Mengharukan: Sepenggal Kisah Guru Pesantren di Tengah Covid-19

Suhartini, S.Pd., M.Pd guru Ponpes Rahmatul Asri Enrekang dan Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang
Suhartini, S.Pd., M.Pd guru Ponpes Rahmatul Asri Enrekang dan Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang

Selepas salat subuh, bergegas menyelesaikan pekerjaan rumah yang terbengkalai setelah seharian di depan laptop dan handpone dengan melayani beberapa grup Mata Pelajaran (Mapel) di layanan WA dan aplikasi pembelajaran lainnya, belum lagi siswa-siswa yang bertanya melalui chat pribadi.

Lelah luar biasa, kepalaku serasa tegang, tangan gemetar mungkin inilah efek radiasi. Tepat hari ketujuh, sejak masa isolasi, rasanya ada perasaan yang aneh.

Saat mencuci piring di dapur tiba-tiba dadaku serasa sesak. Tak terasa air mataku bercucuran dengan derasnya.

Betapa mengajar dengan berbagai aplikasi modern ini tidak membuat ibu menjadi lebih nyaman. Tak lagi kudapati berlarian di koridor sekolah.

Wajah-wajah polos yang sesekali kuhukum saat kalian tidak disiplin, entah kelas yang tidak bersih, baju yang tidak rapi, atau tidak mengerjakan tugas yang ibu berikan atau mata ibu akan menyorot tajam saat ada yang menjahili temannya.

Menarik untuk Anda:

Tak lagi kudapati kalian membersihkan kelas yang selepas itu kita akan menghabiskan sekantong besar gorengan pisang yang masih panas dari tungku.

Ibu tak lagi bisa mendengar dan melihat kalian di kelas. Kemarin sore saat ibu rindu mengajar di kelas, maka kukunjungi ruang belajar kalian.

Hanya koridor dan bangku-bangku kosong tak berpenghuni. Jujur guru kecil ini, rindu kalian. Tak lagi Ibu dapati salam takzim yang mencium tangan kami saat bertemu.

Tak ada lagi, sapaan berebutan “Assalamu alaikum Bu’. Bagaimana kabar kalian Nak?. Apa Ikhsan sudah sembuh alerginya? Abdallah juga apa tidak gatal-gatal lagi? Adly apa masih minum obatnya? Hafizh yang selama ini usil dan selalu Ibu tegur karena menjahili temannya ternyata paling bisa kuharapkan, ia menjadi admin grup kelas dan akan menegur temannya jika ada yang menulis kalimat atau mengirim chat yang tidak santun.

Terima kasih Nak, doa ibu untuk kalian. Masih segar dalam ingatan Ibu Nak, wajah-wajah kalian. Abdhallah dengan senyumnya, Raihan Yusuf Ketua Kelas paling rajin di semua tingkat meski ia masih kelas VII.

Ibu tidak mengada-ngada, karena kepala sekolah pernah mengatakan pada ibu, engkau santun dan cerdas.

Baso Akram, apa kabar Nak? Satu semester ia jarang membuka diri, akhirnya mulai berubah. Awalnya serasa lama sekali menunggu ekspesi senyummu Nak. Ananda Aqil, Adam, Aprisal, Darus, Dewa, Jutman, Farhan, Kholik, Jokowi. Ibu rindu kalian, sehatlah selalu.

Sejak wabah pandemi virus Corona +Covid-19), rasanya seperti sebulan, entah sampai kapan?

Berita dimana-mana sudah mendengungkan lockdown local. Tiap hari korban terus bertambah.

Ah Nak. Tujuh hari lalu dengan semangat, ibu masih masuk ke kelas kalian menjelaskan lanjutan materi yang nantinya akan kita pakai dalam pembelajaran moda daring. Tiba-tiba ada yang mengangkat tangannya.

“Bu di kampung saya tidak ada jaringan.” Saya tersenyum sebab telah kusiapkan semalam dalam bentuk print out lembaran kerja untuk empat kali pertemuan. Tapi hari ini, ini sudah pertemuan ketiga, tinggal satu kali pertemuan, tentu saja aku tidak bisa memantaunya.

Jauh dari perkiraan, semakin buruk kabar dan pemberitaan yang kami terima. Ada beberapa solusi, katanya postinglah yang enak-enak atau apa saja. Tak mengubah keaadaan, semakin banyak yang terpapar.

Penulis

Suhartini, S.Pd., M.Pd.

Pengajar di Ponpes Rahmatul Asri Enrekang dan Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Tolak Politik Uang untuk Pilkada yang Bermartabat!

Harapan Umat ke Biden: Hentikan Muslim Ban dan Muslim Bom!

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar