Ini Komentar Peserta Dialog KKB “Meneropong Bulukumba dari Para Pakar”

"Meneropong Bulukumba dari Para Pakar" gagasan Kerukunan Keluarga Bulukumba di tanah rantau menghadirkan Wakil Bupati Bulukumba

Terkini.id,Makassar – Dialog yang digagas oleh Kerukunan Keluarga Bulukumba (KKB) yang berlangsung pada Sabtu 6 April 2019 malam berjalan dengan lancar dan sukses.

Dialog yang mengangkat tema “Meneropong Bulukumba dari Para Pakar” itu dibuka langsung oleh Wakil Bupati Bulukumba, Tomy Satria.

Dua guru besar yang didaulat menjadi pembicara dalam dialog ini dipanet bersama Wakil Bupati Bulukumba, Tomy Satria. Kedua guru besar asal Kabupaten Bulukumba itu masing-masing Prof DR H Abd Rasyid Masri M.Pd.M.Si.MM (UIN AM) dan Prof Dr rer nat Ir A M Imran (Unhas). Kedua guru besar itu bicara soal potensi yang dimiliki Bulukumba.

Dialog yang juga menghadirkan Imam Masjid New York US, Muhammad Shamsi Ali banyak mengungkap soal identitas adat, budaya dan wisata, perahu Pinisi dan Bira dan segala potensi lainnya yang dimiliki kabupaten Bulukumba.

Ketua Umum KKB membawakan sambutan Dialog “Meneropong Bulukumba dari Para Pakar”

Wakil Bupati Bulukumba Tomy Satria menyampaikan sejumlah spot destinasi pariwisata di hdapan para warga Bulukumba yang ada di tanah rantau dan tergabung dalam Kerukunan Keluarga Bulukumba.

Menurut orang nomor dua di Butta Panrita Lopi itu ada beberapa spot wisata yang baru saja dibuka, seperti pantai Samboang, Mandalaria, Tebing Apparallang, Pengunungan Kahayya dan masih banyak spot wisata lainnya.

“Bulukumba kaya akan potensi wisatanya. Keragakaman budaya yang dimiliki daerah kita juga tidak kalah dengan daerah lain,” ujar Tomy.

Namun, salah seorang peserta dialog yang hadir Muhammad Fardi mengatakan dirinya sangat percaya bahwa mayoritas orang-orang Sulawesi Selatan, Indonesia bahkan dunia mengetahui bahwa Pinisi adalah “Maha Karya” orang-orang Bulukumba. Bira di Bulukumba, Kajang di Bulukumba dan Sarung Hitam Kajang adalah Bulukumba. Pengakuan, popularitas dan identitas apa lagi yang kita gugat?

“Saya rasakan belakangan terakhir, karena banyaknya spot wisata pinggiran pantai baru sehingga bira tidak lagi begitu spesial di Bulukumba. Keterbatasan daerah menjadi salah satu alasan, di sisi lain membuka spot wisata semakin banyak dan akhirnya ada kontradiksi antara masalah dan solusi. Satu wisata kebanggaan saja tidak mampu ditata menjadi baik karena keterbatasan, kenapa harus membuka yang lain,” tuturnya.

Ia menjelaskannya bukannya tidak sepakat jika banyak spot wisata. Tapi kalau banyaknya itu juga tidak memberikan dampak apa-apa maka saya merasa sangat tidak perlu dilakukan.

“Wisata yang berhasil adalah yang mampu mempengaruhi harga jual di sekitar tempat wisata. Itulah kenapa saya lebih cenderung sepakat jika mendorong kualitas sebuah wisata,” ujarnya.

Bagi Fardi, membuka spot wisata baru yang terkesan dipaksakan, dalam artian spot wisata itu belum siap untuk dikunjungi, akhirnya membuat orang tidak berminat berkunjung kedua kalinya dan tidak menarik mempengaruhi kawan-kawannya.

Dialog Kerukunan Keluarga Bulukumba

“Yang terjadi hanya orang-orang Bulukumba merasa heboh sendiri. Orang dari Tanete, Rilau Ale, Ujung Bulu, Ujung Loe Dll yang heboh berkunjung ke Tebing Apparallang misalnya. Artinya hanya uang-uang Bulukumba juga yang berputar-putar, tidak ada uang dari luar Bulukumba atau daerah lain,” terangnya.

Maka dari itu agar pemerintah terdorong untuk menyesuaikan kemampuan daerah dengan jumlah wisata yang akan dikelola dengan baik. Jauh lebih baik mengejar kualitas daripada kuantitas yang ujung-ujungnya membuat makin bias,” kuncinya.

Berita Terkait
Komentar
Terkini