Oleh Mahasiswi UGM, Kotoran Sapi Jadi Biogas, Seperti Apa Ya?

Terkini.id, Jakarta – Dalam kotoran sapi yang kadang kala membuat orang merasa jijik, rupanya terkandung material organik yang sangat sempurna untuk proses pembuatan biogas.

Biogas ini dihasilkan dengan cara mengolah limbah kotoran sapi menjadi gas memiliki kandungan gas metana sebesar 55 – 65 %. Selain itu, gas ini juga mengandung panas sebesar 600 BTU/cubic foot.

Dilansir dari laman web Media Keuangan milik Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI, 14 April 2022 Lalu. Semua berawal dari permasalahan limbah kotoran pada peternakan sapi yang dikelola oleh Lathifa Putri Afisna yang kerap disapa Putri itu.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Ova Emilia : Rektor UGM Periode 2022...

Putri merupakan awardee LPDP  yang telah lulus studi S2 nya di Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM). Putri saat ini berprofesi sebagai Dosen Teknik Mesin di Institut Teknologi Sumatera (ITERA).

Selain itu, Putri juga menjadi Ketua Kelompok Keahlian Konversi Energi ITERA. Teknologi biogas adalah salah satu hasil dari penelitiannya. Teknologi ini telah diaplikasikan di sebuah peternakan sapi yang bernama Sanjaya Farm.

Baca Juga: Kebohongan Lili Pintauli Tak Dapatkan Sanksi Dewan Pengawas KPK, Pukat...

Sanjaya Farm merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pertanian dan peternakan sapi yang berlokasi di Bandar Lampung, dikelola oleh Putri serta sang suami.

Dalam perjalanannya, usaha ini sering mendapatkan berbagai tantangan dan permasalahan terutama terkait dengan limbah yang dihasilkan oleh sapi.

Situasi sulit tersebut justru mendorong Putri membuat sebuah teknologi yang dapat mengkonversi limbah kotoran sapi menjadi energi biogas.

Baca Juga: Kebohongan Lili Pintauli Tak Dapatkan Sanksi Dewan Pengawas KPK, Pukat...

Putri pun mulai menunjukkan ketertarikannya dalam bidang teknologi konversi energi. Dengan teknologi ini, limbah kotoran sapi dapat diubahnya menjadi energi biogas.

Menurut hukum kekekalan energi, energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Karena itu, dibutuhkan teknologi yang dapat mengubah energi dari bentuk satu ke bentuk lainnya, disebutlah sebagai teknologi konversi energi.

Mengenal biogas, rupanya energi gas yang satu ini dapat dipakai untuk keperluan memasak sehari-hari. Tak hanya itu, biogas juga dapat diolah untuk dijadikan sebagai energi listrik alternatif, namun untuk mengubahnya menjadi energi listrik alternatif bagi Putri hal tersebut tidaklah mudah.

Putri mengaku mengalami kendala dalam proses kompresi biogas ke dalam tabung gas agar menjadi energi listrik. Sehingga Putri akan selalu membutuhkan saran dari para ahli biogas.

“Karena kan ini perlu di kompres ke dalam tabung gas, karena untuk sebuah konversi jadi biogas menjadi energi listrik itu menggunakan genset. Itu membutuhkan tekanan yang stabil. Jadi tekanan stabil ini kita dapat dari tekanan yang dihasilkan tabung biogas,” jelas Putri pada Kemenkeu.

Dengan adanya pemanfaatan biogas, tentu hal ini akan sangat mendukung permasalahan limbah yang dihasilkan oleh sapi. 

Dari teknologinya ini, Putri sangat berharap peternakan-peternakan sapi di seluruh dunia tidak membuang secara cuma-cuma kotoran sapi yang mereka hasilkan tiap harinya, melainkan dapat dimanfaatkan agar menjadi biogas, hingga akhirnya tidak mencemari lingkungan.

Bagikan