Menilik Praktik Baik Penambangan Nikel di Bumi Anoa

Dump Truck mengangkut tanah ke lokasi penampungan di lokasi kontrak karya PT Vale Indonesia, Sorowako, Luwu Timur / Foto Terkini.id : Muhammad Yunus
Dump Truck mengangkut tanah ke lokasi penampungan di lokasi kontrak karya PT Vale Indonesia, Sorowako, Luwu Timur / Foto Terkini.id : Muhammad Yunus

Terkini.id, Sorowako – Hujan tidak menghalangi mesin penggali, Backhoe Loader, mengupas permukaan tanah di Pegunungan Verbeek, Sorowako, Kabupaten Luwu Timur.

Di belakangnya, truk raksasa berseliweran mengangkut tanah ke lokasi penampungan sementara. Saat rombongan jurnalis tiba di area kontrak karya PT Vale Indonesia Tbk, Senin 2 Juli 2018.

PT Vale mengundang sejumlah jurnalis selama tiga hari. Menilik – – melihat dengan sungguh-sungguh – – cara menambang nikel.

Hampir 50 tahun menggali di tanah Sulawesi, PT Vale – – sebelumnya PT INCO – – berusaha membuktikan. Menambang bisa dilakukan dengan baik. Tidak merusak lingkungan.

PT Vale menjawab tantangan pertambangan dengan menerapkan konsep tambang berkelanjutan. Menggali tanah dengan bijak. Tidak serampangan. Hanya mengambil material yang dibutuhkan. Kemudian mengembalikan kondisi lingkungan seperti semula.

Menarik untuk Anda:

“Kami hanya mengambil tanah yang punya nikel,” kata Obes Silalahi, Manager Long Term Planning PT Vale.

Begitu kaya tanah Sorowako, kata Obes, hanya dengan kedalaman 10 sampai 60 meter, mesin sudah menemukan lapisan tanah mengandung nikel.

“Tanahnya diangkut dan diperlakukan dengan baik sampai ke pabrik,” ujar Obes.

Ada beberapa proses yang harus dilakukan untuk mendapatkan nikel dari dalam tanah. Pertama mencari lokasi yang mengandung nikel. Sehingga tidak semua tanah harus digali.

Setelah ditemukan, lokasi akan dibersihkan dari pepohonan dan gangguan lainnya. Ketiga, membuka tanah permukaan sampai ke lapisan yang diinginkan.

Selanjutnya keempat, tanah yang mengandung nikel diangkut ke penampungan sementara. Disaring sesuai ukuran yang diinginkan.

Dari penampungan, tanah dimasukkan ke pabrik. Diolah dengan suhu lebih 1.000 Derajat Celcius. Sampai menghasilkan bijih nikel dengan kadar lebih 70 persen.

Mendapatkan hak kelola lahan lebih 118 ribu hektare sejak tahun 1968, Vale berkomitmen hanya akan membuka lahan setelah dilakukan reklamasi. Aturannya, maksimal 1.450 hektare yang boleh terbuka.

Obes Silalahi, Manager Long Term Planning PT Vale Indonesia memperlihatkan bebatuan yang mengandung kadar nikel tinggi di Blok Sorowako, 2 Juli 2018 / Foto : Muhammad Yunus
Obes Silalahi, Manager Long Term Planning PT Vale Indonesia memperlihatkan bebatuan yang mengandung kadar nikel tinggi di Blok Sorowako, 2 Juli 2018 / Foto : Muhammad Yunus

Luas lahan reklamasi harus sesuai dengan rencana reklamasi yang disetujui Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral. “Itu menjadi tugas dan kewajiban kami,” kata Yohan Lawang, Manajer Reklamasi PT Vale Indonesia.

Berjalan cepat sebagai pemandu, Yohan menunjukkan hasil kerja keras PT Vale menjaga lingkungan tambang tetap asri.

Tidak jauh dari lokasi penggalian di Blok Sorowako, Yohan menunjukkan bekas galian yang berubah menjadi hutan. Binatang terlihat bebas berlari. Berkeliaran mencari makan di sela-sela pohon hasil reklamasi.

Sedikitnya 70 jenis pohon lokal – – seperti kayu hitam, cemara angin, dan pohon dama’dere – – tumbuh tinggi dan lebat. Menjadi tempat berlindung dan mencari makan binatang seperti rusa, monyet, dan burung.

“Dulu kita punya anoa, tapi sudah diambil pemerintah,” ujar Yohan.

Anoa adalah hewan endemik yang hidup di hutan Sulawesi. Populasinya yang terus menurun membuat pemerintah melarang perseorangan maupun lembaga yang tidak punya izin memelihara hewan yang menyerupai sapi ini.

“Vale dilarang karena belum punya izin konservasi,” kata Yohan.

Kenapa pohon bisa tumbuh subur di lahan bekas tambang? Karena permukaan tanah subur yang dikupas saat memulai penggalian, ditumpahkan kembali di bekas galian.

Bibit atau biji tanaman diambil dari dalam hutan. Kemudian dibudidayakan di kawasan persemaian.

“Kami tanam berbagai macam jenis pohon endemik. Sesuai vegetasi di sini,” ujar Yohan.

Kebun bibit PT Vale berkapasitas 700 ribu tanaman. Sudah digunakan menghijaukan lebih 4 ribu hektare lahan bekas tambang.

“Jika ada masyarakat yang minta bibit, kami berikan gratis,” kata Yohan.

Yohan Lawang Manajer Reklamasi PT Vale Indonesia Tbk menunjukkan jenis pohon yang dibudidayakan di kebun bibit PT Vale / Foto : Muhammad Yunus

Masalah keselamatan tenaga kerja juga menjadi tanggung jawab penting PT Vale.

Senior Manager Communication PT Vale Indonesia Budi Handoko mengatakan, untuk menjadi perusahaan berkelanjutan, Vale menerapkan standar tinggi menjaga keselamatan tenaga kerja.

Terbukti, sudah lebih 21 juta jam kerja, belum ada tenaga kerja yang mengalami kecelakaan serius.

“Ini rekor baru di perusahaan kami,” ujar Budi.

Bekerja dengan logam cair bersuhu 1.500 Derajat Celcius, kata Budi, risiko paling fatal adalah kematian. Vale punya 6 ribu karyawan.

“Harus dipastikan semua aman selama bekerja,” kata Budi.

Semua kegiatan dalam kawasan PT Vale mensyaratkan standar keamanan dan keselamatan yang tinggi / Foto: Muhammad Yunus
Semua kegiatan dalam kawasan PT Vale mensyaratkan standar keamanan dan keselamatan yang tinggi / Foto: Muhammad Yunus

Sebagai perusahaan yang peduli terhadap masyarakat dan lingkungan, PT Vale sangat menghindari konflik dengan masyarakat.

Upaya nyata yang telah dilakukan adalah membangun tiga Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Sehingga pabrik tidak berebut energi listrik dengan masyarakat.

Produksi listrik PT Vale dari tiga bendungan PLTA sebanyak 365 Mega Watt. Ini sangat mendukung peningkatan produksi nikel. Menghemat biaya.

Bahkan, sebagian produksi listrik dihibahkan ke pemerintah Kabupaten Luwu Timur. Sebagian lagi disalurkan ke PLN untuk dinikmati masyarakat.

Keberadaan PLTA secara lingkungan mengurangi emisi karbon dari aktivitas pertambangan. Karena dalam setahun, PT Vale bisa menghemat 3 miliar liter solar.

PLTA Karebbe beroperasi sejak tahun 2011. Memproduksi listrik 90 Mega Watt / Foto : Muhammad Yunus
PLTA Karebbe beroperasi sejak tahun 2011. Memproduksi listrik 90 Mega Watt / Foto : Muhammad Yunus

Untuk mecegah lumpur akibat aktivitas penggalian mengalir ke sungai, PT Vale membuat teknologi Lamela. Teknologi pembersih air berlumpur yang diadopsi dari sistem pengolahan air perusahaan air minum.

Dengan biaya sekitar Rp 14 miliar per tahun, teknologi Lamela membuat air yang keluar dari lokasi tambang jernih. Sesuai baku mutu yang disyaratkan. Sehingga tidak mengganggu sumber air dan aktivitas masyarakat di sekitar sungai.

Yohan Lawang, Manajer Reklamasi PT Vale Indonesia menjelaskan cara kerja teknologi Lamela. Teknologi yang digunakan untuk memisahkan air dan lumpur sebelum keluar dari wilayah tambang / Foto : Muhammad Yunus
Yohan Lawang, Manajer Reklamasi PT Vale Indonesia menjelaskan cara kerja teknologi Lamela. Teknologi yang digunakan untuk memisahkan air dan lumpur sebelum keluar dari wilayah tambang / Foto : Muhammad Yunus

Vice President PT Vale Indonesia Tbk Bernardus Irmanto mengungkapkan, Vale sangat menjaga reputasi sebagai perusahaan bertanggung jawab. “Secara teknis dan lingkungan di sekitar kami,” kata Bernardus.

Tidak hanya menjaga tanah, air, dan udara. Vale juga harus menjaga masyarakat. “Tantangannya makin berat. Tapi tidak memudarkan komitmen perusahaan,” ujarnya.

Ada tiga hal yang ditekankan PT Vale, menjaga keberlanjutan perusahaan. Pertama harus taat hukum. Semua peraturan mengenai tata kelola perusahaan tambang yang baik harus dilaksanakan.

Kedua, menjadi operator berkelanjutan. Beroperasi secara berkelanjutan dan bertanggung jawab. “Tidak hanya cari untung, tapi juga memperhatikan lingkungan,” kata Bernardus.

“Ketiga, berkontribusi ke pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional,” tambahnya.

Masyarakat Tidak Boleh Bergantung Pada Tambang

Jauh sebelum biji nikel ditemukan di Sorowako, Luwu sudah dikenal sebagai penghasil besi terbaik. Masyarakatnya pandai menempa besi menjadi senjata dan alat tradisional. Senjata dari Luwu dijual ke banyak daerah di nusantara. Sampai ke India.

Besi dari Luwu disenangi para raja-raja karena kuat dan ringan. Belakangan diketahui, rahasia besi Luwu adalah adanya campuran nikel.

Kandungan nikel di tanah Sulawesi diprediksi masih tersedia sampai seratus tahun ke depan. Potensi ini mendongkrak pendapatan asli daerah Luwu Timur. Tercatat hampir 20 persen APBD Luwu Timur disumbang dari kegiatan tambang PT Vale.

Aktivitas ekonomi yang bergeliat dengan hadirnya PT Vale, membuat APBD Luwu Timur menembus Rp 1,5 triliun pada tahun 2018. Terbesar kedua setelah Kota Makassar.

Meski demikian, PT Vale bersama masyarakat tidak mau menggantungkan hidup hanya pada hasil tambang. Program pemberdayaan pun dijalankan.

Di sekitar wilayah tambang, PT Vale bersama masyarakat memanfaatkan tumbuhan sebagai obat herbal. Menanam padi organik, dan mengembangkan potensi alam sebagai tujuan wisata.

“Alhamdulillah berkat tanaman herbal, saya bisa sembuh dari kanker payudara,” kata Mimi Rosita, Anggota Kelompok Rumah Jamu Rhombifolia Sehat, kepada Makassar Terkini.

Dua tahun Mimi berjuang. Minum ramuan yang diperkenalkan saat pelatihan oleh PT Vale. Setelah sembuh, masyarakat yang selalu mengandalkan obat kimia, pelan-pelan mulai sadar pentingnya tanaman herbal.

“Semoga tanaman herbal menjadi pengobatan utama. Bukan lagi obat alternatif. Masyarakat tidak harus selalu menggunakan bahan kimia,” kata Mimi.

Setelah produk herbal dikenal luas masyarakat, obat herbal racikan Rumah Jamu Rhombifolia dikemas menarik. Sehingga menjadi buah tangan karyawan PT Vale dan wisatawan yang berkunjung ke Sorowako.

“Sudah banyak kami jual ke luar daerah,“ kata Mimi.

Mimi Rosita, Anggota Kelompok Rumah Jamu Rhombifolia Sehat binaan PT Vale menunjukkan bahan baku membuat obat herbal / Foto : Muhammad Yunus
Mimi Rosita, Anggota Kelompok Rumah Jamu Rhombifolia Sehat binaan PT Vale menunjukkan bahan baku membuat obat herbal / Foto : Muhammad Yunus

Dengan semangat menjaga kelestarian bumi. PT Vale juga mempromosikan pertanian organik System of Rice Intensification (SRI) organik. Sistem budidaya pertanian mengandalkan bahan alami.

Yuli Sumule, Ketua Kelompok Tani Mina Padi Manggis di Kecamatan Wasuponda mengatakan, lebih 10 hektare sawah di Wosuponda dikelola dengan sistem SRI.

“Petani mendapat pendampingan dari PT Vale,” kata Yuli.

Menanam padi organik memang butuh kesabaran dan tenaga ekstra. Tapi hasilnya juga memuaskan. Karena harganya lebih mahal dibandingkan padi yang menggunakan bahan kimia.

“Karena padi organik sehat. Banyak karyawan Vale yang makan,” ujar Yuli.

Potensi bukan tambang yang juga dirasakan masyarakat adalah wisata danau dan air terjun. Berbagai fasilitas telah dibangun untuk memudahkan akses wisatawan sampai ke lokasi.

Semua kekayaan alam ini diharapkan terus terjaga. Agar menyumbang pendapatan bagi masyarakat. Masyarakat tidak selalu bergantung kepada kegiatan tambang.

Danau Matano, danau terdalam di Pulau Sulawesi yang menjadi tujuan wisata unggulan di Luwu Timur / Foto : Muhammad Yunus
Danau Matano, danau terdalam di Pulau Sulawesi yang menjadi salah satu tujuan wisata unggulan di Luwu Timur / Foto : Muhammad Yunus

Laode M Rachman, Senior Coordinator Social Development Program PT Vale mengungkapkan, setiap tahun perusahaan mengeluarkan puluhan miliar. Untuk membina masyarakat.

Dana ini disebar untuk program pendidikan dasar, kesehatan, ibu dan anak, sanitasi, lingkungan, pertanian, pembinaan UMKM, dan program pengembangan ekonomi.

“Vale sangat fokus ke pemberdayaan masyarakat,” ujar Laode.

Padi yang ditanam dengan sistem pertanian organik System of Rice Intensification (SRI) organik di Kecamatan Wasuponda, Luwu Timur / Foto : Muhammad Yunus
Padi yang ditanam dengan sistem pertanian organik System of Rice Intensification (SRI) organik di Kecamatan Wasuponda, Luwu Timur / Foto : Muhammad Yunus

Bahan Baku Kendaraan Masa Depan

Kemajuan teknologi membuat pemanfaatan nikel semakin beragam. Tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan pelindung karat dan barang elektronik.

Kebutuhan akan nikel terus meningkat semenjak penggunaan mobil listrik marak di Benua Eropa. Nikel jadi bahan membuat baterai mobil listrik.

“Harga nikel pun terdongkrak,” kata Senior Manager Communication PT Vale Indonesia Budi Handoko.

Menurut Handoko, produsen kendaraan pelan-pelan beralih dari penggunaan bahan bakar minyak atau fosil ke energi listrik. Sehingga kebutuhan akan nikel diprediksi semakin besar pada tahun mendatang.

“Ini peluang sekaligus tantangan bagi perusahaan,” kata Handoko.

Karyawan PT Vale memperlihatkan produk nikel matte yang siap diekspor, 2 Juli 2018 / Foto : Muhammad Yunus
Karyawan PT Vale memperlihatkan produk nikel matte yang siap diekspor, 2 Juli 2018. Tahun 2018, PT Vale berencana memproduksi sekitar 77.000 ton nikel dalam matte / Foto : Muhammad Yunus

Saat ini produksi nikel PT Vale berkisar 70 ribu sampai 80 ribu ton per tahun. Berkontribusi 5 persen terhadap produksi nikel di seluruh dunia. Pada tahun 2022, PT Vale ingin meningkatkan produksi sampai 90 ribu ton.

Karena nikel sangat penting untuk menciptakan kendaraan ramah lingkungan, proses produksinya pun diusahakan tidak merusak lingkungan.

Sesuai dengan tujuan PT Vale. Menjadi perusahaan tambang yang berkelanjutan.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Dua Jemaah Haji Indonesia di Arab Saudi Positif Covid-19

Ini Nama Cucu Keempat Presiden Jokowi, Lahir Lewat Operasi Caesar

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar