Kesenian Tradional Batti’-Batti’, Berjuang Merebut Zaman

Kesenian Tradisonal Batti’-Batti’
Kesenian Tradisonal Batti’-Batti’

Terkini.id – Tak seorang pun yang tahu kapan seni musik tradisional ini muncul pertama kali. Begitu pula asal muasal dan siapa yang mempopulerkan kesenian ini. Tidak ada keterangan yang bisa menjelaskannya.

Sayangnya, batti’-batti’ kian ditinggalkan khalayak sebagai akibat dari gempuran budaya global melalui media elektronik yang semakin menggila. Padahal sekitar tahun 70-an hingga 90-an, batti’-batti’ tidak pernah absen ditampilkan dalan setiap pesta pernikahan, terutama di daerah pedesaan.

Jika di daerah Melayu dikenal pantun berbalasan, maka batti’-batti’ ini adalah nyanyian berbalasan antara pabatti’-batti’ (penyanyi batti’-batti’) pria dan wanita.

Alat musik yang digunakan dalam kesenian ini adalah rebana, gambus dan dua kecapi dengan penggunaan nada yang lebih tinggi. Lirik yang dilantunkan pun adalah murni hiburan yang uniknya tercipta begitu saja, seiring nada yang mengalun dari gambus dan rebana yang mengiringi.

Kesenian Tradisonal Batti’-Batti’
Kesenian Tradisonal Batti’-Batti’

Tidak Ada Regenerasi

Batti’-batti’ biasanya yang dimulai sekitar pukul 10 malam hingga dini hari tersebut bukan saja ditampilkan pada pesta pernikahan, tetapi juga pada pesta panen, terutama pada acara ammoto’ (jagung yang kering diikat dari kulit terluarnya) dan acara a’basse (jagung yang sudah diikat oleh para gadis kemudian diikat sebanyak sekitar lima puluhan yang biasanya dilakukkan oleh para jejaka).

Kostum yang dikenakan pabatti’-batti’ wanita adalah baju bodo atau baju la’bu dan lipa’sabbe, sedangkan pabatti’-batti’ pria menggunakan pakaian adat.

Umumnya pemain musik rebana atau gambus dalam batti’-batti’ sekaligus menjadi vokalis. Jadi, jika dijumlah personil yang bermain terhitung empat pria dan dua wanita, yaitu satu orang memegang gambus, satunya lagi rebana dan dua wanita.

Menurut masyarakat setempat, saat ini keberadaan kesenian batti’-batti’ sudah semakin kabur. Selain itu, para pabatti’-batti’ yang mahir juga semakin langka.

Kalaupun ada, mungkin kondisinya sudah rentan. Bahkan kenyataannya sekarang, seorang pabatti’-batti’ senior hidup sebagai tukang becak. Ironis sekali.

Kesenian Tradisonal Batti’-Batti’
Kesenian Tradisonal Batti’-Batti’

Kesadaran generasi muda untuk melestarikan kesenian ini juga kian memudar, seiring maju dan berkembangnya peradaban serta teknologi. Hal ini terlihat dengan minimnya pertunjukan yang mempertontonkan batti’-batti’.

Jika kesenian tradisional ini hilang, berarti Indonesia kehilangan satu warna musik yang merupakan kekayaan budaya bangsa.

Batti’-batti’ sebenarnya memiliki potensi yang bisa dikembangkan layaknya kesenian Tari Pakarena dan Pagandrang yang telah melahirkan maestro-maestro terkenal hingga ke mancanegara. Tetapi karena dianggap tidak dapat memberikan kehidupan yang layak dan tidak menjanjikan secara komersil, nyaris tak ada lagi yang mau melakukan dan melanjutkan kesenian ini. Tak ada regenerasi!

Penulis : Salmawati

Berita Terkait