Miris, Keluarga Korban Tsunami Bayar Rp3,9 Juta ke RS untuk Ambil Jenazah

Terkini.id, Banten – Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah (Polda) Banten menetapkan tiga tersangka dalam kasus pungutan liar pengurusan jenazah korban tsunami Selat Sunda.

Pungli tersebut terjadi di Rumah Sakit dr Derajat Perwiranegara Kabupaten Serang.

Kapolres Serang Kota, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Firman Effendi menyatakan, ketiga tersangka itu merupakan petugas di Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSDP Kabupaten Serang.

“Kapolda bentuk tim khusus, yakni gabungan antara Tipikor Polres dengan Tipikor Polda,” terang Firman seperti dilansir dari Tempo, Minggu 30 Desember 2018.

Dari hasil penyidikan tersebut, polisi menetapkan tiga orang tersangka, antara lain F yang merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) di IKFM RSDP Serang, dan dua orang karyawan CV Nauval Zaidan berisial I dan B.
Perusahaan Nauval Zaidan merupakan rekanan RSDP Kabupaten Serang yang melakukan pelayanan ambulans jenazah.

Menurut Firman, ketiga tersangka itu dijerat Pasal 12 huruf e Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Terima Sampai Rp 15 Juta

“Pasal yang kami kenakan selain Tipikor juga pasal 368 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang Tindak Pidana Pemerasan,” ungkap Firman.

Polisi menetapkan tiga tersangka dalam kasus tersebut sesuai pemeriksaan lima saksi kunci dan dua alat bukti berupa dokumen kuitansi pembayaran dan uang tunai sebesar Rp 15 juta.

Dengan ditetapkannya tiga tersangka itu, tak urung membuat Paguyuban keluarga marga Punguan Pomparan Toga Sinaga Boru (PPTSB) yang diwakili Badiamin Sinaga berterima kasih atas respons cepat Polda Banten itu.

Badiamin sendiri mengungkapkan, bahwa dirinya dimintai uang yang keseluruhan bernilai lebih dari Rp 6 juta untuk enam jenazah.

“Ada permintaan biaya pembayaran penanganan dan pemulangan jenazah oleh petugas bernama Leonardo. Bukti pembayaran keluarga kami diberi kuitansi,” kata Badiamin.

Badiamin mengatakan keseluruhan ada enam jenazah yang dipungut biaya, empat jenazah dewasa, dan dua lainnya jenazah bayi.

“Kami sudah ada bukti tiga kuitansi, tiga kuitansi lagi masih disimpan keluarga karena masih berduka,” kata Badiamin.

Untuk korban jenazah Ruspita Br Simbolon 40 tahun, petugas meminta Rp 3,9 juta.

Dalam tiga lembar kuitansi yang salinannya terbaca nominal Rp 3,9 juta sebagai biaya untuk membayar pemulasaran jenazah, formalin dan mobil jenazah diterima petugas tertulis Leonardo senilai Rp 3,9 dari Leo Manulang.

Pada lembaran kertas kuitansi itu paling atas tertulis Rumah Sakit Umum Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal.

Manulang juga membayar Rp 1,3 juta untuk biaya formalin dan pemulasaran jenazah. Satu kuitansi lagi dibayar Sumardi Sinaga sebesar Rp 800 ribu untuk biaya pemulasaran jenazah dan formalin. Untuk kuitansi ini ditulis tangan, sedang dua kuitansi sebelumnya dengan ketikan mesin.

Berita Terkait