Kesenjangan Teknologi Militer Kita

Prajurit TNI
Prajurit TNI

MEMBAHAS mengenai Militer ialah membahas mengenai Keamanan dan Pertahanan Negara. Sehingga Kedaulatan dan Stabilitas Negara sangat bergantung dengan seberapa besar kekuatan militer yang kita miliki saat ini. Oleh karena itu, sebagai warga negara Indonesia, tanpa agenda wajib militer dan bela negara sekalipun. Kita harus peka terhadap kondisi militer bangsa ini.

Salah satu Jenderal Bintang 5 Indonesia yakni Jenderal Abdul Haris Nasution yang merupakan ahli perang gerilya berpesan dalam bukunya yang berjudul “Pokok-pokok Perang Gerilya”. Beliau menjelaskan bahwa jika Indonesia berperang, maka yang akan dihadapi ialah perang Semesta. Yakni perang yang akan melibatkan seluruh komponen bangsa Indonesia seperti dahulu yang identik dengan gotong royongnya dalam mengusir para penjajah.

Meskipun konsep perang semesta sampai saat ini masih menjadi pembahasan yang alot. Namun jika dihadapkan pada konteks hari ini, maka kuantitas penduduk dan personil militer patut dipertanyakan relevansinya ketika Negara-Negara maju telah memulai pengembangan ilmu pengetahuan dan Teknologi yang fantastis dalam dunia militer.

Sebut saja seperti Rusia dengan Jet Tempur, Pesawat tempur dan Tank tanpa awak, hingga Amerika dan China yang sering membanggakan kapal induk, kapal selam, hingga rudal balistik antar benuanya.

Belum lagi pengembangan senjata Nuklir, teknologi laser dan berbagai senjata pemusnah massal lainnya. Dibandingkan dengan negeri kita tentu menghadirkan kesenjangan teknologi militer yang besar. Meskipun pembenahan telah dilakukan oleh Industri Pertahanan Negara seperti PT Pal, PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia dan Lini Bisnis Elektronika Pertahanan. Kekhawatiran sebagai negeri berkembang yang bebas aktif dalam dunia percaturan kekuatan global tentu menjadi momok yang cukup menakutkan.

Menarik untuk Anda:

Contoh kegelisahan yang hadir ialah pendapat Menteri Pertahanan Indonesia Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, Ryamizard Ryacudu yang melontarkan ultimatum bahwa jika perang, paling Indonesia hanya bertahan selama tiga hari karena ketahanan energi dari teknologi perang yang masih sangat terbatas.

Jika dilihat dalam kacamata daftar peringkat kekuatan militer 2018 oleh Global FIrepower, Indonesia cukup baik karena berada pada peringkat ke-14, terbaik di Asia Tenggara. Namun masih tetap kalah dari beberapa Negeri kecil seperti Korea Utara, Mesir bahkan Pakistan.

Langkah Strategis

Oleh karena itu, langkah strategis harus diwujudkan Indonesia dalam mengefektifkan pengembangan militer. Meskipun dengan anggaran yang terbatas karena harus berbagi dengan sektor prioritas lainnya dalam APBN. Indonesia tetap punya peluang dengan memaksimalkan integrasi intansi militer, industri pertahanan dan dunia Perguruan Tinggi yang merupakan pusat dari penelitian serta pengembangan teknologi dan inovasi.

Sejak tahun 2009, Indonesia telah memiliki Universitas Pertahanan Indonesia (UNHAN) yang melengkapi institusi pendidikan Militer yang ada di Negeri ini. Meski dapat dikatakan terlambat, namun ini telah merupakan langkah yang tepat ditengah berbagai keterbatasan pengembangan integrasi militer dan pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Negeri Ibu pertiwi.

Kampus yang mencoba fokus pada program study setingkat Master (S2) ini juga tetap masih memperoleh berbagai keterbatasan dala pengembangannya. Sehingga masih terus diperlukan berbagai kerjasama dan dukungan dalam pengoptimalannya.

Dukungan harus dilakukan pula oleh berbagai Kampus lainnya di Indonesia melalui bentuk kerjasama yang dihadirkan instansi Militer Indonesia guna membangun kesadaran para mahasiswa terhadap pengembangan dunia Militer.

Meski agenda perang telah bertransformasi menjadi berbagai dimensi perang asimetris, namun militer tetap menjadi salah satu aspek yang kini menjadi tantangan untuk mengantisipasi dari potensi terburuk dari pecahnya ketegangan yang terjadi di dunia Internasional saat ini.

Sebagaimana pesan dari ahli strategi militer, Jenderal Sun Tzu yang menyebutkan perang adalah sebuah keniscayaan. Karena disanalah Keseimbangan terjadi dengan Kemenangan dan Kekalahan bertemu. Serta Kematian dan Kehidupan akan berjumpa. Pertanyaannya, seberapa siapkah kita?

Makassar, 6 Desember 2018

Penulis adalah Ahmad Akbar. Tercatat sebagai Supervisor Beastudi Etos Makassar Penulis juga merupakan Mahasiswa Aktif Program Study Statistika Universitas Hasanuddin. Lahir di Ujung Pandang, 07 Juni 1995. Alamat di Jl. Prof. Mattulada, Perumahan Dosen Unhas Tamalanrea Blok NK 1

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Money Politik, Diantara Larangan dan “Kebutuhan” Warga

Ketauladanan Ibrahim AS – 01

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar