Kuliner Jepang di Waroenk Kupang ini populer berkat Restorasi Meiji

Katsu Donburi adalah semangkuk nasi hangat yang disajikan bersama irisan daging ayam yang digoreng dengan cara dibalut tepung roti, telur, dan tepung panir. / Effendy Wongso

TERKINI.id, KUPANG – Salah satu keunggulan Jepang setelah Restorasi Meiji yang diimplementasikan Kaisar Meiji di akhir zaman Edo dan menandai awalnya pemerintahan zaman Meiji di akhir abad ke-19, tepatnya pada 1866-1869, dapat dilihat dari perkembangan teknologi yang kian pesat Negeri Sakura.

Kemajuan tersebut bahkan menyamai beberapa teknologi asing, khususnya teknologi militer negara-negara Barat seperti Inggris dan Amerika Serikat (AS).

Jepang “kuno” berubah menjadi modern di bawah pemerintahan Meiji. Bukan saja teknologi, tetapi juga dalam berbagai sendi seperti keterbukaan bisnis dengan bangsa asing.

Dengan terbukanya hubungan “diplomatik”, baik secara invasi maupun agresi seperti yang dilakukan pada Perang Dunia Kedua (PD II) maupun pasca PD II yang dilakukan secara strategi bisnis, memungkinkan Jepang mengadaptasi berbagai hal guna kemajuan Jepang yang mutakhir, sekaligus mengenalkan hal-hal terkait Jepang, seperti budaya, seni, dan kuliner.

Dalam dunia kuliner, saat ini tidak ada yang tak mengenal Jepang dengan “sushi”-nya. Jepang bahkan “menginvasi” negara-negara di dunia dengan produk kuliner berbasis waralaba.

Sehingga, dalam perkembangan selanjutnya, aneka kuliner Jepang sudah bukan barang baru lagi dan dikonsumsi banyak penduduk dunia sebagai makanan keseharian mereka.

Selain sushi, tentu banyak menu lain yang tidak kalah populernya, di antaranya “donburi”.

Donburi atau kerap disebut “Don” saja, adalah salah satu kuliner khas Jepang yang terdiri dari semangkuk nasi hangat dengan lauk di atasnya.

Salah satu resto dan kafe representatif yang sudah menjadi destinasi kuliner di Kota Kupang, Waroenk tidak ketinggalan mengangkat menu Donburi sebagai makanan ala Jepang andalan. Menu itu dinamai “Katsu Donburi”, yang berarti daging ayam yang disayat, diiris, atau dipotong (fillet).

“Rasa lauknya (yang berupa ayam) bercampur dengan nasi, sehingga menghasilkan rasa yang unik. Hal itu pulalah yang menjadikan makanan ini disukai orang Jepang dari berbagai umur dan kalangan, bahkan saat ini penikmat kuliner dunia,” terang Public Relation and Representative Admin Waroenk Resto and Cafe, Merlin Sinlae dalam keterangan resminya di Waroenk, Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang, Rabu (28/3/2018) siang.

Dijelaskan, Katsu Donburi adalah semangkuk nasi hangat yang disajikan bersama irisan daging ayam yang digoreng dengan cara dibalut tepung roti, telur, dan tepung panir.

“Hidangan ini cocok untuk orang-orang penyuka gorengan bertekstur mantap yang ingin menikmati rasa khas Jepang. Dulunya, Katsu Donburi hanya dapat dibeli di kedai-kedai teishoku atau kedai waralaba Jepang yang hanya menyediakan menu masakan Jepang,” beber Merlin.

Manajemen Waroenk melihat, lanjutnya, merupakan peluang yang dapat diambil guna mengakomodir penikmat kuliner Jepang yang saat ini bukan saja dikonsumsi ekspatriat tetapi juga warga lokal.

“Seperti yang kita ketahui, menu Jepang sudah sangat akrab di lidah orang Indonesia. Apalagi, Katsu Donburi di Waroenk dibanderol cukup terjangkau Rp 37 ribu. Ini sangat ‘murah’ dibandingkan jika membeli di kedai-kedai teishoku,” papar Merlin.

Ia menambahkan, muasal keberadaan menu Katsu Donburi tidak memiliki catatan sejarah yang panjang. Sebagai contoh, menu Jepang Unadon baru dikenal pada awal abad-19, sementara Fukagawadon baru dikenal pada zaman Edo periode akhir.

Adapun Gyudon mulai dikenal di periode awal zaman Meiji, dan Uyakodon baru dikenal pada 1891. Pada 1913, mulai dikenal Sosu Katsudon, sementara Katsudon atau Katsu Donburi seperti yang dikenal sekarang ini baru ada sejak 1921.

Kendati demikian, semua menu Jepang tersebut secara tidak langsung dapat dikenal berkat adanya Restorasi Meiji yang mengusung unsur keterbukaan terhadap negara asing.

Sekadar diketahui, sejak tercetusnya “Restorasi Meiji” atau Meiji Ishin yang digagas dan diimplementasikan kaisar Jepang, Meiji pada 1868, program modernisasi terlihat melingkupi kehidupan Jepang di segala bidang.

Sebelumnya, negara yang juga berjuluk Negeri Matahari Terbit itu berabad-abad lamanya memang menutup diri dari dunia luar.

Pada masa yang juga disebut Revolusi Meiji, pemerintah Jepang mulai melihat Barat sebagai sumber kemajuan. Mereka mengirimkan delegasi ke Eropa dan Amerika Serikat (AS) guna mempelajari sistem pendidikan di sana.

Jepang ingin meniru sistem pendidikan dari segala lini di Eropa dan AS. Selain itu, kaisar muda Jepang ini memerintahkan penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dalam jumlah besar dari Eropa dan AS ke dalam bahasa Jepang.

Berbekal semangat “bushido” atau semangat kesatria para samurai Jepang yang mengusung motivasi kesetiaan dan kehormatan sampai mati, negara yang pernah dipimpin Keshogunan Tokugawa ini melejit menandingi kemajuan teknologi dan industri yang sebelumnya berkembang pesat di Eropa dan AS.

Selanjutnya, Jepang memulai program industrialisasi dan pembangunan militer yang kuat. Naifnya, Restorasi Meiji ini bukanlah sesuatu mudah dilakukan. Kaisar Meiji harus menghadapi banyak halangan bahkan perang saudara.

Tidak semua orang Jepang pada waktu itu setuju dengan apa yang dilakukan Meiji. Mereka takut Jepang akan meniru Barat dan meninggalkan kejepangannya. Banyak samurai di Jepang yang menolak Restorasi Meiji lantaran khawatir nilai-nilai kejepangannya akan tergerus.

Pada masa itu, tentara Jepang tidak lagi memakai pakaian perang tradisional tetapi meniru pakaian militer Barat, berikut tanda pangkat dan atribut-atributnya. Bahkan Kaisar Meiji dan para stafnya mengenakan jas ala Barat.

Di era globalisasi ini, masyarakat Jepang tetap mempertahankan kejepangannya. Seorang penulis Barat mengatakan: “Secara lahir Jepang adalah Barat, namun secara batin tetap Jepang”.

Secara tidak langsung, keunggulan Jepang dalam teknologi militer, khususnya pada divisi Angkatan Laut dan Angkatan Udara pada awal abad ke-20, menyebabkan mereka jemawa. Apalagi, saat menang perang terhadap Rusia (10 Februari 1904-5 September 1905).

Seperti diketahui, perang Jepang-Rusia merupakan konflik yang sangat berdarah yang tumbuh dari persaingan antara ambisi imperialis Rusia dan Jepang di Manchuria dan Korea.

Manchuria atau Manzhou sendiri adalah sebuah wilayah kuno di sebelah timur laut Tiongkok dekat perbatasan Korea Utara dan Rusia. Manchuria sekarang ini meliputi provinsi-provinsi di Tiongkok seperti Liaoning, Jilin, dan Heilongjiang.

Peperangan ini utamanya terjadi karena perebutan Kota Port Arthur dan Jazirah Liaodong, ditambah adanya fasilitas penting jalur rel dari pelabuhan tersebut ke Harbin.

Untuk memperbesar dan mengembangkan tekonologi militernya, Jepang tidak bisa berbuat banyak lantaran terkendala bahan baku yang sangat terbatas.

Sumber daya alam yang minim dan ketersediaan stok bahan bakar minyak menyebabkan negara ini berambisi menginvasi negara-negara di Asia Pasifik yang kaya dengan sumber daya alam.

Inilah cikal bakal meletusnya perang Asia Pasifik dan keterlibatan Jepang dalam PD II, khususnya ketika mereka membombardir pangkalan militer AS di Pearl Harbour guna memuluskan langkah mereka menginvasi negara-negara di Asia Tenggara.

Komentar

Rekomendasi

Bekerja dari Rumah, Mie ‘Kuntilanak’ Bisa Jadi Pilihan Menu Makanan

Jiwa Toast: Kopi di Tangan Kananmu Roti di Tangan Kirimu

FEMME dan CBFW 2020 Ditunda karena Korona, Pecinta Mode dan Peserta Kagumi Keputusan Penyelenggara

Terbuat dari Ramuan Herbal, Warkop di Makassar Ini Sajikan Kopi Anti Corona

Unjuk Gigi Desainer Angkat Budaya Daerah Lewat Kain Kapas di FEMME 2020

Ada Kompetisi Desainer Muda Bidang Fesyen di FEMME 2020, Yuk Buruan Daftar

Doyan Makan Suki? Buruan ke MYKO, Ada Promo ‘Sukipot’

Lemon Grass Series: Kesegaran Baru dari Kopi Soe Panakukkang

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar