Merasakan Sensasi Putu dalam Kisah Manuskrip Serat Centhini

Merasakan Sensasi Putu dalam Kisah Manuskrip Serat Centhini

R
Ismi Hehamahua
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id- Makassar. Larut malam ditemani segelas kopi hitam dan gemericik air hujan di beranda rumah terasa lengkap dengan ditemani penganan tradisional Kue putu menangis yang bercitarasa manis.

Putu Menangis jaman dahulu mudah kita dapatkan di setiap lorong kota Makassar era tahun 70-90an namun di saat almanak menunjukkan 2020, terasa sangat susah menemui penganan yang mengeluarkan suara unik jika dijajakan. Terlebih lagi waktu dijajakannya hanyalah pada malam hari.

Beruntung , malam itu sekelebat melintas di depan rumah setelah memesan beberapa potongan putu . Menggiring ingatan ini melayang ke jaman lampau.

Yah, dikala kebiasaan memburu api lentera sang penjual putu, Ketika itu ada kebiasaan para anak kecil di daerahku yang nampaknya sangat riang gembira apabila bertemu pedagang ini atau pedagang lainnya yang memakai Sulo atau pelita.

Kesenangan bermain dengan bayangan ditambah mendengarkan dengan penasaran sumber suara yang melengking dari cerobong kukusan putu, bagai sirene kapal uap yang mengepulkan asap tentunya merupakan pengalaman yang tak terlupakan.

Baca Juga

Pada masa silam, pemakaian lampu pelita oleh para pedagang keliling dulunya jamak berkeliling memakai minyak tanah sebagai bahan bakarnya, dan berbentuk lentera atau sulo-sulo yang menghasilkan bayangan di jalanan kota Makassar.

Diantara para pemakai sulo sulo atau lentera , sebutlah para pedagang putu, pedagang kacang goreng dan telur bebek, jagung rebus, dll. Dikarenakan dahulu gelap karena kurangnya pencahayaan serta tehnologi dijaman itu masih serba konvensional.

Itu masa silam dijaman sekarang yang identik dengan jaman era milenial ini khususnya pedagang Kue Putu dengan sapaan akrabnya Mas Putu yang ditemui malam itu.

Sekarang ini untuk lampu pelitanya yang dahulu memakai minyak tanah, sekarang sudah beralih ke lampu led yang mudah dan simple dalam pemakaiannya.

Namun khusus penjual putu kali ini, menariknya masih tetap setia memakai sepeda kayuh begitupun dengan bahan baku penganan putu menangis ini tetap setia memakai ruas bambu sebagai cetakan, serta parutan kelapa sebagai topping dan balutan campuran tepung beras dan daun pandan serta gula merah sebagai isiannya.

Cara membuatnya juga masih tetap setia dengan cara lama yakni dikukus diatas kotak seng yang telah dibuat khusus menjadi kompor perapian serta tabung gas (dahulu masih memakai kompor sumbu minyak tanah) ,Kemudian bungkusnya sudah diganti kertas kue padahal dulunya memakai alas dari daun pisang.

Bagi Anda penggemar jajanan tradisional, pastilah sudah tak asing lagi dengan kue yang memiliki rasa manis dan gurih hasil dari lelehan gula merah dalam kue ini.

Seperti dilansir dari berbagai sumber, Kue tradisional putu ini diduga merupakan hasil akulturasi perpaduan budaya kuliner Nusantara dengan kuliner Tiongkok.

Penganan ini telah ada dimasa Dinasti Ming sekitar 1200 tahun yang lalu. Pada masa itu penyajiannya bersama dengan secangkir teh Longjin.

Dapat ditemukan di China Silk Museum , kue tradisional ini kemungkinan sudah ada sejak 1200 tahun lalu, yakni pada masa Dinasti Ming. Di Tiongkok sendiri, kue ini dinamakan Xian Roe Xiao Long yang berarti kue dari tepung beras berisi kacang hijau yang amat lembut dan dikukus dalam cetakan bambu.

Sedangkan khusus di Nusantara, nama puthu sendiri muncul pada karya sastra Jawa naskah manuskrip serat centhini.

Serat Centhini ibarat ensiklopedia Jawa yang lengkap.

Wedang kahwa gula têbu, saringên têpas kang rêsik, nyanyamikan puthu-têgal, carabikang mêndut koci, sêmar mêndêm buntêl dadar, kinopyok ing santên kanil.

Wedang ronning blimbing wuluh, sing anyêp rêndhêmên warih, rêrêmikaning dhaharan, criping kaspe criping linjik, pisang gorèng nganggo gula, criping tela karag gurih’

(Jenis minumannya pun beragam dengan rasa bervariasi. Antara lain: wedang kopi dengan gula tebu, wedang cara, dan wedang blimbing. Demikian pula dengan beragam makanan kecil sebagai pelengkap hidangan. Antara lain: puthu, semar mendem, aneka criping, dan pisang goreng)

Serat Centhini ini atau lengkapnya Centhini Tambangraras-Amongraga, ditulis pada 1814 sampai 1823 oleh sebuah tim yang dipimpin Adipati Anom Amangkunagara III, putera mahkota Kerajaan Surakarta, yang kemudian jadi raja dengan gelar Sunan Paku Buwana V (1820-1823). Anggota tim penulis itu terdiri atas Kiai Ngabei Ranggasutrasna, Kiai Ngabei Yasadipura II, dan Kiai Ngabehi Sastradipura.

Dan suatu ketika kuliner ini telah masuk ke Nusantara pada zaman dahulu, koloborasi isian kacang hijau yang merupakan isian asli kue ini sangatlah susah di cari pada zaman itu, sehingga masyarakat menggantinya dengan isian menggunakan gula merah yang lebih mudah didapatkan.

Puthu bambu atau putu menangis memang identik dengan kue malam, sebagai teman setia bercengkrama bersama tetamu atau keluarga.

Kuraih potongan kue tradisional ini, kembali kenangan lama bagaikan CLBK , cinta lama bersemi kembali akan kerinduan masa kecil di Makassar, tenang hanya suara jangkrik yang bersahut sahutan dan sesekali suara sirene kapal dari pelabuhan yang bisa terdengar dari kejauhan serta tontonan TV tabung yang masih tehnologi hitam putih ,juga terdengar dendang suara musik dari radio transistor hingga keriuhan tontonan layar tancap dilapangan terbuka.

Eksistensi keseriusan penjaja putu menangis bagaikan pola bertahan dalam kehidupan saat ini yang semakin dinamis dan serba cepat dalam pusaran digital.

Mengingat catatan manuskrip tentang kue putu, jadi terbayang rupanya jajanan ini sebenarnya sudah melintasi beberapa abad yang lalu .

Dapat dijumpai dan dinikmati di seantero negeri ini. Meski berbeda dalam sajian isi, kue ini tetap nikmat dinikmati.

Jajanan tradisional ternyata bisa jadi perantara, pengingat kepada pendahulu yang telah hidup berabad sebelumnya dengan kearifan kuliner berbahan lokal nusantara.

Jangan sampai Kenikmatan tradisional putu menangis hanya menyisakan cerita nantinya ke anak cucu.

Dahulu kala, ada sebuah penjaja kue yang mengeluarkan seperti suara lengkingan tangisan.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.