Menebak siapa sosok bersorban yang digambarkan dalam kartun Tempo

Terkini.id – Sosok bersorban yang duduk bersama seorang perempuan dalam kartun Majalah Tempo, membuat para anggota FPI melakukan aksi ke kantor Tempo, Jumat 16 Maret lalu.

Dalam kartun tersebut, terlihat seorang yang bersorban tersebut mengatakan, “maaf saya tidak jadi pulang”. Lalu, wanita di depannya yang digambarkan seperti sosok Cinta dalam Film Ada Apa Dengan Cinta itu, mengatakan “kamu jahat!”.

Kalangan FPI menyebut, sosok bersorban yang digambarkan dalam kartun tersebut adalah Imam besarnya, Habib Rizieq Syihab. Meskipun, Tempo tidak menyebut itu Rizieq.

Seorang netizen, Agus Mulyani, menulis analisanya tentang siapa orang paling cocok dengan identitas pria bersorban dalam kartun tersebut:

“Kalau ada orang yang berhak marah atas kartun yang dibikin oleh Tempo ini, maka ia adalah Rangga.

Betapa tidak, dalam kartun tersebut, dari gestur dan dialog, si perempuan sudah jelas adalah Cinta. Bukan Virza. Jadi, otomatis, lelaki di depannya pastilah Rangga, bukan Habib Rizieq.

“Tapi si lelaki kan pakai sorban, itu pasti Habib Rizieq.”

Sejak kapan lelaki bersorban pasti Habib Rizieq? Kawan saya bersorban, dan ia bukan Habib Rizieq. Para guru dan ulama juga banyak yg bersorban, dan mereka bukan Habib Rizieq. Bahkan, Picolo mantan musuhnya Son Goku itu juga bersorban, dan ia bukan Habib Rizieq. Sampai di sini paham, ya?

Kembali lagi ke Rangga.

Dialog “Maaf, saya tidak jadi pulang” jelas dikatakan Rangga karena ia memang butuh waktu lama untuk pulang dari Amerika ke Indonesia, padahal Cinta sudah memunggu sekian lama berkali-kali purnama, bahkan sampai mau nikah segala.

Di titik ini, semakin jelas posisinya.

Soal kartun tersebut, Rangga tentu berhak marah karena sosoknya kemudian diasosiasikan dan disamakan sebagai Habib Rizieq.

Tentu Rangga tak mau.

Semarah-marahnya Rangga, ia hanya pernah berkata kasar kepada mereka yang memecahkan kaca rumahnya dengan melemparnya dengan batu. Sementara Habib Rizieq, ia mengatai presiden goblok, menteri agama sesat, sambil teriak-teriak. Bahkan pernah juga mengatai Gus Dur dengan “buta mata buta hati”.

Rangga jelas tak mau disamakan dengan sosok sekasar itu.

“Etapi sejak kapan Rangga berjubah dan bersorban?”

Ya siapa tahu, selama di Amerika, Rangga ikut jamaah tabligh. Bisa saja kan?”

Berita Terkait