Mengenal Upacara Adat Naik Rumah Suku Bugis, Manre Bola

Terkini.id – Waktu penyelenggaraan sebuah acara disesuaikan dengan waktu yang baik, menurut ketentuan adat orang Bugis Makassar.

Pemilihan waktu baik sangat penting untuk memastikan hasil yang diperoleh nanti positif.

Perhatian terhadap hari-hari dan waktu-waktu baik dan buruk di Sulawesi Selatan digunakan oleh banyak orang untuk kegiatan-kegiatan penting, seperti memulai perjalanan, waktu pernikahan, atau tahapan dalam mendirikan rumah.

Upacara Adat Menre Bola

Jalanya upacara naik rumah baru ini dilaksanakan pada hari yang telah ditetapkan oleh tuan rumah. Upacara ini dipimpin panrita bola atau sanro bola. 

Penyelenggaraan upacara diselenggarakan oleh tuan rumah yang dibantu oleh tuan rumah dari kedua belah pihak (suami isteri).

Peserta upacara terdiri atas suami istri, keluarga tuan rumah, tukang dengan kepala tukang, seluruh tenaga pembantunya, serta tetangga-tetangga dalam kampung itu.

Manre Bola
Upacara Manre Bola. (foto: youtube.com)

Tahap Upacara Makkarawa Bola

Makkarawa bola artinya memegang, mengerjakan, atau membuat peralatan rumah yang telah direncanakan untuk didirikan, dengan maksud untuk memohon restu kepada Tuhan agar diberikan perlindungan dan keselamatan dalam penyelesaian rumah yang akan dibangun.

Tempat dan waktu upacara ini diadakan di tempat dimana bahan-bahan itu dikerjakan oleh tukang, karena bahan-bahan itu juga turut dimintakan doa restu kepada Tuhan.

Waktu penyelenggaraan upacara ini ialah pada waktu yang baik dengan petunjuk panrita bola yang sekaligus bertindak sebagai pemimpin upacara.

Bahan-bahan upacara yang harus dipersiapkan terdiri atas ayam dua ekor yang harus dipotong, sebab darahnya diperlukan untuk pelaksanaan upacara. Kemudian tempurung kepala, daun waru sekurang-kurangnya tiga lembar.

Tahap pelaksanaan upacara ini ada tiga, yaitu makkattang (waktu melicinkan tiang dan peralatan), mappa (waktu mengukur dan melubangi tiang dan peralatan), dan terakhir mappatama areteng (waktu memasang kerangka).

Rumah Adat Bugis
Rumah Adat Bugis

Tahapan Upacara Mappatettong Bola (Mendirikan Rumah)

Tujuan upacara ini adalah sebagai permohonan doa restu kepada Tuhan agar rumah yang didirikan itu diberkahi dan dilindungi dari segala pengaruh roh-roh jahat yang akan mengangu penghuninya.

Upacara ini diadakan di tempat lokasi di mana rumah didirikan sebagai bentuk penyampaian kepada roh-roh halus penjaga tempat itu, bahwa orang yang pernah memohon izin pada waktu yang lalu sekarang sudah datang dan mendirikan rumahnya.

Sehari menjelang pembangunan rumah baru itu, pada malam harinya dilakukan pembacaan kitab berzanji.

Rumah Adat Bugis
Rumah Adat Bugis

Tahap Upacara Maccera Bola

Setelah rumah berumur satu tahun, diadakanlah lagi upacara yang disebut maccera bola, yaitu memberi darah kepada rumah itu dan merayakannya. Darah yang dipakai maccera ialah darah ayam yang sengaja dipotong untuk itu.

Saat menyapukan darah pada tiang rumah, beberapa mantra turut dibacakan, seperti “iyyapa uitta dara narekko dara manu”, yang berarti nanti melihat darah bila itu darah ayam.

Ini maksudnya agar rumah terhindar dari bahaya. Pelaku maccera bola ialah sanro (dukunbola atau tukang rumah itu sendiri.

Tak kurang dari 1.128 suku mewarnai kehidupan berbudaya di indonesia. Setiap suku memiliki kebudayaan yang khas.

Salah satunya adalah suku Bugis-Makassar yang dominan di daerah Sulawesi Selatan dengan adatnya yang unik. Salah satunya yaitu tradisi menre bola (dilansir dari berbagai sumber).