Jadilah bagian dari Kolomnis makassarterkini
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis makassarterkini.

Masa Depan Kitab Suci

Wahyuddin Halim
Wahyuddin Halim
ask-a-muslim.com

Terkini.id – Sepanjang sejarah, kitab suci sudah sering menjadi objek bully kaum ateis, agnostik, apologetik, orientalis, filsuf, saintis, novelis, kartunis dan tentu saja politisi.

Akan tetapi, para pemeluk agama terus saja meyakini dan mencintai kitab suci mereka dg teguh. Mereka tak serta-merta jadi peragu apalagi murtad hanya karena ulah para penista. Walau tentu saja mereka seringkali kelewat reaktif atau marah-marah.

Para penista boleh bebas mencibir kitab suci sekedar fiksi, karangan manusia, igauan nabi, ayat-ayat setan, isinya penuh inkoherensi, tidak ilmiah atau tak suci sama sekali.

Tapi, bagi para pemeluk agama, kitab suci bukan saja pengaktif imaginasi, pemantik inspirasi, penunjuk telos-destinasi & pengabar eskatologi. Di atas segalanya, ia adalah salah satu alasan utama untuk tetap beragama.

Ancaman terbesar bagi kesucian dan keagungan kitab suci mungkin bukan para –tertuduh– penista yang muncul setiap saat. Tapi, justru karena semakin sedikitnya pembaca, penafsir dan penghayatnya yg tulus dan serius.

Semakin lama, kitab suci menjelma menjadi sekadar simbolisme agama yg pasif dan tak-tersentuh atau jimat (totem) untuk amuk kolektif terhadap yang lain. Banyak yang reaktif membela wujudnya, tapi pasif menghela maknanya.

Baca :Mau jadi pejabat di daerah ini ?, syaratnya harus bisa baca Alquran

Ketika kitab suci tak lagi jadi pemantik relasi intim dengan yang ilahi, pekabar kebenaran metafisik, penajam pengalaman mistis, penguat identitas komunal, dan pemandu praktik spiritual, saat itulah ia bakal senasib dg buku-buku klasik dunia yang mendiami rak buku paling berdebu di sudut perpustakaan paling terpencil dan gelap.

Jadi, mau tuding fiksi atau bahkan fiktif sekali pun, bagi para pemercayanya, kitab suci itu tetap diyakini berasal dari Yang Suci (the Sacred), yang adalah Realitas Absolut, dan karena itu ia juga pasti suci lagi mensucikan.

Tulisan ini adalah kiriman dari kolumnis makasar terkini, isi dari tulisan ini adalah tanggungjawab penulis yang tertera, tidak menjadi bagian dan tanggungjawab redaksi makassar.terkini.id
Editor : Hasbi Zainuddin