Mengapa menjadi nomor satu?

Jalaluddin-Basyir

Terkini.id – Selama ini, menjadi nomor satu adalah pilihan hidup yang selalu dikejar oleh setiap individu. Dinafikkan atau tidak, menjadi nomor satu menjadikan individu yang ada mendapatkan tempat lebih secara sosial sehingga menjadi nomor satu seakan menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi dalam berbagai kehidupan. Tulisan ini berkepentingan untuk merumuskan kejelasan subyek materi dari penggunaan istilah ini dalam kehidupan bermasayarakat.

Nomor/angka satu merujuk pada praktik-praktik kesimbolan yang bagi masyarakat dianggapnya sebagai suatu hal esensial.

Dalam arti, praktik-praktik kesimbolan ini menjadi semacam ukuran atau standar keberhasilan dan kehebatan individu secara sosial. Dengan kata lain, simbol ini kemudian menjadi simbol rekognisi bagi masyarakat. Akibatnya adalah bagi mereka yang tidak mampu memenuhi simbol ini, maka mereka akan terpinggirkan secara sosial.

Disadari atau tidak penyimbolan-penyimbolan secara sosial telah membentuk hubungan hirarkis bagi masyarakat yang ada di dalamnya. Hubungan ini cenderung menempatkan sang pemilik simbol berada pada posisi superior, penentu, dan/atau berpengaruh.

Hal ini dikarenakan hierarkis simbolik tersebut memiliki basis dominasi dan legitimit di masyarakat melalui simbol-simbol lainnya. Karakteristik dari basis ini pada gilirannya akan menentukan relasi dalam struktur sosial masyarakat secara kognitif. Hal ini senada disampaikan oleh filsuf Perancis, Pierre Bourdieu bahwa dinamika hubungan individu dengan realitas sosialnya adalah realitas yang dideterminasi oleh struktur kognitif yang disebutnya sebagai habitus. Artinya adalah struktur kognitif ini memberi kerangka tindakan kepada individu dalam kehidupan sehari-hari bersama individu lainnya. Dalam praktik sosial, mereka yang secara kapital simbolik inferior senantiasa menjadi target hegemoni dan dominasi termasuk di dalamnya sebuah pengetahuan.

Realitas Tandingan

Pandangan di atas telah memaparkan bahwa sejak awal realitas sosial telah dimaknai secara konstruktif oleh mereka yang mempraktikkan simbol-simbol sosial secara monopolis tanpa memberikan sedikit ruang bagi mereka yang secara simbolik terpinggirkan.

Ruang alternatif seakan tertutupi oleh kehadiran mereka yang menguasai hampir seluruh simbol-simbol sosial. Meskipun begitu, Antonio Gramschi menyebutkan bahwa untuk melawan hegemoni dari monopoli ideologi simbolis konstruktif ini dengan apa yang disebutnya sebagai counter hegemony.

Counter hegemony adalah suatu upaya melawan dominasi dari kelompok tertentu yang selama ini melegalkan dan mejewantahkan dominasinya melalui praktik-praktik simbolik (budaya) sehingga hal tersebut terkesan sebagai suaatu hal yang alamiah. Karena itu, kesadaran simbolik (budaya) perlu juga dibangun dengan cara membangun atau keluar dari kesadaran yang selama ini menggerogoti alam bawah sadar kita sebagai sebuah struktur kognitif.

Pendidikan adalah hal yang bagi Gramschi merupakan usaha produktif untuk melawan dominasi ini. Artinya bagaimana masyarakat diedukasi untuk kemudian membangun kesadaran diri mereka secara mandiri tanpa ada tekanan dari pihak manapun.

Pada dasarnya setiap manusia adalah makhluk intelektual namun dianatara mereka masih belum ada menjalankan intelektual mereka ini secara sadar atau dengan kata lain intelektual tradisional.

Realitas hari ini adalah sebuah realitas yang transedental dan ahistoris. Dalam arti sebuah realitas yang di dalamnya tidak terdapat pengecualian atau alternatif lain sehingga suka atau tidak harus menerima realitas tersebut.

Suatu realitas yang seakan mematikan asal usul pembentukannya sampai-sampai realitas itu kemudian dipandang sebagai sebuah realitas normatif, yakni realitas yang harus diterima di zamannya. Realitas tidaklah dilihat sebagai sebuah warisan secara kultural yang kemudian harus diterima dan diwariskan ke generasi berikutnya, tetapi sebuah realitas reflektif yang membuka kesadaran diri kita untuk lebih rasional. Karena itu, dinilai perlu membangun/menciptakan realitas tandingan atau bahkan fakta baru untuk menghadapi realitas yang ada saat ini.

Dalam pandangan lain, setiap orang perlu membangun alternatif realitasnya tanpa sama sekali terpengaruh untuk selalu menjadi realitas normative (orang normal).

Pilihan untuk memilih nomor dua, tidak menjadi Dokter, Pilot, Pegawai Negeri Sipil, dan sebagainya, misalnya, adalah sebuah pencapaian rasio setiap individu melangkah ke rasionalitas yang jauh lebih tinggi.

Di era milenia saat ini setiap individu memiliki potensi untuk menjadi pribadi intelektual yang tidak hanya latah pada satu realitas semata namun mampu membandingkan fakta-fakta realitas yang ada untuk menciptakan realitasnya.

Kelatahan realitas dapat berarti intelektual tradisional yang hanya terkungkung dan terbelenggu pada realitas homogen semata bukan realitas polisemi. Tantangan setiap individu untuk menjadi pribadi rasional laksana telah dimediasi dengan hadirnya teknologi.

Dengan demikian, ketersediaan teknologi di era milenia saat ini berpotensi mendorong setiap individu untuk lebih rasional dan terbuka. Artinya menjadi individu rasional perlu membandingkan fakta satu dengan fakta-fakta lainnya karena pembentukan-diri yang rasio membutuhkan proses yang panjang dan dialektis.

Komentar

Rekomendasi

Konsep Omnibus Law

Tujuan Mulia Harus dengan Cara mulia!

Hei Tuan, Moderasi itu Sehat!

Surga Dunia ala Prof Yudian Wahyudi

Radiasi Nuklir di Serpong

Saat Penumpang Kapal Cruise Stress

Dukungan Hastag

Konstruksi Sistem Pendidikan Nasional

Dalam Lift

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar