Mahasiswi UGM Diperkosa: Diungkap Pers Kampus, Pelaku Tak Bisa Disanksi

Pemerkosaan
Ilustrasi korban pemerkosaan. (foto: Ist)

Terkini.id – Kasus pelecehan seksual dialami seorang mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM), saat melakukan KKN di Maluku, pada Juni 2017 lalu.

Korban, yakni Agni (bukan nama sebenarnya), mengalami pelecehan seksual oleh temannya sendiri di lokasi KKN tersebut.

Ironisnya, berjalan lebih setahun kemudian, Agni yang melaporkan peristiwa tersebut ke pihak otoritas kampus, tidak mendapat pembelaan. Pelaku bahkan tidak dihukum.

Diungkap Pers Kampus

Kasus ini mencuat setelah Badan Pers Mahasiswa Balairung UGM menerbitkan reportase soal kasus pemerkosaan yang terjadi saat KKN di Maluku.

Media pers tersebut mengungkapkan, Agni (bukan nama sebenarnya) yang melakukan KKN di Pulau Seram, Maluku, mengalami pelecehan seksual oleh rekan sesama kampus berinisial HS.

Menarik untuk Anda:

Peristiwa tersebut terjadi pada Juni 2017.

Laporan itu menyebutkan, HS melakukan kekerasan seksual tersebut pada 30 Juni 2017 di sebuah pondokan.

Setelah kejadian malam tersebut, korban mengaku menghubungi rekannya di Yogyakarta dan kemudian menyarankan melaporkan ke beberapa pihak terkait.

Laporan itu pihak kampus dengan mengirimkan beberapa utusan. Sepekan kemudian, HS ditarik dari lokasi kejadian, pada 16 Juli 2017.

Pada Desember 2017, korban memberanikan diri melaporkan ke sejumlah pejabat dilingkup Fisipol, hingga akhirnya laporannya masuk rektorat.

Kampus Tidak Bisa Beri Sanksi

Agni yang hendak mengungkap kasus pelecehan tersebut, justru tidak mendapat pembelaan. Dia malah mendapat nilai C untuk mata kuliah KKN.

Ironisnya, pihak kampus tidak berbuat apa-apa kepada HS.

Alasan kampus yang tidak menindaki HS dan tidak mengeluarkannya, karena ada prosedur pengajuan aduan ke komite etik UGM.

Direktur Rifka Annisa, Suharti, melalui rilisnya, menjelaskan, kampus-kampus seperti UGM selama ini memang sulit mengungkap kasus-kasus pelecehan seksual di kampus.

“Karena didasarkan pada pertimbangan nama baik kampus dan lemahnya komitmen civitas akademika untuk memberi perlindungan dan pemenuhan rasa keadilan bagi korban,” kata dia.

Berdasarkan temuan Rifka Annisa, belum ada kampus di Yogyakarta, termasuk UGM, yang punya aturan soal pelecehan seksual, seperti sanksi bagi pelaku. Kebanyakan kasus yang terungkap cuma diselesaikan lewat jalur damai, tanpa sanksi tegas.

Pernyataan UGM

Sementara itu, Kabid Humas dan Protokol UGM, Iva Ariani, menjelaskan, pihak UGM bakal membawa kasus tersebut ke ranah hukum.

“Tim investigasi juga telah memberikan rekomendasi ke pimpinan universitas,” jelas Iva, seperti dilansri dari tribunnews.

Rekomendasi yang dimaksud Iva, adalah evaluasi nilai KKN, pemberian hukuman serta pemberian konseling psikologi.

Iva juga memastikan bahwa UGM akan melindungi korban dan memastikan ia mendapatkan keadilan.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Pemerintah Tetapkan Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2021, Ini Daftarnya

Sri Mulyani Tambah Rp 3,5 T Anggaran Covid-19, Termasuk untuk Sewa Hotel Isolasi Mandiri

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar