Kronologi Mantan Narapidana Dianiaya di Lapas Narkotika Oleh Oknum Petugas

Terkini.id, Jakarta – Seorang Oknum petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika II A Yogyakarta didugaan telah tindak kekerasan dan penganiayaan ke sejumlah warga binaan.

Hal itu dibenarkan usai beberapa mantan warga binaan melapor ke Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Meskipun Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) DIY Gusti Ayu Putu Suwardani mengaku belum mendapatkan laporan terkait hal tersebut.

Baca Juga: Diduga Pungli Remisi 17 Agustus, Dua Kepala Lapas di Sulsel...

Suwardani pun berjanji akan segera turun tangan menyelidiki terkait laporan itu dan terus berkoordinasi dengan ORI.

“Kita akan komunikasi terlebih dahulu, lalu kita tindak lanjuti kalau memang ada seperti itu. Insya Allah kita tindak lanjuti sesuai dengan aturan yang berlaku,” jelas dia.

Baca Juga: Siapkan Warga Binaan yang Berkompeten, Berikut Program Unggulan Lapas Kelas...

Selain itu, Salah satu mantan narapidana Lapas Narkotika II A Yogyakarta berinisial VT (35) menceritakan, pada April 2021 dirinya dan 12 orang dianiaya oknum pegawai lapas menggunakan selang.

Menurut VT, tindakan itu dilakukan meskipun warga binaan tak melakukan kesalahan.

Tak hanya itu, VT juga menyebutkan bahwa alasan petugas memukuli karena kedua belas orang itu merupakan residivis.

Baca Juga: Siapkan Warga Binaan yang Berkompeten, Berikut Program Unggulan Lapas Kelas...

“Begitu masuk, tanpa ada kesalahan dipukuli pakai selang, diinjak-injak pakai kabel,” katany.

Saat itu, kata VT, tak semua orang yang dianiaya adalah residivis. Dikutip dari Kompascom. Selasa, 2 November 2021.

Ia juga mengatakan bahwa dirinya juga pernah dijebloskan ke sel kering. Saat itu dirinya mengaku kebingungan karena tiba-tiba dibawa ke sel tersebut.

“Tanpa alasan yang jelas saya dimasukkan ke sel kering, sel kering itu tidak bisa dibuka selama lima bulan,” tuturnya.

Menurut VT, tindakan para oknum petugas lapas sudah diluar batas kemanusiaan. Salah satunya saat warga binaan yang baru pertama kali masuk lapas akan ditelanjangi dan disiram air.

“Kita ditelanjangi, disiram pakai air dan itu dilihat oleh semua staf,” Kata VT.

Akibatnya, salah satu warga binaan yang memiliki penyakit bawaan meninggal diduga karena kelalaian petugas.

“Dia sudah ada penyakit bawaan tapi kesehatannya tidak diperhatikan petugas. Dia ada penyakit paru, tapi tidak pernah dikeluarin, enggak pernah jemur, obatnya juga telat-telat. Cuma di RS beberapa hari dan balik ke lapas, dua hari meninggal,” ungkap dia.

Lalu, selama mendekam di lapas, VT juga sering menyaksikan oknum petugas lapas sering mencari-cari kesalahan warga binaan dan menghukumnya.

“Kita enggak ada kesalahan tetapi tetap saja dicari-cari kesalahannya. Itu pemukulan hampir tiap hari, di blok juga jarang dibuka untuk kegiatan rohani,” kata dia.

Sementara itu, salah satu mantan warga binaan, YA (34), mengaku sempat lumpuh karena tindakan oknum petugas lapas.

Kondisi lumpuh itu dialaminya setelah dimasukkan ke dalam sel isolasi yang sempit. Di dalam sel, dirinya mengaku sering mendapatkan pukulan. Untuk menatap petugas dia pun takut, selain itu makan juga hanya sebanyak tiga suap tanpa lauk.

“Ada dua bulan saya tidak bisa jalan. Dipukul daerah kaki pernah, kalau mukul ngawur,” ungkap dia.

YA bahkan mengaku menjadi warga binaan sejak 2017 dan bebas dari lapas pada 2021. Dia mengaku kekerasan mulai diterimanya pada 2020.

Bagikan