Kisah Pilu Mantri Asal Sulsel di Pedalaman Papua, Wafat usai Kehabisan Bekal dan Obat-obatan

Terkini.id, Papua – Seorang petugas medis yang berstatus PNS di Papua, Patra Marinna Jauhari, wafat. Patra diketahui adalah putra asal Palopo, Sulawesi Selatan.

Patra yang akrab dipanggil Mantri Patra di Papua, mengabdikan dirinya di pedalaman Papua Barat selama 10 tahun.

Sehari-harinya, Patra mengabdi dan memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat di Kampung Oya, Distrik Naikere, Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat.

Kampung Oya di Kabupaten Teluk Wondama diketahui adalah daerah terpencil dan merupakan perbatasan dengan Kabupaten Kaimana.

Untuk bisa mencapai kampung tersebut, butuh waktu tiga hari dan tiga malam dengan berjalan kaki.

Alternatif lainnya jika mau cepat adalah menggunakan helikopter, naun biayanya cukup mahal.

Dilansir dari berbagai sumber, patra dilaporkan meninggal dunia pada Selasa 18 Juni 2019 lalu.

Akan tetapi, jenazahnya baru ditemukan rekannya pada Jumat 21 Juni 2019. Akibatnya, saat ditemukan, jenazahnya sudah mengeluarkan bau tak sedap.

Jenazahnya kemudian diberangkatkan ke Wasior, Ibukota Kabupaten Teluk Wondama, dengan helikopter pada Sabtu 22 Juni 2019.

Saat tiba di Wasior, kondisi jenazah almarhum Patra Marinna Jauhari tampak cuma dibungkus menggunakan kain dan dimasukkan di dalam kantong jenazah.

Informasi meninggalnya Patra diketahui dari seorang warga kampung Oya, Tadius Mufara (28).

“Patra Marina (ASN Perawat) Jauhari mengalami sakit sekitar 2 minggu dengan gejala sakit kepala dan muntah dan dehidrasi (kekurangan cairan),” ungkap Tadius, warga kampung Oya.

Ironisnya, selama sakit, warga diutus ke Kota Wasior untuk melaporkan kondisi kesakitan petugas medis tersebut kepada pihak Puskesmas Naikere dan Dinas Kesehatan dan Pemda Teluk Wondama.

Namun, tidak ada tindak lanjut untuk menjemput petugas medis yang sakit tersebut.

Patra meninggal dunia pada hari Selasa 17 Juni 2019 sekitar pukul 22.00 WIT di Kampung Oya.

Selanjutnya, pada 18 Juni 2019 pukul 04.00 WIT Tadius Mufara melakukan perjalanan dari Kampung Oya dan tiba di kampung Sararti pada 21 Juni 2019 dan bertemu dengan Ibu Sovia Wamafma (Patugas Kesehatan Puskesmas Naikere).

Informasi tersebut dilanjutkan ke Dinas Kesehatan dan keluarga di Wasior. Pada Sabtu 22 Juni 2019 jenazah Patra baru dapat dievakuasi ke Kota Wasior ibukota Teluk Wondama.

Jenazah akan disemayamkan di rumah duka di kampung Manggurai Distrik Wasior direncanakan untuk dilakukan pengiriman jenazah ke Sulawesi. Apabila tidak dimungkinkan akan dilakukan pada 23 Juni 2019 di TPU Manggurai.

Saksi Hidup Mirisnya Layanan Kesehatan di Papua

Kisah wafatnya Patra banyak menjadi perhatian netizen di media sosial.

“Patra Marinna Jauhari, mantri ini adalah saksi mati (saksi hidup sampai mati) bagaimana keadaan pelayanan kesehatan di Papua,” tulis Adam A Jubhari.

“Anak muda yg pergi karena panggilan, dia meninggal dalam tugas kemanusian, di jantung papua dia datang tanpa tiket pulang, semoga tenang di sana kawan,” tulis Halik Tampan.

“Selamat jalan teman sejawat semoga keluarga yg ditinggalkan diberikan ketabahan,” tulis Irham Tompo.

Informasi Lambat Ditindaklanjuti

Kepala Puskesmas, Waropen menyatakan bahwa Patra mungkin bisa tertolong jika pihak dinas kesehatan cepat merespon laporannya.

Awal April 2019 lalu, Mantri Patra bersama seorang rekannya diantar dengan helikopter ke Kampung Oya.
Mereka dijadwalkan bertugas selama tiga bulan hingga Juni untuk kemudian dijemput kembali dan diganti petugas berikutnya.

Dehidrasi, Kehabisan Bekal dan Obat-obatan

Akan tetapi, sampai pertengahan Juni helikopter belum datang menjemput.

Padahal persediaan bahan makanan berupa beras, minyak goreng dan lainnya yang dibawanya pada tiga bulan lalu telah lama habis.

Demikian pula stok obat-obatan. Semuanya sudah habis terpakai.

Meski begitu, Patra yang tinggal seorang diri setelah temannya sesama perawat memutuskan turun ke kota Wasior dengan berjalan kaki memilih tetap bertahan di pedalaman. Dia terus memberi pelayanan medis dengan kondisi apa adanya.

Untuk mengisi hari, bujangan kelahiran 1988 ini selalu berintekrasi dengan warga setempat. Mulai dari berkunjung ke rumah warga, bermain bersama pemuda setempat hingga ikut berkebun bersama warga.

“Tiap sore dia pergi dengan anak-anak menyanyi-menyanyi, “ kisah seorang warga Oya melalui Kepala Puskesmas Naikere Tomas Waropen di Wasior, Sabtu (22/6).

Hari terus berlalu, helikopter yang ditunggu tak juga tiba. Namun kesetiaan pemuda 31 tahun ini tetap tak luntur.

Dia terus bertahan meski dihatinya memendam kecewa terhadap instansi tempatnya bekerja. Terus bertahan dalam kondisi serba terbatas membuat dia akhirnya jatuh sakit. Ketiadaan alat komunikasi memaksa pria kelahiran Palopo, Sulawesi Selatan ini tidak bisa meminta pertolongan ke orang-orang di kota. Hari berganti, kondisi fisiknya kian lemah. Mengetahui kondisinya kian memburuk, salah seorang warga kampung Oya memutuskan berjalan kaki untuk memberitahukan kondisinya sang Mantri kepada kepala Puskesmas Naikere.

Namun tetap saja tidak ada helikopter yang datang untuk mengevakuasinya ke kota guna mendapat perawatan medis. Hingga akhirnya pada 18 Juni 2019, Patra menghembuskan nafas terakhir di tempat tugasnya di Oya. Dia meninggal dalam kesendirian, tanpa ada keluarga, teman maupun kerabat yang mendampingi. Jenazah Patra baru dievakuasi pada 22 Juni 2019 menggunakan helikopter yang disewa Pemda dari Nabire atau empat hari setelah dia meninggal dunia.

Kematian Patra yang terbilang tragis menjadi keprihatinan banyak pihak. Tomas Waropen, Kepala Puskesmas Naikere menyatakan nyawa Patra mungkin bisa tertolong jika pihak dinas kesehatan maupun instansi terkait lainnya cepat merespon laporannya terkait kondisi Patra dan meminta segera dikirim helikopter.

“Kami sudah rapat sampai tiga kali dengan Dinas Kesehatan, Kesra dan Pak Sekda tapi tetap tidak ada jalan. Sampai akhirnya dia sudah meninggal baru helikopter bisa naik, “ ujar Waropen.

Bagi Waropen, Patra adalah pahlawan kemanusiaan. Dia rela mendedikasikan hidupnya untuk kebaikan masyarakat di pedalaman Naikere tanpa banyak mengeluh dan menuntut. Tindakan mulia yang justru selalu dihindari banyak petugas medis lainnya.

“Patra adalah pahlawan bagi masyarakat di pedalaman Mairasi (nama suku di pedalaman Naikere),” tambahnya seperti dilansir dari kabartimur.com.

Berita Terkait
Komentar
Terkini