Jadilah bagian dari Kolomnis makassarterkini
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis makassarterkini.

Menghindari Kehendak Allah

Ren Muhammad
Ren Muhammad

Terkini.id – ke-17 Hijriyah, Madinah yang sedang di bawah kendali Amirul Mukminin, Umar bin Khattab (Allah meridhainya), dilanda kering berkepanjangan dan juga kelaparan. Masa ini dikenal dalam sejarah Islam sebagai Tahun R├ómadah.

Menghadapi situasi sulit demikian, Umar ra meminta para gubernurnya turun membantu. Abu Ubaidah bin Jarrah ra adalah yang termula tiba dari Damaskus. Ia datang membawa 3000 ekor unta untuk disembelih.

Masa yang menggiriskan hati Umar itu pun berlalu dengan dipungkasi hujan usai warga Madinah menggelar shalat istisqa. Siapa nyana, Damaskus menyusul kemudian. Kali ini, wabah penyakit yang menyerang. Banyak warganya yang terjangkiti virus, termasuk Abu Ubaidah selaku gubernur. Umar berniat membalas budi baik Abu Ubaidah. Ia pun berangkat mengunjungi Damaskus. Tak jauh dari gerbang kota, sang gubernur mencegat khalifahnya.

“Wahai Amirul Mukminin, Damaskus sedang dilamun wabah penyakit. Apakah engkau akan tetap masuk ke dalam kota atau kembali ke Madinah? Bermusyawarahlah,” seru Abu Ubaidah.

Seorang sahabat yang turut serta dalam rombongan Umar, menyarankan agar khalifah balik kanan saja. Di luar dugaan, Umar menyetujui. Mengetahui itu, Abu Ubaidah kembali berkata.

“Jadi engkau hendak lari dari Kehendak Allah, wahai Amirul Mukminin?”

Baca :Pelindo layak dijadikan contoh yang baik

“Bukan kau yang seharusnya berkata begitu, Abu Ubaidah. Jika ada dua lembah kering dan subur, maka ke mana kah kau akan menuju? Jika kau menuju lembah yang subur, maka kau akan dapat memberi pertolongan pada mereka yang berada di lembah kering itu, dengan membawa bahan makanan & minuman,” sergah Umar tangkas. “Umar lari dari Kehendak Allah, menuju Kehendak Allah,” pungkasnya.

Keputusan Umar ini kemudian didukung oleh sahabat penghafal Hadits Rasulullah Saw, yang kemudian membacakan salah sebuahnya, “Bila kau mengetahui wabah penyakit menyerang sebuah kota, jangan masuk ke dalamnya. Namun jika kau sedang berada di dalam kota saat wabah menyerang, maka janganlah keluar menghindarinya.”

Sanggahan Umar atas Abu Ubaidah tersebut menarik dicermati. Tiada mungkin sosok seperti dirinya bicara serampangan. Amatilah sekali lagi, “Umar lari dari kehendak Allah, menuju Kehendak Allah.” Banyak dari umat Islam hari ini yang kesulitan memahami qadha dan qadar yang jadi bagian penting rukun iman. Kita sering mendengar misalnya, “seandainya tidak terlambat membawa ke rumah sakit, barangkali orangtua kita yang sakit keras masih bisa hidup?” Padahal Rasulullah sudah mengajarkan agar kita jangan sekali-kali menggunakan kata “andai.”

Baca :Ramadan, Kalla Toyota gelar buka bersama mitra dan komunitas

Lagipula, keyakinan bahwa dengan ke rumah sakitlah maka nyawa orangtua terselamatkan itu, muncul dari mana? Kehendak Allah kah yang memerintahkan? Toh pada kenyataannya, nyawa orangtua tetap melayang. Kendati dalam kasus berbeda, ada juga mereka yang kemudian berhasil melewati masa kritisnya dengan berobat ke rumah sakit.

Paling mudah, kita tak boleh gegabah mengatakan bahwa ini adalah Kehendak Allah dan itu bukan Kehendak-Nya. Pun jikalaulah kita memang bisa memafhuminya. Khawatir yang kita bela adalah kepentingan diri sendiri, yang terkadang ditimpakan pada orang/pihak lain. Tak ada yang sungguh benar bisa mengerti Kehendak Allah selain Diri-Nya sahaja.

Umar ra yang sedemikian rupa itu saja dalam memperjuangkan Islam dan telah dijamin Rasulullah Saw akan menempati surga, tetap menempuh jalur yang manusiawi dalam menyelesaikan perkara umatnya. Terlepas dari apakah Umar memang telah diberi petunjuk oleh Allah terkait itu. Kita pun tak dapat memastikan keabsahannya. Karena Umar telah tiada.

Kita hanya bisa mengatakan bahwa, “ini adalah kehendak pribadi saya, yang semoga adalah Kehendak Allah juga.” Sebab jika memang bukan Kehendak-Nya, tak mungkin niatan, rencana, atau sesuatu itu akan terwujud. Semudah inilah senyatanya yang bisa kita mengerti. Tak satu pun makhluk yang bisa melarikan diri Kehendak Khaliq.

Baca :Ini salat tarawih super cepat di dunia, salah satunya di Indonesia

Lantas bagaimana dengan keburukan, nista, durjana, yang berbuah dosa?

“Sungguh Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS al Anfal [8]: 70)

Sungguh Allah Azzawajalla Maha Indah dan menyukai keindahan. Sesungguhnya kesombongan itu siapa yang tidak mau tahu terhadap kebenaran dan meremehkan manusia dengan kedua matanya.” (HR Ahmad no. 16574)

“Sungguh Allah itu Mahalembut dan mencintai kelembutan. Dia memberi pada kelembutan yang tidak diberikan pada kekerasan.” (HR Abu Dawud no. 4173)

Merujuk nash di atas, artinya keburukan atau pun dosa, lebih karena kita gagal merasakan Ampunan, Kasih-Sayang, Keindahan & Kelembutan Tuhan dalam kehidupan yang dijalani, sehingga menimbulkan rasa bersalah dan dosa. Nah, rasa keberdosaan inilah yang kemudian menggelayuti pikiran kita selama di dunia.

Allah Mahaberkehendak dan Kehendak-Nya meliputi semua makhluk. Maka wajar bila kemudian Rasulullah Muhammad Saw berulang kali berkata di hadapan para Sahabat & keluarganya tercinta, “Terpujilah Allah atas segala sesuatu.” []

Ren Muhammad, 13 Juni 2018

Tulisan ini adalah kiriman dari kolumnis makasar terkini, isi dari tulisan ini adalah tanggungjawab penulis yang tertera, tidak menjadi bagian dan tanggungjawab redaksi makassar.terkini.id
Editor : Hasbi Zainuddin