras Presiden Donald Trump dan berulang kali menyerukan pemakzulan. Performa Harris dalam pencalonan juga menurun sejak masuknya nama baru dari kalangan pengusaha, sebut saja miliarder Michael Bloomberg. Posisi Harris sempat turun ke nomor 6 karena disodok oleh Bloomberg dari total sekitar 15 peserta penjaringan calon presiden.

Dia juga menegaskan tak punya cukup dana untuk kampanye. Biden menegaskan tak menyimpan dendam dengan Harris setelah debat soal bus sekolah serta menggambarkan Harris sebagai sosok intelektual kelas 1.

Dengan memenangkan kursi wakil presiden, dia sangat dekat dengan posisi pemimpin AS. Jabatan ini bisa menjadi batu loncatan baginya untuk menjadi presiden. Bukan mustahul, toh sebelumnya Joe Biden juga merupakan wakil presiden di masa pemerintahan Barack Obama.

Dia akan lebih diunggulkan untuk memenangkan nominasi presiden dari Partai Demokrat 4 tahun mendatang. Itu bisa menjadikan sejarah baru, menjadikannya sebagai presiden perempuan pertama AS.

“Pemilu ini lebih dari sekadar Joe Biden atau saya,” katanya, di Twitter, setelah pemberitaan media bahwa dia dan Biden memenangkan pilpres.

Bagikan