Lagi, Pelaku Penyebar Ujaran Kebencian di Bulukumba Dibekuk Aparat

Ujaran Kebencian
Unit Tipeder Polres Bulukumba kembali berhasil meringkus salah seorang pelaku ujaran kebencian atau Hate Speech

Terkini.id, Bulukumba – Unit Tipeder Polres Bulukumba kembali berhasil meringkus salah seorang pelaku ujaran kebencian atau Hate Speech terkait isu gempa dan tsunami di Bulukumba.

Pelaku berinisial MR (15) diringkus setelah pelaku memposting status yang bernada ujaran kebencian pada 1 Oktober 2018 lalu, di mana dalam akun FB miliknya bernama Muh Rysal seperti dikutip terkini.id, pelaku menulis “YA ALLAH MUDAH MUDAHAN GEMPAKI KAJANG DAN LAIN2 DAN DI IRINGI SUNAMI,MATEMATENNU MANGE”.

Sontak warganet pun dibuat marah dan geram. Bahkan di antara warganet sudah ada yang berniat mencari pelaku.

Menghindari hal tersebut Kasat Reskrim Bulukumba langsung memerintahkan Unit Tipider untuk melakukan penyelidikan dengan mencari pelaku.

Melalui Bhabinkamtibmas Desa Bonto Baji Brigpol Supriadi, pelaku diketahui beralamat di Dusun Kampung Baru, Desa Bonto Baji, Kecamatan Kajang.

Bhabinkamtibmas Desa Bonto Baji, Brigpol Supriadi, mendatangi keluarga pelaku dan meminta agar pelaku segera menyerahkan diri.

Berselang beberapa hari kemudian, keluarga pelaku akhirnya bersedia menyerahkan pelaku ke Unit Tipider Polres Bulukumba pada Kamis 11 Oktober 2018.

Baca :Berhenti tebar kebencian di Medsos, Polisi bisa melacaknya

“Ini hasil dari penyelidikan kami sendiri, bukan dari laporan resmi warga seperti kasus pelaku pembuat hoaks yang ditangkap kemarin,” ujar Kanit Tipider, Bripka Ahmad Fathir.

Dari hasil penyelidikan sementara, pelaku mengakui perbuatannya. Menurut pelaku MR dirinya membuat status tersebut karena kesal setelah ada isu bahwa Jembatan Rawoa di Kajang terputus akibat adanya gempa, dan setelah mengecek ternyata tidak benar.

Kesal karena merasa dibohongi, pelaku memposting status di akun Facebooknya yang bernada ujaran kebencian.

Akibat perbuatannya, pelaku dijerat Undang-Undang ITE dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara, namun karena pelaku masih di bawah umur maka penyidik menggunakan Undang-Undang Sistem Perlindungan Anak.

Kapolres Bulukumba menyayangkan banyaknya isu hoaks dan ujaran kebencian dan pelakunya umumnya anak-anak di bawah umur. Menurutnya hal tersebut tidak bisa dibiarkan karena dapat membuat resah dan juga menimbulkan konflik.

“Sekali lagi saya meminta masyarakat tidak sembarang membuat atau menyebar berita hoaks dan juga membuat status bernada ujaran kebencian,” ujarnya.

Kapolres juga berharap masyarakat senantiasa berhati-hati menggunakan media sosial, jangan sampai hanya karena iseng namun berakibat fatal karena dapat terjerat hukum.