Masuk

Kisruh Penolakan Eksekusi Lahan di Anggeraja Enrekang, Dua Warga Ditangkap

Komentar

Terkini.id, Enrekang – Eksekusi lahan di Kelurahan Bubun Lamba, Kecamatan Anggeraja, Enrekang Sulawesi Selatan, Senin 7 Maret 2022 diwarnai penolakan warga.

Dalam jadwal eksekusi tersebut, sedikitnya ada dua warga ditangkap polisi karena diduga sebagai provokator.

Dua warga yang ditangkap tersebut dibawa ke Polres Enrekang Sulawesi Selatan dan saat ini masih berada di Polres Enrekang untuk diperiksa lebih lanjut.

Baca Juga: Kasus Hukum Anggota DPRD Jufri Sambarra Menggantung, WALHI Sulsel Duga Polda Sudah Dikondisikan

Kejadian ini bermula saat tim eksekusi lahan menuju Bubun Lamba Enrekang
mulai pukul 10.00 WITA. Petugas dari Pengadilan Negeri Enrekang mendapat pengawalan ketat dari aparat keamanan. 

Namun rencana untuk pelaksanaan eksekusi oleh Pengadilan Negeri Enrekang tidak berjalan mulus sebab diwarnai aksi penolakan hingga aksi saling lempar batu oleh warga dan penembakan gas air mata yang dilakukan oleh aparat kepolisian.

Saat bentrokan pertama pecah satu orang dikabarkan ditangkap namun berhasil dilepas. 

Baca Juga: Polrestabes Makassar Berhasil Gagalkan Peredaran Sabu seberat 43,6 Kg

Dan saat bentrokan kedua pecah usai salat Ashar, aksi lempar batu dan tembakan gas air mata pun terjadi. 

Bahkan Brimob tampak memburu warga sambil menembakkan gas air mata hingga  terdapat dua warga yang berhasil diciduk bahkan sempat dipukuli oleh aparat karena dianggap sebagai provokator.

Kedua warga yang ditangkap itu diketahui bernama Suherdi dan Fikri. Keduanya merupakan warga Kabupaten Enrekang.

“Ya ada dua warga yang ditangkap karena diduga sebagai provokator dalam pelaksanaan eksekusi lahan,”ujar salah seorang warga.

Baca Juga: Opsnal Cyber Polda Sulsel Bongkar Penipuan Online Lewat Instagram Modus Lowongan Kerja

Saat dikonfirmasi ke salah seorang yang ditangkap yakni Suhedi turut membenarkan jika dirinya ditangkap saat aksi penolakan terhadap pelaksanaan eksekusi lahan.

“Saya dan Fikri diamankan aparat karena dianggap memprovokasi,” ujarnya.

Dijelaskan Gondrong begitu panggilan akrab Suherdi bahwa saat sore hari aksi orasi kembali terjadi. Suasana tidak kondusif sehingga warga beberapa kali mengingatkan agar warga tetap tenang dan tidak terprovokasi, namun tidak terhindarkan.

“Kami curiga ada provokator yang menyusup masuk ke tengah-tengah massa di lokasi sehingga terjadilah kericuhan antara massa dan aparat kepolisian,”tegasnya.

“Saya cuma memberi semangat, mendukung aksi warga yang menurut kami lahannya tiba-tiba ingin dikuasai oleh  pihak lain,”sambungnya.

Ida Hamidah selaku Penasihat Hukum 
tergugat mengatakan pihaknya melakukan perlawan karena dalam amar putusan tidak dijelaskan Locus, luas dan batas-batas obyek yang akan dieksekusi.

“Kami melakukan perlawanan atas eksekusi oleh pihak penggugat. Apalagi saat ini proses hukum masih berlangsung di Polda atas adanya dugaan pemalsuan tandatangan kliennya yang tertera dalam surat hibah penggugat. Ini juga kita jadikan dasar perlawanan,” ujar Ida Hamidah.

Hingga berita ini diturunkan, aksi Eksekusi lahan oleh Pengadilan Negeri Enrekang tidak berhasil dilakukan. Aparat kepolisian dari Polres Enrekang yang dibackup Satuan Brimob dari Polres Pare-Pare berhasil meninggalkan lokasi sekira pukul 17:36 WITA.