Menghidupkan budaya “Siri na Pacce” lewat pembelajaran sastra

"Menghidupkan budaya Siri na Pacce lewat pembelajaran sastra" oleh Ratu Bulkis Ramli (Liyana Zahirah)

Terkini.id, – Budaya dan manusia merupakan dua hal yang saling tarik menarik. Entah manusia yang menciptakan budaya atau budaya yang melahirkan manusia, keduanya hidup berdampingan dan saling memengaruhi antara satu dengan yang lain.

Seringkali kita mendengar istilah “Manusia Berbudaya” dan “Budaya Manusia”. Sekilas kedua istilah tersebut terdengar hampir sama karena budaya dan manusia disandingkan dalam satu frasa. Namun jika ditelisik lebih lanjut, kedua istilah tersebut memiliki makna harfiah yang berbeda,

“Manusia Berbudaya” menitik beratkan manusia sebagai subjek (pelaku) kebudayaan, sementara “Budaya Manusia” lebih menekankan bahwa budaya bertindak sebagai kata benda (kemilikan) manusia.

Keselarasan antara keduanya lahir sebagai akibat dari adanya kepercayaan (trust). Manusia percaya bahwa kebudayaan berupa nilai-nilai, adat, dan pesan-pesan moral para leluhur, merupakan akar dari rambu-rambu kehidupan yang harus terus diteladani. Sementara budaya akan terus beregenerasi jika manusia sebagai pelaku kebudayaan terus menaatinya.

Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi di era globalisasi saat ini, menjadikan manusia sebagai pelaku sekaligus korban akan dengan mudah mengalami perubahan.

Menarik untuk Anda:

Kebudayaan sebagai aspek kehidupan manusia ikut terkena imbas dari putaran zaman. Bullying menjadi salah satu kasus yang marak terjadi di kalangan pelajar, tidak hanya di ibu kota tetapi hampir di seluruh daerah di Indonesia. Hal ini menjadi penanda mulai terkikisnya moral anak bangsa.

Media sebagai ruang bertukar informasi dimanfaatkan beberapa orang sebagai penyambung ekspresi. Ruang-ruang pribadi semakin sempit karena hampir seluruh aktivitas dibagikan tanpa saringan. Kecenderungan ini menjadi pemicu lahirnya generasi “latah keburukan” di berbagai daerah di Indonesia.

Selain bullying, maraknya kasus geng-geng motor juga cukup meresahkan masyarakat. Di Makassar, dalam beberapa bulan terakhir, kasus pembegalan oleh geng-geng motor justru dilakukan oleh anak-anak usia sekolah. Hal ini tentu saja mengherankan, mengingat usia mereka seharusnya diisi dengan berbagai hal-hal yang bermanfaat.

Sekolah sebagai sebuah wadah pendidikan seperti kehilangan peran dan fungsinya disebabkan oleh berbagai tendensi. Kasus-kasus guru yang dipenjara karena mencubit siswa saat proses pembelajaran, membawa trauma tersendiri sehingga guru menjadi acuh tak acuh.

Orang tua sebagai pusat kontrol di luar sekolah, terkadang justru sibuk dengan urusan pribadinya. Akibatnya, terjadi bias peran dan fungsi antara orang tua dan guru.

Orang tua menyerahkan anaknya kepada guru untuk dididik tetapi dalam beberapa kasus justru menyalahkan guru ketika peserta didik melakukan kecurangan. Kurangnya sikap saling percaya membuat kedua belah pihak, baik guru maupun orang tua, menjadi mudah diprovokatori.

Selain itu, media sebagai sarana propaganda seharusnya menampilkan tayangan-tayangan bermutu yang jauh dari tindak kekerasan, baik secara tekstual maupun verbal. Hal ini paling tidak dapat meminimalisir pengaruh buruk yang dapat ditimbulkan.

Fenomena-fenomena tersebut disebabkan karena esensi nilai luhur yang bersifat universal kurang teraktualisasi secara sadar.

Nilai-nilai kearifan lokal perlahan-lahan semakin asing dan dianggap tertinggal. Hal ini menjadi penanda bahwa disrupsi kebudayaan mulai menjarah, di mana pencabutan akar-akar kebudayaan pelan-pelan akan menggeser kebiasaan-kebiasaan masyarakat. Perubahan pola pikir masyarakat menjadi cenderung hedonis dan memaksakan kehendak.

Masuknya tekanan global yang belum sepenuhnya dapat diterima secara sadar oleh lapisan masyarakat, khususnya anak-anak usia sekolah, menyebabkan berbagai kekacauan di segala aspek kehidupan. Tindak kekerasan antar pelajar semakin tinggi, nilai moralitas semakin rendah, tata krama dan sikap saling menghargai semakin terkikis.

Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk menghadapi polemik tersebut dengan cara penanaman nilai-nilai budaya dalam diri setiap orang, khususnya anak-anak usia sekolah.

Setiap daerah di Indonesia mempunyai hasanah kearifan lokal yang berbeda-beda. Meski demikian, nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan tersebut sebenarnya bersifat universal, yang berarti dapat diterima seluruh lapisan masyarakat.

Bugis-Makassar merupakan salah satu diantara banyaknya suku, yang terkenal dengan budaya “Siri’ Na Pacce”Siri’ Na Pacce seperti sebuah semboyan yang terus berusaha dihidupkan oleh masyarakat suku Bugis Makassar.

Siri’ yang berarti membela kehormatan, sementara Pacce sebagai pembelaan terhadap sesama masyarakat yang mengalami kesusahan.

Konsep Siri’ Na Pacce inilah yang kemudian merangkul tiga nilai-nilai kebudayaan yang sering digaungkan oleh masyarakat Bugis-Makassar, yaitu Sipakatau (saling menghormati), Sipakainge (saling mengingatkan), dan Sipakalebbi (saling menghargai). Kebudayaan ini tumbuh dan berkembang menjadi sebuah Toddopuli (pasak tak goyang) di masyarakat.

Pendidikan secara praktis tidak dapat terlepas nilai-nilai budaya. Sastra sebagai sebuah media pembelajaran diharapkan mampu memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan kemampuan dan pemahaman peserta didik.

Penanaman nilai-nilai Siri’ Na Pacce dalam masyarakat Bugis-Makassar diharapkan dapat terealisasi melalui pembelajaran sastra yang baik dan benar.

Pembelajaran sastra yang baik diintegrasikan pada setiap mata pelajaran dengan cara mengaitkan nilai dan norma pada konteks kehidupan sehari-hari sehingga pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh internalisasi serta pengalaman nyata peserta didik.

Pembelajaran sastra secara benar, jika sastra tidak hanya dipandang sebagai sebuah bentuk teori saja, tetapi lebih kepada praktik langsung (apresiasi sastra).

Nilai Siri’ Na Pacce dapat ditampilkan dalam bentuk pementasan drama, pembacaan puisi, pembuatan film pendek, atau bahkan dalam kehidupan sehari-hari yang dipandu langsung oleh guru.

Sifat-sifat Sipakatau (saling menghormati), dapat digambarkan melalui tokoh yang arif dan tidak membeda-bedakan antara satu dengan yang lain.

Sipakainge (saling mengigatkan), dapat digambarkan lewat tokoh yang selalu mengingatkan dan menasihati dalam kebaikan. Sipakalebbi (saling menghargai) dapat dilihat dari tokoh yang memiliki sifat toleransi tinggi.

Pencerminan sifat-sifat kebudayaan melalui karya sastra diharap mampu diaplikasikan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dapat disimpulkan bahwa selain sebagai sarana hiburan, sastra juga dapat sebagai media pembelajaran yang menyenangkan.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Untung Rugi di Tengah Ketidakpastian Pilkada Ditunda

Serangan Nine Eleven yang Menggoncang Dunia – 6

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar