Masuk

TKI Wajib Baca! Malaysia Krisis, Warganya Malas Kerja di Sektor Perkebunan Kelapa Sawit yang Dikuasai Pekerja Asing

Komentar

Terkini.id, Jakarta – Industri kelapa sawit Malaysia sangat bergantung pada tenaga kerja asing karena warga setempat tidak tertarik dengan pekerjaan di bidang perkebunan. Tenaga kerja asing mencapai 80 persen dari total tenaga kerja di perkebunan kelapa sawit.

Namun, keadaannya sekarang Malaysia diterpa krisis tenaga kerja asing. Diler Kargo Surveyor Societe Generale de Surveillance mendata bahwa ekspor crude palm oil atau CPO Malaysia periode 1-15 April 2022 anjlok 13.9 persen ke 495.096 ton dari 574.893 ton di periode 1-15 Maret 2022.

Direktur Asosiasi Pemilik Perkebunan Kelapa Sawit Sarawak atau SOPPOA Felix Moh mengatakan, isu naiknya upah bagi tenaga kerja di perkebunan CPO akan membebani perusahaan swasta. Anggota SOPPOA Malaysia pun tak menyanggupi kenaikan upah senilai MYR1.500.

Baca Juga: Media Asing Sebut Putin Tidak Akan Hadir Dalam KTT G20

“Meskipun harga CPO sedang melonjak, tapi biaya lain seperti pupuk dan bahan kimia juga meningkat 100% jika dibandingkan dengan tahun lalu. Selain itu, semua operasi perkebunan berjalan dengan kapasitas hanya 50% karena krisis tenaga kerja,” terang Felix Moh ditulis CNN Indonesia, Selasa, 19 April 2022 dari The Borneo Post.

“Dalam skenario terburuk, biaya produksi yang tinggi dapat menyebabkan perusahaan sulit mempertahankan neraca positif jika ada penurunan yang drastis dari harga CPO di bawah MYR4.000/ton,” lanjut Felix Moh.

Seperti diketahui Malaysia merupakan pemasok minyak CPO terbesar dunia, tapi melihat krisis tenaga kerja asing, biaya produksi yang tinggi, ditambah upah minimum yang meningkat, akan menjadi sentimen negatif pada pasar minyak nabati.

Baca Juga: Perdana Menteri Kanada Anggap Putin Telah Gagal Invasi Ukraina

Dari data Dewan Minyak Sawit Malaysia diketahui minyak sawit menyuplai sekitar 32 persen dari permintaan minyak nabati dunia pada 2021. Malaysia telah menyumbang hingga 24 persen minyak sawit dunia pada tahun tersebut.

Adapun minyak sawit berjangka Malaysia sempat naik di perdagangan karena mengikuti harga minyak nabati lainnya di bursa Dalian China. Hal dikarenakan kecemasan yang berkepanjangan atas pengetatan suplai global akibat perang Rusia Ukraina.

Di bursa Dalian, kontrak minyak kedelai berakhir naik 0,57 persen. Dan harga kedelai di Chicago Board of Trade melesat 1,09 persen.

Akan tetapi harga CPO kembali turun dan berakhir terkoreksi tipis 0,08 persen ke MYR 6.463 per ton. Artinya, harga minyak sawit berpengaruh pada pergerakan harga minyak nabati lainnya karena mereka bersaing untuk memperoleh bagian di pasar minyak nabati dunia.