Merasakan Nikmatnya Kampung Burasa

Anak-anak bermain sepeda di Kampung Burasa yang mencakup RW 01 dan RW 04 Kelurahan Rappocini, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar

Terkini.id, Makassar – Sebilah parang mengayun di hadapan Sultan Daeng Liwang. Sebelum mendarat di kepala, pria mabuk yang akan menggasak Liwang terpeleset jatuh ke tanah. Parang lepas dari genggaman dan terlempar.

Peristiwa ini masih terekam kuat dalam ingatan Liwang yang kini berusia 50 tahun. Terjadi di wilayah Rappocini. Perkampungan di tengah Kota Makassar.

“Jika dia (penyerang) tidak jatuh, kepala saya sudah terbelah,” kata Liwang kepada Makassar Terkini, Rabu 12 Desember 2018.

Kebiasaan menenggak minuman keras sejumlah warga di Rappocini telah memicu banyak aksi kejahatan di lingkungan tempat tinggal Liwang. Hampir setiap malam, warga yang masih bertetangga rumah dan lorong terlibat perang batu dan anak panah. Judi dalam lorong menjadi pemandangan biasa. Tidak ada yang berani melarang.

Jika ada kendaraan parkir di pinggir jalan, tidak butuh waktu lama terbongkar dan hilang. Rumah warga pun sering dimasuki maling. Warga dan tamu selalu merasakan suasana mencekam. Jika Anda menemukan banyak batu berserakan di jalan. Itu tandanya warga selesai melakukan rutinitas tawuran.

Sekarang, tempat tinggal Liwang terpilih sebagai peserta Program Kampung Berseri Astra (KBA). Diberi nama KBA Burasa atau populer disebut Kampung Burasa. Diambil dari nama makanan khas Sulawesi Selatan. Kata Burasa juga kependekan dari Budaya Rappocini Sehat dan Aman.

Kampung Burasa mencakup RW 01 dan RW 04 Kelurahan Rappocini, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar. “Dulu tempat kami dijuluki Bronx-nya Makassar,” kata Liwang.

Gerbang masuk Kampung Burasa

Pernah suatu waktu, polisi berinisiatif mendamaikan kelompok warga yang sering bertikai. Karena sudah terlalu banyak korban luka dan jiwa. Polisi menyumbang satu ekor sapi dan bikin pesta besar. Mengundang biduan, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan warga yang bertikai.

Setelah pesta usai, tawuran malah kembali pecah. “Masa jahiliah ini berlangsung selama 10 sampai 20 tahun silam,” kata Liwang.

Liwang bukan satu-satunya warga yang merasakan kelamnya lingkungan tempat tinggal. Alex, tetangga Liwang bahkan hampir meninggal karena tawuran. “Saya dua kali kena anak panah. Satu kali kena batu,” kata Alex.

Saat Makassar Terkini berkunjung ke lingkungan yang dimaksud Liwang, cerita menyeramkan itu sudah tidak terlihat. Lingkungan yang sebelumnya kumuh sudah terlihat asri, hijau, dan tertata rapi. Anak-anak asyik bersepeda, bermain, belajar menari dan musik tradisional. Tidak ada perasaan takut saat berada di lingkungan ini.

Perilaku masyarakat berubah drastis. Jalan masuk lingkungan bersih. Lorong-lorong, pagar, dan dinding rumah penuh mural. Diberi cat warna-warni. Bermacam tumbuhan, bunga, dan sayuran ditanam masyarakat di pekarangan rumah.

Warga dilarang membuang sampah sembarangan. Karena sudah ada petugas yang ditugaskan menjemput sampah rumah tangga.

Warga sibuk dengan banyak kegiatan produktif. Membuat mebel dan kerajinan tangan. Berkebun dan menanam pepohonan di pinggir jalan. Ibu-ibu berjualan depan rumah sembari mengajari anak-anak membaca Alquran. Beberapa anak perempuan membuka usaha rias pengantin dan menyewakan baju adat.

Menurut Alex, lingkungan kondusif seperti ini sudah berlangsung kurang lebih tiga tahun. Ketua RT, RW, Lurah, dan Camat rajin bertemu warga. Melakukan penyuluhan dan pendampingan bersama penyuluh dari perguruan tinggi. Anak-anak yang belum bersekolah disediakan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) gratis.

Anak-anak di Kampung Burasa belajar musik tradisional

Warga bergotong royong mempercantik lorong. Ibu-ibu dalam lorong juga ikut begadang sampai subuh mempercantik jalan. “Mungkin karena itu juga tawuran tidak pernah terjadi lagi,” kata Alex.

Kapolsek Rappocini Kompol Edhy Supriady membenarkan, jumlah laporan kriminal dari Kelurahan Rappocini berkurang sejak masyarakat mendapatkan ruang dan kesempatan beraktivitas. Anak-anak muda yang biasa tawuran sudah banyak kegiatan. Hal ini bisa berdampak signifikan pada jumlah laporan kriminal di Polsek Rappocini.

Kapolsek Edhy tidak punya data khusus jumlah kasus kriminal di Kampung Burasa. Tapi melihat data laporan kasus pengeroyokan dan perkelahian di seluruh wilayah hukum Polsek Rappocini, terlihat ada penurunan beberapa jenis kasus. Khususnya pencurian kendaraan bermotor dan pengeroyokan atau tawuran.

“Polisi dan warga bekerjasama,” kata Edhy.

Tahun 2017 Polsek Rappocini mencatat pencurian kendaraan bermotor sebanyak 193 kasus. Tahun 2018 turun menjadi 176 kasus. Pengeroyokan menurun dari  49 menjadi 30 kasus. Sementara kasus minuman keras tidak ada laporan selama dua tahun terakhir.

Perubahan mencolok di Rappocini mulai dirasakan warga sejak tahun 2016. PT Astra International Tbk (baca: Astra) lewat program KBA masuk ke Rappocini. Sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat.

Lewat Program KBA, Astra memberikan bantuan dana, dorongan, penyuluhan, pengorganisasian kerjasama masyarakat, dan membantu merancang pola kemandirian masyarakat. Astra menghadirkan penyuluh dari akademisi dan berbagai macam latar belakang profesi.

Astra membina empat sektor di Kampung Burasa. Yakni kesehatan, pendidikan, Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), dan lingkungan. “Kami ingin mengubah citra Rappocini dari daerah rawan menjadi ramah,” ungkap Pembina Kampung Burasa, Suhardi.

Psikolog Istiana Tajuddin mengungkapkan, manusia dan lingkungan saling mempengaruhi. Jika ada perubahan tatanan di lingkungan masyarakat, akan ada perubahan nilai. Merubah pola pikir dan perilaku individu masyarakat.

“Semakin positif lingkungan semakin positif orangnya,” ujar Istiana.

Dia mengatakan, tawuran terjadi karena warga bosan dengan situasi dan tekanan dari lingkungan tempat tinggalnya. Hal ini diperparah dengan lingkungan yang tidak bisa memberikan solusi.

Jika program mengaktifkan kegiatan positif masyarakat berjalan konsisten, masyarakat akan punya sudut pandang baru. “Menyerap nilai baru dan terjadilah perubahan,” ujar Istiana.

Lorong di Kampung Burasa dicat warna-warni dan tertata rapi

Sosiolog Universitas Hasanuddin Rahmat Muhammad mengatakan, banyak daerah di Kota Makassar yang terlanjur dicap sebagai daerah rawan kriminal. Disebut daerah hitam atau zona merah. Hanya kegiatan positif yang bisa menggerus dan menghilangkan stigma buruk yang sudah berpuluh tahun melekat.

Secara sosiologis, kata Rahmat, masyarakat butuh ruang publik dan kegiatan positif. Jika hal tersebut diambil oleh hal negatif, energi masyarakat juga akan beralih ke hal negatif.

“Kita patut apresiasi masyarakat yang berhasil keluar dari stigma negatif,” ungkap Rahmat.

Membangkitkan Usaha Kecil dalam Lorong

Tisman Lapasila merangkai rotan menjadi bermacam produk kerajinan di rumah tempat tinggal sekaligus tempat kerja

Perubahan pola pikir dan lingkungan membangkitkan semangat hidup anak muda seperti Tisman Lapasila. Pernah terlibat kenakalan remaja, Tisman berhasil hijrah. Tisman sibuk melanjutkan usaha orang tua. Merangkai rotan menjadi bermacam produk kerajinan.

Produk rotan yang paling digemari adalah kursi dan meja. Tisman juga pandai membuat vas bunga, partisi, dan rumah lampu. “Setiap minggu selalu ada pesanan. Jumlahnya banyak,” kata Tisman.

Tisman bekerja bersama tiga saudaranya di usaha kerajinan rotan. Jika pesanan membludak, Tisman tidak segan mengajak tetangga dan anak muda di Kampung Burasa membantu.

Usaha rotan di Kampung Burasa sudah ada sejak tahun 1980. Usaha keluarga yang diwariskan secara turun temurun ini disebut usaha terakhir di Kota Makassar yang masih bertahan. Banyak usaha sejenis di tempat lain gulung tikar. Karena kalah dengan produk plastik.

Sebelum Astra masuk, Tisman pernah berpikir meninggalkan usaha kerajinan rotan. Penyebabnya, jarang sekali menerima pesanan. Pada saat krisis, Tisman mengaku, dalam satu bulan tidak ada pekerjaan sama sekali. Kondisi itu pula yang memancing Tisman dan anak muda lainnya masuk dalam pergaulan negatif.

“Setelah Astra masuk, kami diberi tambahan modal dan bantuan pemasaran. Sekarang produk rotan malah diburu. Karena dianggap unik,” ungkap Tisman.

Pelanggan Tisman berasal dari hotel, restauran, dan pegawai Astra. “Alhamdulillah tidak pernah sepi pekerjaan,” katanya.

Selain rotan, masyarakat juga dilatih membuat kerajinan dari sampah plastik dan enceng gondok. Hasilnya dipajang dan dijual sebagai buah tangan pengunjung yang datang ke Kampung Burasa.

Geliat ekonomi masyarakat melahirkan ide mendirikan koperasi. Dengan jumlah anggota yang masih sedikit, koperasi di Kampung Burasa sudah mampu memasok barang kebutuhan sehari-hari ke toko-toko kecil dalam lorong.

Harga yang ditawarkan jauh lebih murah dibandingkan harga yang dibeli pedagang di toko grosir. Pedagang dalam lorong pun bisa mendapatkan keuntungan lebih banyak.

“Kita tidak perlu modal uang. Karena langsung terima barang. Kalau sudah laku baru dibayar,” kata Farida, pedagang kelontong di Kampung Burasa.

Farida, pedagang kelontong yang mengikuti program koperasi di Kampung Burasa

Keberadaan koperasi dinilai penting. Setelah warga menghitung potensi uang yang beredar. Setiap hari tercatat kurang lebih Rp 100 juta uang dibelanjakan di Kampung Burasa. Uang ini untuk membeli kebutuhan sehari-hari seperti beras, minyak, dan perlengkapan mandi.

“Potensi ini kita manfaatkan,” ujar Liwang yang saat ini diamanahkan sebagai Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Rappocini.

Jumlah warga di Kampung Burasa lebih seribu jiwa. Kehadiran koperasi diharapkan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat. “Kalau semua warga jadi anggota, luar biasa manfaatnya,” kata Liwang.

Mengolah Sampah dan Limbah Rumah Tangga

Sultan Daeng Liwang memperlihatkan kemasan dan timbangan minyak jelantah sumbangan Astra

Kegiatan membanggakan yang juga dilakukan masyarakat di Kampung Burasa adalah mengumpulkan sampah dan limbah rumah tangga. Sampah-sampah plastik dan kertas dikumpulkan menjadi tabungan di Bank Sampah.

Tabungan bisa ditukarkan barang kebutuhan sehari. Seperi beras, gula, dan sabun. Bisa juga diuangkan untuk membayar biaya sekolah anak-anak.

Masyarakat juga rajin mengumpulkan minyak bekas penggorengan atau minyak jelantah. Limbah rumah tangga ini disetor di Bank Sampah. Setiap 5 liter minyak jelantah akan mendapatkan 660 mL minyak goreng baru.

Untuk pemasaran, pengelola Bank Sampah bekerjasa sama dengan perusahaan pengolah minyak jelantah. Masyarakat senang. Karena minyak bekas penggorengan ternyata punya harga.

Untuk mendapatkan 5 liter minyak jelantah, butuh waktu 3 sampai 5 minggu per rumah. Dengan jumlah lebih 500 rumah tangga, Kampung Burasa bisa menghasilkan 2.500 Liter minyak jelantah setiap bulan.

“Kalau sudah terkumpul 5 liter baru kita tukar,” kata Farida, Ibu Rumah Tangga di Kampung Burasa.

Program mengumpulkan minyak jelantah membuat masyarakat tambah semangat. Setelah mengetahui, minyak jelantah dimanfaatkan untuk menggerakkan mesin kapal nelayan.

“Disamping tidak mengotori lingkungan, kita juga beramal,” ungkap Liwang.

Kabar minyak jelantah ditukar dengan minyak baru pun menyebar ke lingkungan lain. Beberapa kelurahan di Kecamatan Rappocini tertarik mencontek dan mendaftar menjadi nasabah minyak jelantah.

Tidak Mudah Menjadi Kampung Berseri

Warga membersihkan kebun tanaman obat di Kampung Burasa

Berubah dari cap buruk kampung kriminal menjadi kampung berseri tidak diperoleh warga dengan mudah. Sebelumnya, warga harus bersaing ketat dengan 67 kelurahan di Kota Makassar. Syarat untuk menjadi KBA ketat. Setelah terpilih dan berjalan, kegiatan di lokasi program mendapat penolakan dan gangguan.

Pot-pot bunga dan papan nama jalan yang dipasang dirusak sejumlah warga yang tidak senang dengan program KBA. Mereka menolak lingkungannya disebut kampung.

“Alasan mereka, ini Kota Makassar bukan kampung,” keluh Liwang.

Dengan pendekatan kekeluargaan dan sabar, Liwang berhasil mengajak dan merangkul warga yang membenci program. Liwang menjelaskan dengan baik tujuan dan manfaat program.

Warga dan anak muda yang sering bikin onar diajak terlibat dalam berbagai kegiatan. Menjadi panitia lomba peringatan kemerdekaan Republik Indonesia. “Semua keinginan mereka kami upayakan dipenuhi,” ungkap Liwang.

Mereka yang biasa tawuran juga dilibatkan mengolah lahan kosong. Menanam tanaman obat dan sayuran. Tujuannya, agar warga yang sakit tidak perlu mengeluarkan uang membeli obat kimia.

Tanaman obat seperti ginseng, daun pecah beling, sambiloto, sambung nyawa, kunyit, dan kumis kucing dipelihara dalam kebun. Digunakan untuk menyembuhkan batuk, demam, dan beberapa penyakit yang sering menyerang warga.

“Warga bebas ambil. Gratis,” kata Abdul Gani, pengelola Kebun Tanaman Obat Keluarga.

Tidak hanya menanam, pengelola juga memberikan edukasi cara memanfaatkan tanaman obat dan khasiatnya untuk tubuh. “Umumnya warga yang sudah tahu, kalau lewat langsung ambil,” kata Gani.

Astra juga membantu banyak perlengkapan pemeriksaan kesehatan di Posyandu. Setiap ada kegiatan kepemudaan, Astra selalu jadi sponsor. “Banyak sekali kegiatan dalam kampung ini. Dulu kami tidak pernah dianggap (baik). Sekarang dikunjungi banyak orang dari seluruh Indonesia,” ungkap Gani.

Pemeriksaan kesehatan di Posyandu Kampung Burasa

Untuk bidang pendidikan, Astra memberikan beasiswa kepada sejumlah siswa SD, SMP, dan SMA. Tujuannya membantu anak-anak kurang mampu tidak putus sekolah. Beasiswa ini sudah berjalan selama dua tahun.

“Astra ingin memberikan bantuan untuk pengembangan dan kemandirian,” kata Suhardi, Koordinator Astra Grup Makassar.

Lebih dua tahun Astra memberikan bimbingan, dorongan, dan kerjasama dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat. Hasilnya, UMKM, lorong, organisasi PKK, dan anak muda di Kampung Burasa sering meraih juara dalam berbagai lomba.

“Kampung Burasa makin ramai pengunjung dari luar Makassar. Menjadi salah satu daerah percontohan yang dinilai berhasil,” ungkap Suhardi.

Berita Terkait
Komentar
Terkini