Kisah Nyata 18 Hari Sebagai Wisatawan Covid-19

Tulisan ini adalah kiriman dari Citizen, isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
Laporkan tulisan
Andi Tenriola Rivai

Sebetulnya, sebagai orang beragama saya selalu yakin bahwa apapun yang terjadi pada diri kita ada hikmahnya. termasuk Covid-19 yang saya alami.

Hari demi hari saya lewati karantina di kamar dengan berzikir, salawat, mengaji dan mentadaburi alqur’an.

Saya merasa ibadah saya semakin meningkat. Doa yang saya panjatkan kepada Allah juga tidak pernah putus, dan itu menjadi obat yang sangat berpengaruh untuk kesembuhan saya.

Namun, terkadang rasa sedih juga muncul. Hal itu memang sangat manusiawi. Hari-hari selama di karantina ini pun membuat perasaan saya campur aduk, dan membuat nafsu makan saya sedikit berkurang.

Terlepas dari hal tersebut, pelayanan dan kenyaman hotel tempat saya dikarantina sangat nyaman dan bersih.

Menarik untuk Anda:

Setiap hari pakaian saya dilaundry-kan. Saya juga bisa menikmati hangatnya minum teh dan makan kue sambil mengisi waktu isolasi saya.

Prlengkapan mandi pun diberikan secara lengkap dan cuma-cuma.

Selain itu, di sini kebutuhan gizi saya juga dipenuhi dengan baik. Pelayanan makanannya sangat baik. Beragam keperluan lain seperti air mineral juga dipenuhi setiap harinya.

Sesekali ketika saya rindu dengan masakan rumahan, banyak sahabat dan keluarga yang mengirimkan makanan, kue, buah, dll. Hal ini merupakan hal yang sangat saya syukuri karena masih dikelilingi orang-orang yang sayang dengan saya.

Yang paling penting dari “wisata” ini adalah pelayanan tim Covid-19 yang sangat bagus, termasuk para pendamping saya.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

GenBI Sukseskan GGS, Ini Karya Mereka!

Mahasiswa UNM Kecam Pemkab Bone Masalah Perlindungan dan Keselamatan Lingkungan

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar