Menjaga Tradisi Petani Sulawesi Selatan

Petani Sulsel
Ilustrasi

Terkini.id – Sebagai daerah subur untuk pertanian, Sulawesi Selatan menjadi lumbung pangan di Indonesia. Petaninya pun punya budaya dan cara sendiri, mensyukuri setiap hasil panen yang diperoleh.

Mappadendang

Pesta adat Mappadendang rutin digelar oleh petani di Kabupaten Barru. Mappadendang adalah ungkapan syukur atas panen yang melimpah.

Kegiatan ini juga sebagai  sarana silaturahmi warga. Kebudayaan seperti Mappadendang merupakan salah satu kekayaan budaya yang dapat menjadi pemersatu warga.

“Melalui budayalah kita bisa saling menyatu dan bersama seperti ini. Sehingga, budaya memang perlu terus dikembangkan,” ujar Asran, tokoh masyarakat di Kabupaten Barru.

Mappalili

Mappalili sering digelar petani di Kabupaten Pintang. Ritual sebelum petani turun ke sawah menanam padi. Dalam Mappalili, masyarakat berkumpul untuk memulai membajak sawah. Menghadirkan sejumlah kuliner khas masyarakat Bugis untuk disantap bersama setelah berdoa.

Terlibat dalam prosesi Mappalili adalah tokoh adat yang dikenal sebagai penhgulu kampung, pemerintah, polisi, TNI, tokoh tani, pejabat desa, serta anggota BPD dan anggota kelompok tani.

“Melalui budayalah kita bisa saling menyatu dan bersama seperti ini. Sehingga, budaya memang perlu terus dikembangkan.”

Petani Sulsel

Asran Tokoh Masyarakat di Kabupaten Barru

Baca :Ini Falsafah Orang Bugis untuk Sukses di Tanah Rantau

Maming, Kepala Desa Kaliang menyatakan, Mappalili merupakan tradisi yang patut di lestarikan. “Budaya ini sejak dulu memang sudah dilakukan nenek moyang kita. Jadi, saya harap tradisi ini terus dilakukan. Karena ini sebagai upaya melastarikan adat istiadat yang ada di pinrang,” katanya. Melalui ritual Mappalili, petani berharap panen ke depanya akan lebih berlimpah.

Arera

Arera bisa diartikan kegiatan gotong-royong di duatu kampung atau dusun Arera. Tradisi ini sering dilakukan petani di Kbupaten Selayar. Tradisi ini, selain meringankan pekerjaan para petani, juga bertujuan menjalin hubungun emosional yang sangat baik di antara mereka.

Bagi seorang petani tidak ada yang berat bila petani lain meminta untuk dibantu di ladangnya.

Arera dilakukan tidank hanya pada saat pembukaan lahan kebun, tetapi juga bahkan pada saat panen. Jika ada warga yang membuka lahan kebun baru, maka warga lain, akan datang bersama-sama membantu sampai lahan itu sudah dipagar.

Keluarga yang membuka lahan akan menyiapkan makanan bagi peserta Arera. Tetapi bisa juga masing-masing petani membawa bekal dari rumah masing-masing. Suasana kekeluargaan, keakraban sangat terlihat dalam tradisi Arera. Sehingga semua pekerjaan di kebun terasa ringan.

Baca :Ini budaya dan ritual aneh lain daripada yang lain

Budaya Arera perlu dijaga kelestariannya. Sebab rohnya sangat kuat menjaga persaudaraan, kerjasama, dan gotong royong di masyarakat Selayar.

Petani Sulsel
Ilustrasi Arera

Mattojang

Mattojang adalah ayunan raksasa yang terbuat dari dua buah pohon kapuk yang tinggi, kemudian tali ayunan dibuat dari rotan.

Bagi masyarakat Bugis, tradisi tersebut merupakan bagian dari rangkaian upacara adat Sao Raja, yaitu pencucian benda-benda pusaka peninggalan Arung Kulo.

Namun, seiring berkembangnya zaman Mattojang tidak lagi diselenggarakan ketika upacara Sao Raja dilangsungkan, melainkan permainan adat rakyat Bugis ini dilaksanakan untuk memeriahkan pesta-pesta adat tertentu, seperti perayaan pesta panen, syukuran, pernikahan, dan menyambut kelahiran bayi.

Selain sebagai permainan, Mattojang juga merupakan rangkaian dari proses penyembuhan. Bagi masyarakat Bugis, seseorang yang telah melupakan leluhur meraka atau ritual-ritual kebudayaan tertentu, maka iya akan terkena penyakit aneh. Bisa jadi berjuang pada petaka seperti menjadi gila.

Menurut kepercayaan masyarkat Bugis, prosesi turunnya Batara Guru dari negeri Khayangan dengan menggunakan Tojang Pulaweng (ayunan emas)

Jika hal tersebut terjadi, maka orang tersebut harus menjalani proses ritual. Dimulai dari pengobatan sanro atau dukun, pelaksanaan upacara adat, dan syukuran.

Baca :Rombongan Sulsel pakai recca & batik khas di FASI X Tingkat Nasional

Setelah semua proses ini dilaksanakan, orang yang sakit tersebut kemudian di Tojang. Tujuannya adalah untuk membuang penyakit yang bersarang di tubuh si penderita. Dengan mengayun-ayunkan tubuh di udara diharapkan penyakit tersebut terbang keluar dan tidak lagi kembali.

Petani Sulsel

Lahirnya permainan adat Mattojang tidak terlepas dari sebuah mitos yang sangat kuat diyakini masyarakat Bugis hingga saat ini, Mattojang merupakan proses turunnya manusia pertama yaitu Batara Guru dari Botting Langi (Negeri Khayalan).

Batara Guru dalam mitos kebudayaan Bugis adalah nenek dari Sawerigading. Sawerigading sendiri merupakan ayah dari La Galigo, Tokoh mitologi Bugis yang melahirkan mahakarya monumental termasyur di dunia adalah kitab La Galigo.

Menurut kepercayaan masyarakat Bugis, prosesi turunnya Batara Guru dari negeri Khayangan dengan menggunakan Tojang Pulaweng (ayunan emas).

Mitos ini pun kemudian berkembang  dan menjadi bagian dari prosesi adat. Sebagai salah satu cara untuk menjaga kelestarian kepercayaan ini, maka dibuatlah permainan adat Mattojang yang kemudian berkembang menjadi permainan rakyat.

Tim Penulis : Ana Ridwan, Arsyad, Effendy Wongso, Salmawati