Mahavir Singh Phogat, Potret Seorang Ayah yang Melawan Patriarki

Laki-laki dan perempuan dilahirkan sama, tak ada satu kelamin yang lebih berkuasa di atas yang lain. Lalu budaya patriarki datang merasuk dan menindas. Tugas kita semua jangan beri jalan patriarki berumur panjang. Sebab setara adalah keniscayaan.

Perempuan tidak perlu sekolah tinggi, perempuan pada akhirnya menikah dan punya anak, perempuan di dapur saja, sumur, dan kasur, perempuan itu lemah, perempuan tidak perlu memiliki cita-cita, dan segala hal yang menempatkan perempuan di bawah laki-laki. Adalah stereotip gender yang masih lalu lalang dan tumbuh subur dalam masyarakat kita. Stereotip gender yang mesti kita runtuhkan.

Geeta dan Babita adalah dua anak perempuan yang awalnya merasa terperangkap dan sangat tersudutkan oleh harapan ayahnya sendiri, Mahavir Singh Phogat yang diperankan oleh Aamir Khan dalam film Dangal (2016). Masa kanak-kanaknya seperti dirampas begitu saja.

Baca Juga: Cegah Lonjakan Covid-19 Saat Ramadan di Indonesia, DPR Minta Pemerintah...

Dangal sendiri diangkat dari kisah nyata yang disutradarai oleh Nitesh Tiwari dan diproduksi Walt Disney Pictures, Aamir Khan Production dan UTV Motion Pictures.

Mahavir Singh Phogat menginginkan anak laki-laki untuk dapat mewujudkan mimpinya. Berjalannya waktu, ia dikarunia empat anak yang semuanya perempuan. Impiannya perlahan dilupakannya. Namun, suatu hari Geeta dan Babita membuat ulah dengan memukul anak laki-laki karena diganggu hingga babak belur. Dari situlah tumbuh ambisi menjadikan Geeta dan Babita menjadi pegulat.

Baca Juga: Sebut UAS dan AA Gym, Sosok ini Beber Biaya Caleg...

‘’Ayah macam apa yang membuat putrinya menjadi pegulat? Menyuruh melawan laki-laki. Semoga Tuhan tak memberi siapapun ayah seperti itu,’’ keluh Geeta dalam puncak kekecewaannya pada ayahnya.

Tak ada yang mendukung ambisi Mahavir Singh menjadikan kedua putrinya pegulat. Dia dicemooh hingga dianggap gila dan kejam. Katanya, gulat itu untuk anak laki-laki. Terlebih ambisi tersebut untuk meneruskan cita-citanya mempersembahkan medali emas untuk negaranya. Cita-cita yang tidak bisa digapainya sebab harus pensiun dari dunia pergulatan karena desakan ekonomi.

Mahavir Singh memang sangat tegas terhadap kedua putrinya tersebut. Jadwal latihan yang disiplin, pola makan yang dijaga ketat, hingga sedikit demi sedikit mulai mengikutkan Geeta dan Babita dalam perlombaan.

Baca Juga: Terungkap, Berikut 7 Rekomendasi Bisnis yang Menjanjikan Saat Ramadan

Pertama mengikuti lomba, Geeta sudah mendapatkan banyak diskriminasi gender. Sempat ditolak oleh panitia lomba, mendapatkan beberapa pelecehan seksual verbal dari penonton ketika pergulatan berlangsung, bahkan dipandang rendah oleh wasit sendiri yang meminta lawan untuk sedikit mengalah karena lawannya perempuan.

Kecintaan Geeta dan Babita pada gulat akhirnya tumbuh ketika keduanya sadar apa yang ayahnya lakukan tersebut adalah upaya mendobrak angka pernikahan dini yang tinggi bagi perempuan dalam masyarakat sekitarnya. Seperti kata kawannya Sanita yang hendak dinikahkan.

‘’Aku berharap Tuhan memberiku ayah seperti itu. Setidaknya ayahmu memikirkan kalian. Kalau tidak kehidupan kita, begitu anak perempuan lahir ajari dia memasak dan bersih-bersih. Suruh dia melakukan semua tugas rumah tangga dan begitu berusia 14 kawinkan dia. Singkirkan beban itu dan serahkan dia kepada laki-laki yang tak pernah dilihat sebelumnya. Buat ia mengandung dan membesarkan anak-anaknya. Setidaknya ayahmu menganggapmu anaknya. Ia berjuang melawan seluruh dunia. Ia diam saja membiarkan ejekan orang lain. Mengapa? Agar kalian memiliki masa depan, memiliki kehidupan,’’ ujar Sanita berderai air mata dalam riasan pengantinnya.

Air mata Sanita menggambarkan bahwa ia perempuan juga memiliki cita-cita yang merah. Hendak diwujudkan dengan kelana hingga gerilya di belantara. Menempuh jarak dalam sebuah perjalanan, melaju dengan kecepatan yang telah dirumuskan menuju bahagia ditujuan. Sayang, dipadamkan patriarki.

Geeta dan Babita tak ingin bernasib sama dengan Sanita. Keduanya kian gigih berlatih. Mengikuti perlombaan demi perlombaan hingga ada jalan untuk mengikuti gulat tingkat nasional.

Diskriminasi gender kembali menghampirinya. Mahavir Singh menghadap dan meminta izin kepada pihak sekolah untuk memberi cuti kepada Geeta agar dapat fokus latihan. Pihak sekolah tak mengizinkan, sebaliknya akan dipertimbangkan jika cutinya untuk menikah.

Mahavir Singh melatih dengan sangat baik dan gigih kedua putrinya. Hingga mengantarkan keduanya bergabung di National Sports Academy (NSA) India. Mengantarkannya semakin dekat dengan kejuaraan international. Kerap menang tapi berkali-kali juga kalah.

‘’Itu akan menjadi kemenangan bagi tiap gadis yang dianggap lebih rendah dibandingkan anak lelaki, yang dipaksa melakukan pekerjaan rumah tangga, yang dinikahkan hanya untuk membesarkan anak, sebab besok kau tak hanya melawan orang Australia, tapi semua orang yang memandang perempuan lebih rendah,’’ ujar Mahavir Singh ketika ditanya siasat oleh Geeta kala hendak melawan rivalnya di Commonwealth Games esok hari.

Geeta memenangkan emas di kategori 55 Kg di Delhi Commonwealth Games tahun 2010. Sementara Babita meraih medali perak di kategori 51 Kg. Di tahun 2012, Geeta menjadi pegulat wanita India pertama yang lolos ke olimpiade. Sementara Mahavir Singh, usahanya kini menjadi inspirasi 1000 wanita India untuk menjadi pegulat.

Bagi saya Mahavir Singh adalah ayah yang hebat. Ia mengajarkan kepada anak perempuannya bahwa konstruksi sosial yang menyudutkan perempuan memang harus dilawan. Ia adalah potret seorang ayah yang memiliki kesadaran kesetaraan gender dan turut andil melawan budaya patriarki.

 

 

 

Sponsored by adnow
Bagikan