‘Memeluk’ Aspal dalam Holiday Pasapeda IKA SMP13 Tahun 2021

Tulisan ini adalah kiriman dari Citizen, isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
Laporkan tulisan
Gowes

terkini.id-Makassar,  Pagi  ini jarum jam berdetak  menunjukkan angka 06.30 WITA. Almanak telah menunjukkan Hari Sabtu , tanggal 09 Desember 2021, tanpa terasa  peringatan tahun baru Masehi yang telah lewat seminggu silam. 

 

Kulangkahkan kaki menuju tempat rak sepeda yang tergantung di sudut rumah. Sembari melihat ban yang agak mulai menyusut. Tak lupa kutambahkan sedikit tekanan angin melalui pompa yang telah dimakan usia.

 

Nampaknya si kulit bundar ini pun begitu bersemangat seperti merasakan akan memeluk aspal kembali setelah cuaca makassar yang diliputi mendung dan guyuran hujan.

Menarik untuk Anda:

Kukayuh melewati jalanan Aroeppala atau Hertasning Baru.

 

Sekedar diketahui, sosok Aroeppala ini merupakan mantan walikota Makassar, dengan tahun menjabat pada era tahun1959-1962 , Merupakan tokoh masyarakat dari Kabupaten Selayar, sekarang namanya juga diabadikan sebagai nama  Bandar Udara di  Kabupaten Selayar, Provinsi Sulawesi Selatan.

 

Rem cakram sepeda gunung yang mulai renta ini perlahan berdecit begitu kubelokkan mendekati gerbang sekolah SMP Negeri 13.

 

Nampak gedung dengan suasana asri. Pintu gerbangnya masih tergembok.

 

Ahhh, jadi ingat masa sekolah dahulu ketika menjadi petugas piket gerbang hingga penjaga perpustakaan. Sampai acara berbolos ria ataukah sekedar mengikuti kegiatan pendidikan jasmani hingga berdiri didalam ruang BP karena melakukan pelanggaran disiplin dengan merasakan sensasi bertanda tangan pertama kali diatas sebuah buku album berwarna merah.

 

Namun, masa-masa SMP belumlah dikenal arti akan sebuah tandatangan,  bagi kami adalah ‘sekedar’ goresan nama tak lain simbol penanda ciri khas dari akronim nama kami. Teringat model tanda tangan yang untuk ukuran anak SMP sangat beragam dan unik.

Satu persatu peserta sahabat NapakTilas Gowes Alumni IKA 13 mulai berdatangan. Diantaranya nampak Kakanda Fathan, Kakanda Akbar, Kakanda Nining, Kakanda Aswin, Kakanda Edo, Kakanda Mustara, Kakanda Lina, Kakanda Iwan, Kakanda Tuti, Kakanda Mimink dan kakak-Kakak lainnya.

 

Suara gir dan sprocket sepeda mulai bersahutan. Pengelana  gowes santuy IKA SMP13 ini akan melewati beberapa rute yang ada di kota Makassar hingga menyusuri pematang sawah di Kabupaten Gowa.

 

Penasaran, berikut kisahnya gaess.

 

Perjalanan pagi ini dengan ‘gowes santuy’ menyusuri pagi yang tenang di kota daeng.

 

Perlahan tapi pasti, rombongan  melintasi jalan A.P Pettarani kemudian berbelok ke Jalan  Manuruki lalu lanjut ke arah Mallengkeri dan akhirnya melewati jalan Abdul Kadir.

 

Tak satupun lelah yang terpancar dari sosok tim gowes, malahan keceriaan yang seru dan penuh suasana keakraban. Tanpa terasa suasana kenangan kembali menghampiri.

Teringat akan masa SMP di mana jaman sepeda Golden Eagle  hingga  Road Bike Specil ataukah sepeda Lowrider yang biasa disebut dengan sepeda jangkrik, salah satu produk fenomenal yang membanjiri saat itu.

 

Tanpa terasa jembatan penghubung antara Jalan Abdul Kadir ke benteng SombaOpu sudah ditapaki oleh kereta angin para peserta Pasapeda yang tergabung dalam keluarga besar alumni SMPN13 dengan beragam angkatan.

 

Nampak air yang begitu tenang dengan sedikit warna riak  berwarna sedikit kecoklatan memenuhi alur sungai yang membelah jembatan besi ini. Aktifitas beberapa penduduk berseliweran, hilir mudik disamping kami.

 

Senyum khas dan keramahan begitu kental terasa ketika kami berpapasan dengan warga.

 

Mariiikii , tabe…,”sahut kami pada seorang lelaki paruhbaya yang nampak sedang menyiangi tanaman hiasnya pada sebuah hamparan rumput menghijau dengan  jalanan setapak menuju kawasan di dalam benteng Sombaopu.

Nampak rumah rumah adat berjejer yang merupakan replika dari tiap tiap kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan. 

 

Hingga melewati sebuah wahana taman konservasi atau Gowa Discovery Park dan sebuah bangunan kokoh yang bernama Museum Karaeng Pattingalloang.

Sampailah kami di Baruga Sombaopu , tak lupa rombongan meluangkan waktu dengan mengabadikan momen-momen yang begitu indah. Ditemani semburat mentari pagi yang bersinar hangat.

Tak ketinggalan peralatan drone pun dikeluarkan untuk melengkapi dokumentasi pagi ini.

Puas berfoto ria,  rombongan melanjutkan ke arah pinggir benteng Sombaopu dengan rute ke arah kanan mengikuti jalan setapak dengan batako sebagai jalanannya hingga melewati jalanan yang berbatu. Terus menyusuri sisi sungai Jeneberang dan akhirnya kami pun sampai di tepian jembatan Barombong.

 

Pemandangan jalanan sedikit berubah  dengan lalu lalang kendaraan berbagai jenis melewati rangkaian besi yang menghubungkan kota Makassar dan Kabupaten Gowa dan Kabupaten Takalar.

 

Rombongan mengayuh dengan perlahan, kemudian belok ke kiri dari penghujung jembatan.

 

Terus menyusuri tepian sungai Jeneberang dengan pemandangan perahu tradisional di sisinya.

 

Nampak beraneka model dinding perahu yang dicat warna warni dengan dasar putih.

 

Tak terasa, di ujung aspal nampak sebuah warung kuliner dengan tampilan sederhana , asap mengepul dari panci besar dengan aneka daging dan tulang kikil.

 

Bunyi sendok beradu dengan piring bersanding suara dari pelanggan sewaktu menyeruput sedotan bak alunan tangga nada yang memanggil.

 

Warung Sop  Saudara dan Sop Kikil  ‘Kanayya’ demikian nama yang disandang warung dengan tampilan sederhana tersebut. Namun soal citarasa begitu menggoda para pelanggan. Salah satu bukti ekonomi kerakyatan yang tetap menggeliat dan bertahan di era Pandemi Covid-19 ini.

 

Soal harga, tentunya sangat terjangkau dikantong para penikmat kuliner lokal di Makassar hingga merambah ke kabupaten tetangga disebelah.

 

Udara perlahan memanas. Perlahan sang Surya  beranjak dari peraduannya bertahta. Mentari siang yang menyengat mulai membakar kulit. 

 

Setelah menikmati hidangan pengganjal perut yang sudah keroncongan,  rombongan Holiday Pasapeda IKA SMP13 perlahan meninggalkan warung tersebut.

Dilanjutkan melalui jalan yang sedikit menanjak, agak terjal menembus jalanan di kabupaten Gowa dengan menyusuri sisi selatan dari sungai Jeneberang.

 

Menelusuri areal  pemukiman dan persawahan  di daerah Tamanyelleng Kabupaten Gowa.

 

Setelah sampai di sebuah pertigaan, arah kereta angin pun melewati jalan turunan , hingga terhampar lah sebuah pemandangan yang membuat penasaran.

 

Rupanya untuk menyeberang ke sebelah , tepatnya di sisi Utara kota Makassar , rombongan harus menggunakan sebuah perahu pincara.

 

Suara mesin perahu perlahan mendekat. 

 

Dengan ukuran yang cukup kapasitasnya mampu memuat beberapa  penumpang beserta kendaraan roda dua.

Dengan para pemakai jasa diantaranya Sepeda motor  hingga sepeda kayuh yang dapat menampung penumpang berjumlah sekitar 15 orang berikut kendaraannya.

Dermaga pincara dijalankan beberapa orang. Diantaranya petugas pengemudi kapal, dan asistennya. Ada juga Pak Haji yang terlihat menghitung bayaran dari setiap penumpang yang akan naik ke perahu penyeberangan.

 

Ooh ya, untuk tarif menyeberang sangatlah terjangkau, dengan kisaran 2000 rupiah per orang.

 

Tali penambat kapal pincara ini pun akhirnya perlahan ditarik. Penumpang pun sudah penuh   di atas kapal ini.

 

Perlahan arus sungai Jeneberang pun nampak tenang nyaris tak beriak.

Sehingga memudahkan pincara ini menembus riak air yang sedikit keruh kecoklatan.

Tanpa terasa, perjalanan penyeberangan yang memakan waktu sekitar 5 menit pun akhirnya membawa rombongan gowes ini tiba di dermaga sederhana, terletak di pertigaan daeng Tata III.

Nampak suasana aktifitas bongkar muat sampah  dari motor roda tiga ke mobil  truk sampah disisi dermaga.

Suasana kehidupan yang tetap berdenyut walau Pandemi covid-19 masih menerpa negeri tercinta kita ini.

 

Perlahan udara siang makin menyengat, meninggalkan kenangan akan rutinitas gowes hari ini.

 

Berpacu dengan keringat yang mengucur pertanda kalori tubuh yang terbakar.

Apakah olahraga ‘demam’ sepeda ini akan tetap berlanjut di tengah masyarakat umum? Semuanya tergantung niatan kita, ditambah juga di era Pandemi ini yang tetap menganjurkan semua lapisan masyarakat agar tetap senantiasa menjaga stamina serta tetap menerapkan protokol kesehatan.

Salam gowes pembaca yang budiman. Salam Pasapeda.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Gempa Magnitudo 6,2 Runtuhkan Gedung dan Fasilitas Umum di Kota Mamuju

Penyidik Gakkum KLHK Serahkan Perdagangan Kayu Ilegal Asal Ambon ke Kejaksaan

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar