Makna bambu bagi masyarakat Toraja

Foto : Debra Ayudhistira

MAKASSAR – Bagi masyarakat Toraja, bambu bukan hanya sekedar tumbuhan yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari. Lebih dari itu, bagi masyarakat Toraja bambu memiliki ikatan yang mengiringi kelahiran hingga kematian manusia.

Billa’ yang artinya sembilu dari bambu dahulu digunakan untuk mengiris tali pusar bayi yang baru lahir. Lakkean, keranda jenazah yang terbuat dari bambu juga digunakan untuk mengantarkan manusia ke tempat peristirahatan terakhir.

Ada beberapa jenis tanaman bambu yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Toraja. Betung, bambu yang warnanya masih hijau dan berukuran besar oleh masyarakat Toraja digunakan sebagai tiang penyangga rumah, dinding, dan lantai rumah masyarakat Toraja.

“Bambu sejak dulu digunakan sebagai atap rumah dan lumbung padi bagi masyarakat Toraja,” kata peneliti bidang sejarah di Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan, Simon Siru’a Sarapang kepada MAKASSARTERKINI.com Rabu 4 Januari 2017.

Betung juga bisa digunakan sebagai panggung jenazah atau usungan mayat yang disebut parrin. Fungsi lain dari betung adalah sebagai lettoan, yakni aram-aram babi untuk upacara adat rambu tuka’. Menjadi lakkean (keranda jenazah) maupun sebagai panggung jenazah dalam upacara kematian rambu solo’.

Bambu ao’ yang berwarna kekuning-kuningan yang sering digunakan tempat untuk membakar ternak sembelihan dalam acara syukuran rambu tuka’ (ritual leluhur). Jenis bambu ini, kata Simon berukuran kecil dengar ruas yang cukup panjang.

“Biasanya digunakan untuk masak nasi atau daging yang dibakar,” jelas Simon. Daging yang dimasak dalam bambu tersebut ditujukan sebagai sesembahan kepada leluhur masyarakat Toraja yang masih mengikuti ajaran Alok to Dolo’.

Sedangkan bulo (bambu kecil) biasa digunakan sebagai seruling (suling te’dek) oleh orang-orang dulu dan sebagai tuang-tuang sejenis hiasan dalam upacara adat tertinggi masyarakat Toraja.

Debra Ayudhistira

Berita Terkait
Komentar
Terkini