Mengapa Film Wiro Sableng Berbeda dengan Versi Novel?

Scene film Wiro Sableng
Scene film Wiro Sableng

MEMBACA cerita silat Pendekar kapak maut naga geni 212, Wiro Sableng, tentu tidak akan persis sama dengan menonton filmnya.

Makanya sejak semula ingin menonton film si sableng ini, saya sudah bersiap akan kemungkinan perbedaan itu.

Begitulah, perbedaan segera terasa saat film mulai diputar. Imajinasi saya tetang beberapa tokoh seperti yang digambarkan Bastian Tito, ternyata dalam film tampil berbeda. Mahesa Birawa, jauh dari yang saya bayangkan.

Jalan cerita sejatinya menggabungkan antara seri 1 dan kedua dari Wiro Sableng, yaitu empat brewok dari gua sangreng dengan maut bernyanyi di Pajajaran.

Tokoh utama antagonis adalah Mahesa Birawa yang sebenarnya tak lain dari murid pertama Eyang Sinto yang durhaka. Dengan demikian ia tak lain kakak seperguruan dari Wiro.

Orang ini pula yang menewaskan orang tua Wiro, akibat merasa cintanya atas Suci ditelikung Ranaweleng, ayah dari Wiro.

Hal ini tidak tergambarkan dalam film. Tentu hal itu sangat bisa dimengerti mengingat film ini menggabungkan dua episode.

Yang membuat saya surprise adalah munculnya tokoh-tokoh semacam Bujang Gila Tapak Sakti dan Bidadari Angin Timur.

Senyatanya dalam cerita silat Wiro, tokoh ini baru muncul dalam serial pertengahan. Demikian juga tokoh jahat dari partai tengkorak.

Dalam karya Bastian Tito, tokoh ini baru muncul dalam neraka lembah tengkorak. Satu tokoh jahat yang tidak disebut namanya dalam film, tapi saya yakini sebagai pendekar terkutuk pemetik bunga juga sudah nongol.

Tokoh-tokoh jahat yang sebenarnya berilmu tinggi ini, hanya sekedar anak buah Mahesa Birawa, bahkan kelasnya di bawah Kaligundil.

Bagi saya, kemunculan tokoh-tokoh kejutan itu oke saja. Sayangnya, mereka tidak dieksplorasi lebih dalam.

Pengambilan gambar dari film ini serta tata kelahinya cukup menawan. Diiringi dengan tata musik yang apik, membuat sajian film cukup oke.

Maklum film ini digarap kerja sama dengan Century Fox. Sayangnya saya merasakan alur cerita terlalu datar.

Walau ‘kesablengan’ Wiro cukup berhasil diperankan oleh Vino, namun tak ada hal yg membuat ketegangan memuncak. Kehebatan dan kesaktian Wiro juga tidak kelihatan dieksploerasi dengan pertunjukan yang dramatik -yang seharusnya bisa membuat penonton bertepuk tangan.

Dalam pertarungan dengan Mahesa Birawa, ilmu dan kesaktian Wiro seperti tidak ada apa apanya. Pukulan sinar matahari yang menggetarkan jagat persilatan itu seperti tidak memiliki perbawa di hadapan Mahesa Birawa.
Bahkan kapak sakti yang sangat jarang digunakan Wiro pun tidak memiliki pengaruh besar dalam pertarungan itu. Wiro sableng seakan bukan pendekar 212.

Ala kulli hal, Saya mengapresiasi film ini setinggi-gingginya. Maka pencinta serial Wiro, nontonlah! Anda akan menemukan hal yg mengejutkan dari film ini. Kita berharap film Wiro selanjutnya lebih dahsyat dari ini.
Sepertinya pangeran matahari dengan kitab wasiat iblis sudah muncul dalam film berikutnya.

Berita Terkait
Komentar
Terkini