Kisah Panglima perang yang dipecat karena tidak pernah berbuat salah

TERKINI.id, Makassar – Tidak terasa bulan ramadah sudah masuk di sepuluh hari terakhir. Tandanya tamu agung bulan Ramadan sebentar lagi akan pergi meninggalkan kita. Ramadan yang selalu dinanti yang diakhirnya kita selalu berdo’a untuk bertemu kembali di ramadan berikutnya dan berikutnya.

Kita bisa menoleh sedikit di sebelah kita, entah berapa orang di sekeliling kita yang tahun lalu kita masih sama-sama tarawih, berbuka dan solat idul fitri bersama, tetapi tahun ini sudah tidak bersamanya lagi. Atau juga ada yang bisa sampai di bulan ramadan ini tetapi hanya sampai sebagain saja dan tidak sampai di hari yang fitri 1 syawal 1438H seperti Jupe dan mungkin beberapa ummat muslim lainnya di bumi ini.

Berikut ini saya akan berbagi sebuah kisah mengharukan yang bisa menjadi inspirasi kita dalam menjalani hidup untuk mendapatkan kebahagiaan hakiki di dunia maupun di kehidupan berikutnya. Kisah ini tentang seorang panglima perang dimasa pemerintahan Umar bin Khattab yang dipecat karena tidak pernah berbuat kesalahan.

Pada zaman pemerintahan Khalifah Syaidina Umar bin Khatab, tersebutnya seorang panglima perang yang disegani lawan dan dicintai kawan. Panglima perang ini  tidak pernah kalah sepanjang karirnya memimpin tentara di medan perang. Baik pada saat beliau masih menjadi panglima Quraish, maupun setelah beliau masuk Islam dan menjadi panglima perang umat muslim. Beliau adalah Jenderal Khalid bin Walid.

Namanya harum dimana-mana. Semua orang memujinya dan mengelu-elukannya. Kemana beliau pergi selalu disambut dengan teriakan, “Hidup Khalid, hidup Jenderal, hidup Panglima Perang, hidup Pedang Allah yang Terhunus. Khalid bin Wahid mendapat gelar langsung dari Rasulullah SAW dengan menyebutnya sebagai “Pedang Allah yang Terhunus”.

Dalam suatu peperangan beliau pernah mengalahkan pasukan tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Padahal pasukan muslim yang dipimpinnya saat itu hanya berjumlah 46.000 orang. Tentunya kemangan ini tidak lepas dari kejeliannya mengatur strategi, sehingga pertempuran itu bisa dimenangkannya dengan mudah. Sementara pasukan musuh lari terbirit-birit. Seperti itulah Khalid bin Walid yang tak gentar sedikitpun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak.

Khalid bin Walid memang sangat sempurna di bidangnya, ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun dia berada dalam puncak popularitas.

Pada suatu ketika, di saat beliau sedang berada di garis depan, memimpin peperangan, tiba-tiba datang seorang utusan dari Amirul mukminin, Syaidina Umar bin Khatab, yang mengantarkan sebuah surat. Di dalam surat tersebut tertulis pesan singkat, “Dengan ini saya nyatakan Jenderal Khalid bin Walid dipecat sebagai panglima perang. Segera menghadap!”

Menerima khabar tersebut tentu saja sang jenderal sangat gusar hingga tak bisa tidur. Beliau terus-menerus memikirkan alasan pemecatannya. Kesalahan apa yang telah saya lakukan? Kira-kira begitulah pertanyaan yang berkecamuk di dalam pikirannya saat itu.

Sebagai prajurit yang baik, taat pada atasan, beliaupun segera bersiap menghadap Khalifah Umar Bin Khatab. Sebelum berangkat beliau menyerahkan komando perang kepada penggantinya. Sesampai di depan Umar, beliau memberikan salam,  “Assalamualaikum ya Amirul mukminin! Langsung saja! Saya menerima surat pemecatan. Apa betul saya di pecat?” tanya Khalid kepada Umar.

Khalifah Umar bin Khattab menjawab salam beliau dan membenarkan pemecatannya. “Walaikumsalam warahmatullah! Betul Khalid,” jawab Khalifah.

Khalid semakin penasaran alasan pemecatannya. “Kalau masalah dipecat itu hak Anda sebagai pemimpin. Tapi, kalau boleh tahu, apa kesalahan saya?” tanya Khalid kembali.

Umar bin Khattab menjawab bahwa Khalid bin Walid tidak punya kesalahan. “Kamu tidak punya kesalahan,” jawab Umar.

“Kalau tidak punya kesalahan kenapa saya dipecat? Apa saya tak mampu menjadi panglima?” tanya Khalid kembali.

Umar menjawab “Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik,” kata Umar

Khalid bin Walid semakin tidak bisa menahan rasa penasarannya kenapa dirinya dipecat. “Lalu kenapa saya dipecat?” tanya Khalid kembali.

Dengan tenang Khalifah Umar bin Khatab menjelaskan alasan kenapa Khalid bin Walid dipecat dari jabatannya sebagai Panglima perang.  “Khalid, engkau jenderal terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah kau pimpin, dan tak pernah satu kalipun kalah. Setiap hari Masyarakat dan prajurit selalu menyanjungmu. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkan. Tapi, ingat Khalid, kau juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong’,” jawab Umar.

Seberat debu rasa sombong di dalam hati kata umar, maka neraka jahanamlah tempatmu. “Karena itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini kau saya pecat. Supaya engkau tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja kau tak bisa berbuat apa-apa!”kata Umar.

Mendengar jawaban itu, Jenderal Khalid tertegun, bergetar, dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang ada, beliau langsung mendekap Khalifah Umar. Sambil menangis beliau berbisik, “Terima kasih ya Khalifah. Engkau saudaraku!” katanya.

Bayangkan …. mengucapkan terima kasih setelah dipecat, padahal beliau tak berbuat kesalahan apapun. Adakah pejabat penting saat ini yang mampu berlaku mulia seperti itu? Yang banyak terjadi justru melakukan perlawanan, mempertahankan jabatan mati-matian, mencari dukungan, mencari teman, mencari pembenaran, atau mencari kesalahan orang lain supaya kesalahannya tertutupi.

Jangankan dipecat dari jabatan yang sangat bergengsi, ‘kegagalan’ atau keterhambatan dalam perjalanan karir pun seringkali tidak bisa diterima dengan lapang dada. Akhirnya semua disalahkan, sistem disalahkan, orang lain disalahkan, semua digugat, bahkan hingga yang paling ekstrim, Tuhan pun digugat..

Kembali ke Khalid bin Walid, hebatnya lagi, setelah dipecat beliau balik lagi ke medan perang. Tapi, tidak lagi sebagai panglima perang. Beliau bertempur sebagai prajurit biasa, sebagai bawahan, dipimpin oleh mantan bawahannya kemarin.

Beberapa orang prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang gagah berani tersebut masih mau ikut ambil bagian dalam peperangan. Padahal sudah dipecat. Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, “Ya Jenderal, mengapa Anda masih mau berperang? Padahal Anda sudah dipecat.” tanya prajurit itu.

Dengan tenang Khalid bin Walid menjawab, “Saya berperang bukan karena jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata karena mencari keridhaan Allah.”_

Demikianlah cuplikan kisah yang sangat indah dari seorang Jenderal, panglima perang  yang digelar ”Pedang Allah yang Terhunus”.

 

Berita Terkait
Komentar
Terkini