Mahasiswa Teknik dan MIPA Unhas Ciptakan Inovasi Pemancar Sinyal Darurat Bencana Alam

Unhas
Mahasiswa Teknik dan MIPA Unhas Ciptakan Inovasi Pemancar Sinyal Darurat Bencana Alam

Terkini.id, Makassar – Bencana alam merupakan peristiwa yang tidak bisa untuk kita remehkan. Bencana alam bisa terjadi kapan saja. Dan Bencana alam tentu harus mendapatkan perhatian yang lebih untuk bisa kita antisipasi dimana saja.

Sebagai rangkaian Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Karsa Cipta, Mahasiswa Fakultas Teknik (FT) dan Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) Universitas Hasanuddin, menginisiasi inovasi COMEL (Casing SOS Smartphone MIllenial) yang terbilang sangat baru, unik, dan tepat sasaran.

Inovasi tersebut untuk mengantisipasi bencana alam dengan cara menciptakan pemancar sinyal darurat yang ditanamkan di casing Handphone setiap orang.

Ketiga Mahasiswa yang berasal dari berbagai disiplin ilmu ini diantaranya Fauzan Alif Anwar (Teknik Informatika), Muhammad Zul Fahmi Sadrah (Teknik Informatika), serta Amalia Widyanis (Fisika).

Ketiganya mencoba memberikan jawaban inovatif dari permasalahan pencarian korban bencana alam kepada masyarakat.

Bencana alam bisa meliputi gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, dan lain-lain. Biasanya, bencana alam menelan korban yang tak sedikit, entah itu bisa dipastikan tewas ataupun hilang.

Hal inilah yang mendasari Kelompok Mahasiswa tersebut untuk bisa berinovasi dari alat yang tak asing dari masyarakat umum, yaitu dari Casing HP (casing gadget) sebagai pemancar sinyal darurat pemberitahu lokasi korban bencana alam kepada tim evakuasi nanti.

“Inovasi dari Program PKM kami yaitu dengan memanfaatkan casing HP dari masyarakat sebagai pemancar sinyal darurat di saat bencana alam terjadi,” kata Fauzan Alif Anwar selaku Ketua Tim, Sabtu, 18 Mei 2019.

“Kita tahu, bencana alam adalah peristiwa yang harus selalu kita waspadai karena sifatnya yang tak pasti, maka casing HP ini didesain dan dirancang untuk bisa memberitahukan lokasi korban dengan teknologi RFID (Radio Frequency Identification), dimana RFID ini tidak akan terpengaruh oleh hilangnya sinyal seluler pasca terjadinya bencana alam,” terangnya.

Lebih lanjut, Muhammad Zul Fahmi Sadrah menambahkan bahwa teknologi ini nantinya bisa ditanamkan disemua casing gadget masyarakat, karena ukuran asli dari RFID ini ada berbagai macam, namun untuk COMEL ini, teknologi RFID yang ditanamkan kurang lebih hanya setebal kartu ATM.

“Karena teknologi RFID sebenarnya sudah cukup maju dan sudah sering digunakan di berbagai aspek fasilitas, maka ketebalan yang berdampak pada casing HPnya nanti tidak akan mengganggu pada perilaku penggunaan HP nantinya,” ujarnya.

“Kita bisa memastikan COMEL dan casing HP biasa lainnya sulit untuk dibedakan, karena teknologi RFID yang ditanamkan kurang lebih hanya setebal kartu ATM,” sambungnya.

Tim didamping Dosen Pendamping, Dr Indrabayu

Dr Indrabayu, sebagai Dosen Pendamping dari tim PKM-KC ini juga rutin dan memonitoring langsung progress dari inovasi COMEL ini.

“COMEL ini adalah inovasi yang sangat mudah, namun masih tak terpikirkan dan berdampak besar bagi masyarakat nantinya. Casing juga merupakan peralatan wajib entah memang untuk melindungi hp, ataupun sebagai fungsi estetika hp itu sendiri,” ujarnya.

“Kita terus memonitoring progress dari teknologi ini agar bisa dinikmati oleh masyarakat secepatnya karena teknologi ini masih dalam tahap Prototype,” sambungnya.

Prinsip kerja dari COMEL ini sendiri adalah menanamkan RFID tag pada casing HP yang nantinya disebarluaskan di produk pasar. Dan RFID readernya akan digunakan oleh tim evakuasi untuk mendeteksi dimana saja RFID tag mengirim feedback sinyal yang dipancarkan oleh RFID reader.

Amalia Widyanis juga menambahkan tim terus menghitung dan meng-follow up berapa estimasi jarak sinyal RFID akan terdistorsi, material apa saja yang mengurangi kekuatan feedback sinyal, dan waktu hidup efektif baterai yang ditanamkan kepada RFID tag tadi.

“Harapannya inovasi teknologi ini bisa cepat terealisasi dan memilki keberlanjutan agar membantu tim evakuasi dalam mencari korban bencana alam dengan waktu seefisien mungkin,” pungkasnya.

Berita Terkait