Mengingat Kembali Pesan Ibu, ‘’Janganki Sisakan Makanan Nak, Nanti Menangiski’’

Foto : jsnunik_

Terkini.idTanah adalah harapan. Dipertahankan dari yang tak segan merampas. Ditendang, dipukuli. Lalu kita dengan gampang menyisakan makanan tersisa di piring.

Saya menulis kalimat tersebut ketika mendapati diri saya telah beberapa kali menyisakan makanan di piring. Sebuah hal yang tentu sangat dibenci oleh ibu saya sebab telah mengingkari petuahnya tentang bagaimana seharusnya makanan dihargai. Kami percaya makanan adalah hal sakral, lebih dari sekadar mengenyangkan perut belaka.

‘’Janganki sisakan makanan Nak, nanti menangiski.’’

Adalah salah satu kalimat yang tentu sangat membekas di ingatan kita. Hal yang menunjukkan betapa seringnya kalimat tersebut diucapkan. Biasanya oleh ibu sejak kanak ketika kita masih disuapi. Kalimat sederhana yang menyimpan begitu banyak pesan tersirat.

Pernahkah kita merasakan bagaimana menjadi lapar? Ahh, mungkin membayangkannya saja tidak. Apalagi di tengah perkembangan teknologi  kini yang menghadirkan aplikasi online yang memudahkan memesan makan dan menghadirkannya dalam sekejap di hadapan kita. Tak ada ruang untuk lapar. Begitu kebanyakan kita meyakini.

Melongoklah. Bahwa masih banyak yang mengais makanan dari sampah untuk bertahan hidup. Yang memegangi perutnya berhari-hari  dengan tatapan penuh pengharapan. Bahwa ada orangtua yang memilih membawa pulang sekotak nasi dari sebuah acara agar anak-anaknya di rumah bisa makan. Bahwa banyak perantau yang kerap kehabisan uang dan bekal makanan yang dibawa dari kampung. Dan yang paling mengerikan, tak terhitung berapa nyawa yang hilang tersebab perut yang lapar.

Pernahkah membayangkan bagaimana proses sampai akhirnya makanan tiba di piring-piring kita? Sesekali berkunjunglah ke desa. Berbaur dengan bapak ibu petani yang meninggalkan rumah sejak pagi dan baru kembali ketika menjelang petang. Tak memandang terik atau hujan, yang dipastikan hanyalah bagaimana tanaman itu tumbuh di tanah yang diyakininya harapan. Harapan yang kerap kali terpangkas habis oleh kebijakan yang tak memihak pada kesejahteraan petani. Oh iya, jangan sampai kita seperti kebanyakan manusia, yang kenyang karena petani tapi dengan mudah memaki petani.

Ahh, tetapi kita masih saja berkawan dengan alasan klasik untuk menyisakan makanan di piring. Paling banyak kita temui atau bahkan kita lakukan sendiri ketika berada di rumah-rumah makan, di hotel, atau di cafe.

Bukankah yang paling tahu menakar kemampuan perut adalah diri kita sendiri? Mudah saja sebenarnya memesan makanan secukupnya atau meminta dibungkuskan ketika terlanjur memesan dan tidak bisa mengabiskan. Ketimbang menyisakan makanan di piring yang lalu berakhir sebagai prestasi negara sebagai salah satu penyumbang sampah makanan terbesar di dunia.

Atau apalagi hanya dengan dalih tak ingin dikatakan rakus hanya karena menghabiskan seporsi makanan di piring. Melongoklah sekali lagi, bahwa banyak nyawa yang hilang karena perut yang lapar.

Bahwa benar pesan ibu kita, janganki sisakan makanan Nak, nanti menangiski. Sebab banyak air mata yang tumpah ruah dengan derasnya dari makanan-makanan yang kita sisakan di piring. Ataukah makanan tak lagi penting sehingga dengan mudah kita sisakan? Rasa-rasanya sehebat apapun manusia, mustahil jika tak lagi membutuhkan makanan.

Saya juga kerap terngiang dengan percakapan ibu dengan bapak tentang pengtingnya sebuah makanan dihargai.

‘’Nak harus pandai bersyukur, apapun yang terhidang di meja makan,’’ pesan ibu.

‘’Jangan meminta yang tidak ada, jangan mencela yang ada,’’ lanjut ibu.

Di telinga, bapak juga sering diam-diam berbisik, ‘’di meja makan, pandailah memuji sajian Ibumu.’’