Mengenal Appasilli Bunting, Adat Pernikahan Bugis Makassar

Cenning Rara
Wanita Bugis

Terkini.id – Pernikahan adalah suatu yang sangat sakral dn memiliki beberapa rangkaian prosesi mulai pelamaran hingga akad nikah berlangsung.

Setiap prosesi yang dilalui pun penuh dengan kesakralan yang bertujuan agar perkawinan berjalan dengan lancar dan kedua mempelai sukses dalam segala usaha dalam mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga yang langgeng menuju keluarga Sakinah, Mawaddah, Warohmah.

Salah satu rangkaian prosesi dalam upacara pernikahan masyarakat Bugis Makassar adalah appasilli bunting dalam bahasa bugis cemme mappepaccing yang secara umum dikenal dengan sirama pegantin.

Appasilli Bunting berarti membersihkan yaitu kepada Allah SWT agar kiranya dijauhkan dari segala macam bahaya atau bala, yang dapat menimpa khususnya bagi calon mempelai mempelai. Waktu pelaksanaannya dilaksanakan pada pagi hari sekitar pukul 08.00-10.00 waktu setempat.

Pernikahan Bugis
Pernikahan adat Bugis Makassar

Prosesi Appasilli Bunting

Sebelum prosesi penyiraman dilakukan, calon mempelai biasanya dibuatkan tempat khusus berupa gubuk siraman yang telah ditata sedemikian rupa di depan rumah atau di tempat yang telah disepakati bersama oleh anggota keluarga dan umumnya di depan pintu utama.

Prosesi ini dilaksanakan di depan pintu rumah dengan maksud agar kiranya bala atau bencana dari luar tidak masuk ke dalam rumah dan bala yang berasal dari dalam rumah bisa keluar.

Persiapan lainnya berupa perlengkapan diantaranya, Gentong yang berisi air, Gayung, Bunga tujuh rupanna (tujuh macam bunga) dan wangi-wangian, ja’jakkang (terdiri dari segantang 4 liter beras yang diletakkan dalam sebuah bakul), kanjoli’ (lilin), berupa lilin berwarna merah berjumlah tujuh atau sembilan batang, kelapa tunas, gula merah, pa’dupaang, dan Leko’passili.

Sebelum dimandikan, calon mempelai terlebih dahulu memohon doa restu kepada kedua orangtua di dalam kamar atau di depan pelaminan.

Kemudian calon mempelai akan diantarkan ke tempat siraman di bawah naungan payung berbentuk segi empat (Lellu) yang dipegang oleh 4 (empat) orang laki-laki jika calon mempelai Pria.

Setelah tiba di tempat siraman, prosesi dimulai dengan diawali oleh Anrong Bunting, setelah selesai dilanjutkan oleh kedua orangtua serta orang-orang yang dituakan (To’malabbiritta) yang berjumlah tujuh atau sembilan pasang.

Pernikahan Bugis
Pernikahan adat Bugis Makassar

Tata cara pelaksanaan siraman adalah air dari gentong yang telah dicampurkan dengan 7 (tujuh) macam bunga dituangkan ke atas bahu kanan kemudian ke bahu kiri calon mempelai dan terakhir di punggung masing-masing tiga kali, disertai dengan doa dari masing-masing figure  yang diberi mandat untuk memandikan calon mempelai.

Setelah keseluruhan selesai, acara siraman diakhiri oleh ayahanda yang memandu calon mempelai mengambil air wudhu dan mengucapkan dua kalimat syahadat sebanyak tiga kali. Selanjutnya calon mempelai menuju kamar untuk bergantian pakaian.

Setelah bergantian pakaian, calon mempelai selanjutnya didudukan di depan pelaminan dengan busana Baju Bodo, tope (sarung pengantin) atau lipa’sabbe, serta aksesoris lainnya untuk mengikuti prosesi acara A’bubbu (Macceko) yaitu dengan membersihkan rambut atau bulu-bulu halus yang terdapat di ubun-ubun atau alis.

Penulis : Salmawati

Berita Terkait
Komentar
Terkini