Miris, Kakek Lansia Sekeluarga di Makassar Puluhan Tahun Tinggal di Gubuk Reot

Daeng Makking
Kisah Kakek Lansia Sekeluarga di Makassar Puluhan Tahun Tinggal di Gubuk Reot

Terkini.id, Makassar Sungguh malang nasib kakek lansia bernama Daeng Makking bersama dua anak dan tiga cucunya yang tinggal di Jalan Sungai Saddang Baru, Balla Parang, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar Sulawesi Selatan persis di kawasan kompleks BTN Timuramah Blok A. Mereka terpaksa menghabiskan kehidupannya dengan menghuni gubuk reot.

Saat redaksi terkini.id, menyambangi kediaman kakek lansia tersebut tim menemukan sang kakek ini terbaring di balai-balai berbalut kain dalam keadaan sakit. Gubung reot berukutan kira-kira 4×5 meter terbuat seadanya dari sisa material, seperti tripleks bekas, papan bekas, pintu bekas, dan kardus bekas, serta beralaskan tanah terlihat sudah reyot. Bahkan, banyak lubang-lubang besar menganga di beberapa sisi dinding gubuk.

Begitu pula dengan kondisi atap gubuk yang terlihat bolong-bolong. Sinar matahari pagi yang menembus lubang-lubang atap yang sudah bolong tersebut seakan memperjelas kondisi tidak layaknya gubuk itu. Tidak ada kata sempurna di semua sisi gubuk milik Daeng Makking tersebut.

Bukan itu saja, kondisi semakin memprihatinkan tidak hanya ada di ruang tamu dan atap gubuk saja, melainkan kondisi yang sangat memprihatinkan semakin terlihat ketika memasuki kamar tidur dan dapurnya.

Menarik untuk Anda:

Bayangkan saja. untuk memasuki pintu masuk gubuk dan dapur, pengunjung terpaksa harus membungkukkan badan karena tinggi atap gubuk dengan lantai diperkirakan kurang dari 1,3 meter.

Semakin miris, ketika redaksi terkini.id menanyakan soal tanah tempat mereka tinggal. Menurut pengakuan Daeng Makking, ternyata tanah yang ditempatinya sekeluarga merupakan milik pemerintah alias Fasum.

Kisah Kakek Lansia Sekeluarga di Makassar Puluhan Tahun Tinggal di Gubuk Reot

“Saya tinggal di sini sejak tahun 1982. Kawasan ini dulu masih rawa-rawa. Dulu saya bekerja sebagai Satpol PP di Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Propinsi Sulsel. Saya pernah jadi Satpam (security) di sini. Saya juga sering ronda di sini dulu,” ujarnya.

Ditambahkan Daeng Makking bahwa ia menempati gubuk tersebut sejak tahun 1982 dan sudah beranak cucu di sini. Diakuinya jika musim hujan tiba, dirinya tetap bertahan di dalam gubuk tersebut. Kadang ada juga tetangga yang memanggil bernaung di rumahnya,” ujarnya.

Saat ditanya apakah warga di perumuahan atau pemilik perumahan tersebut tidak keberatan jika dia sekeluarga tinggal di sini, Daeng Makking mengaku sudah sering disuruh pindah tapi mau bagaimana lagi ia tidak ada pilihan lain untuk tinggal.

Kisah Kakek Lansia Sekeluarga di Makassar Puluhan Tahun Tinggal di Gubuk Reot
Kisah Kakek Lansia Sekeluarga di Makassar Puluhan Tahun Tinggal di Gubuk Reot

“Ya bersabar saja. Tetangga juga bersabar dan kasihan. Ketika disuruh pindah, kami bingung juga mau pindah kemana. Bahkan diakuinya jika dirinya dan anak-anaknya sering memasukkan permohonan bantuan rumah dari pemerintah tapi belum rejeki sampai sekarang.

Sementara itu, Putri Daeng Makking bernama Indah mengatakan orang tuanya sudah tinggal sejak tahun 1982 di atas tanah tersebut. Ibunya sudah meninggal tahun 2015. Ayahnya berprofesi sebagai Satpol PP dan sudah diangkat jadi PNS Gol I di Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Propinsi Sulsel tak jauh dari tempatnya tinggal.

“Bapak tinggal di sini sudah lama, kata bapak sekitar tahun 1982. Belum banyak banyak bangunan di sekitar sini. Masih rawa-rawa dulu,” kata Indah.

Kisah Kakek Lansia Sekeluarga di Makassar Puluhan Tahun Tinggal di Gubuk Reot
Kisah Kakek Lansia Sekeluarga di Makassar Puluhan Tahun Tinggal di Gubuk Reot

Hal itu dibenarkan Daeng Makking jika dirinya berprofesi sebagai Satpol PP di kantor Dinas PU. Namun sudah enam bulan ini tidak masuk lagi karena sakit-sakitan. Menurutnya, gajinya hanya Rp1,5 juta per bulan.

“Dengan gaji segitu bisa menghidupi keluarga kami. Anak-anak juga ada yang bekerja untuk menambah kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Ditambahkan Aqila, demi membantu kebutuhan keluarganya, ia juga menjadi ojek anak sekolah. Gajinya Rp350 ribu sebulan. Diakuinya pernah mendaftar jadi Ojek Online tetapi tidak diterima karena menurutnya kuota sudah tidak cukup, jadinya memilih jadi ojek anak sekolah.

“Ada dua anak sekolah saya antar-jemput setiap hari. Gajiku Rp350 ribu. Penghasilan ini membayar cicilan motor yang saya paia. Selebihnya tambahan kebutuhan sehari-hari, apalagi ada keponakan saya tiga orang sekolah masih SD,” terangnya.

Diakuinya juga sejak viral di sosial media, pemerintah kota dan beberapa dari komunitas sudah datang menyambangi keluarganya. Ada yang meminta untuk dibedah tetapi tanah ini bukan milik kami.

“Ada yang datang mau bedah tapi mau bagaimana ini bukan tanah saya. Jadi kami menunggu kabar dari pemerintah kota Makassar saja dulu,” ujarnya lagi.

Kisah Kakek Lansia Sekeluarga di Makassar Puluhan Tahun Tinggal di Gubuk Reot
Kisah Kakek Lansia Sekeluarga di Makassar Puluhan Tahun Tinggal di Gubuk Reot

Di samping itu, tetangga Daeng Makking bernama Andi Niar mengatakan warga di kompleks sini sering membantu keluarga Daeng Makking. Bahkan anak-anaknya menikah, warga di sini yang siapkan tenda dan membantunya.

“Sudah lama tinggal di sini. Kasihan juga. Terkadang kalau musim hujan kami panggil ke rumah untuk tidur tetapi mereka menolak. Kami juga biasa memberinya sembako untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Ia juga berharap semoga pemerintah cepat memberikan solusi agar Daeng Makking sekeluarga bisa tinggal di rumah yang layak. Ia juga mengaku kasihan terhadap pemilik rumah yang di belakang gubuknya karena mereka tidak ada parkiran. Tetapi mereka bersabar.

“Semoga secepatnya mendapat perhatian dari pemerintah. Salut juga karena anak-anak dan cucunya tidak ada yang menjadi peminta-minta. Mereka ada yang bekerja dan cucu-cucunya sekolah. Hanya kalau hujan kasihan sekali,” terangnya.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Denny Siregar Dipolisikan Gegara Pasang Foto Santri Cilik Calon Teroris

Update Terbaru Kasus Virus Corona di Bulukumba, Pasien Positif Bertambah 5 Kasus

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar