Mahasiswa sebagai solusi

Mahasiswa sebagai Solusi oleh AM Muslihin

Terkini.id, – Mahasiswa merupakan generasi penerus bangsa yang menyandang predikat agen perubahan sosial. Statusnya yang tinggi berkonsekuensi pada suatu tanggung jawab yang sangat besar.

Menyikapi tanggung jawab mahasiswa pada masa mendatang itu, mahasiswa memiliki tiga tugas sekaligus, pertama, penguasaan ilmu secara sungguh-sungguh. Kedua, membangun spiritualisme dalam dirinya dan, ketiga, membangun spiritulisme dalam masyarakatnya (Syahrin Harahap: 2005)

Pergulatan panjang sejarah bangsa Indonesia, tidak dapat dipisahkan dari peran aktif pemuda dan mahasiswa. Hal ini dapat dibaca dari rentetan kejadian-kejadian yang sangat penting dalam catatan sejarah bagsa Indonesia.

Sejarah telah mencatat dengan tinta emas, peran mahasiswa dari masa ke masa, dalam mendialektikakan pergumulan panjang lahirnya bangsa Indonesia.

The Agent of Change. Itulah yang sering kita dengar dan populer ketika mendengar sebutan mahasiswa, terlebih lagi setelah keberhasilan menggulingkan rezim Soeharto atas nama mahasiswa tahun 1998 silam.

Baca juga:

Bila kita cermati hal ini tak lepas dari aksi turun ke jalan ( Demo ) baik yang di lakukan oleh sejumlah elemen bangsa maupun mahasiswa. Namun aksi-aksi seperti ini mulai kehilangan Ruh perjuangan dan mendapatkan simpatik dari masyarakat.

Aksi demo seperti menutup jalan umum, membakar ban di tengah jalan ini menyebabkan pengguna jalan mulai resah terhadap aksi demo yang di lakukan sekalangan elemen masyarakat dan mahasiswa.

Apa yang menjadi tuntutan elemen masyarakat yang melakukan aksi demo untuk memperbaiki nasib rakyak seakan tidak didengar dan digubris oleh kaum-kaum penguasa di negeri ini,.

Yang jadi pertanyaan, mengapa aksi turun ke jalan tidak di gubris oleh kaum penguasa? Menurut beberapa analilis ini di senyalirkan karena Gerakan Mahasiswa masih labil dan prematur akan hasil berpikir. Artinya, konsep yang ditawarkan mahasiswa tidak matang dan siap pakai. Mahasiswa hanya bisa menjatuhkan, namun tidak memberi solusi lebih baik setelahnya.

Hal ini bisa jadi disebabkan karena kelompok-kelompok atau organisasi kemahasiswaan saat ini tidak memiliki paradigma yang jelas dalam berpikir dan bertindak. Karena tidak mengacu pada kerangka paradigmatik yang baku, upaya merumuskan dan membangun kerangka nilai yang dapat diukur secara sistematis dan baku, sehingga organisasi mahasiswa seringkali dihadapkan pada berbagai penafsiran atas nilai-nilai yang menjadi acuan yang akhirnya berujung pada terjadinya keberagaman cara pandang dan tafsir atas nilai tersebut.

Sementara Paradigma merupakan sesuatu yang vital bagi pergerakan organisasi, karena paradigma merupakan titik pijak dalam membangun konstruksi pemikiran dan cara memandang sebuah persoalan yang akan termanifestasikan dalam sikap dan dan perilaku yang terorganisir.

Disamping itu, dengan paradigma ini pula sebuah organisasi akan menetukan dan memilih nilai-nilai yang universal dan abstrak menjadi khusus dan praksis operasional yang akhirnya menjadi karakteristik sebuah organisasi dan gaya berpikir seseorang.

Dengan paradigma yang jelas tentu akan menghasilkan satu pemikiran yang tidak hanya mengkritik namun mampu menghadirkan solusi. Idealisme dapat terjelmakan dalam satu tindakan yang solutif tanpa merugikan siapapun.

Maka dari itu, melihat hal ini tentu membangun satu kerangka paradigmatik yang sistematis dan baku adalah salah satu solusi yang paling tepat untuk kemudian di lakukan oleh teman-teman aktivis. Dengan harapan agar elemen-elemen mahasiswa mampu kembali kepada khittahnya sebagai penyandang gelar Mahasiswa agar gerakan-gerakan yang dilakukan tidak lagi dianggap labil dan prematur dalam berpikir

Namun karakter kritis dan idealis betul-betul termanifestasikan kedalam sikap dan cara berpikir mahasiswa. Dan membuktikan bahwa apa yang di katakan oleh Syahrin Harahap adalah benar dengan cara melakukan tugas-tugas yang telah di sebutkan.

Tentu hal itu hanya akan terjadi jika para aktivis telah menemukan satu paradigma yang tepat untuk kemudian mereka jadikan acuan. Dan tentu paradigma itu juga hanya akan ditemukan jika mahasiswa masih menjaga budaya diskusi serta kepekaan terhadap dinamika yang sedang terjadi di tengah masyarakat, sehingga paradigma yang kemudian di susun adalah sesuatu yang sesuai dengan kondisi zaman sehingga mampu memberikan satu pandangan yang solutif tanpa harus bertentangan dengan perkembangan zaman.

Komentar

Rekomendasi

Pesan-Pesan Ramadan dari New York

Vaksin Lebaran

Idul Fitri dan Fitrah Cinta

Memaafkan dan Dimaafkan

Keluarga Dokter

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar