Modernitas Indikasi Demokrasi yang Keropos

Alif Yualdi
Modernitas Indikasi Demokrasi yang Keropos oleh Alif Yualdi (Anggota Study Club Rumahkata)

Terkini.id – Perkembangan sains sekarang merupakan buah modernitas yang dapat membawa kemudahan bagi manusia. Di sisi lain juga akan menimbulkan sebuah kegelisahan yang berbekas, dengan berbagai fenomena dominasi peradaban digital yang menyebabkan manusia kehilangan legitimasi atas dirinya sendiri sekaligus makna dari kemanusiaannya.

Hadirnya teknologi yang canggih dapat membuat tujuan hidup manusia menjadi samar atau tidak jelas. Secara ruhaniah dan eksistensi realitas akan mengalami keterasingan dan kesunyian di tengah keramaian lingkungannya.

Sebut saja itu Era digital, yang seharusnya dihadapi dengan keseimbangan dimensional antara rasa dan rasio. Artinya ialah perkembangan seperti ini tidak bisa dihadapi hanya dengan bermodalkan sebuah mental dengan kapasitas analog/manual tetapi harus juga dilengkapi hadirnya mental digital sebagai bentuk kemajuan dari segi kemanusiaan.

Mental digital yang dimaksud adalah mental yang berbasis rasionalitas artinya prinsip hidup harus tetap berpegang teguh dengan rasionalitas, bukan berorientasi dengan pola pikir yang dogmatis akibat keberadaan teknologi yang kian berkembang seiring tantangan jaman dan kebutuhan manusia di bumi.

Para Pembunuh Tuhan

Menarik untuk Anda:

Tuhan telah mati!, pernyataan Nietzche yang paling dikenal dunia sebagai ungkapan saat itu Eropa sedang mengalami proses transformasi yang destruktif dalam berbagai aspek kehidupan sosial, ekonomi, dan politik yang mendasari semuanya kepada rasionalitas. Menyatakan bahwa modernitas menyebabkan kemunduran peran agama di dalam masyarakat dan di dalam pikiran orang perorangan.

Penduduk Eropa semakin percaya bahwa aktivitas pemerintahan pada saat itu tidak lagi menganggap keberadaan ilahiah untuk menjadikan sah setiap kebijakan yang dikeluarkan, pengaruh agama dalam kehidupannya semakin disangsikan.

Karenanya, masyarakat ketika itu sangat merasakan pengaruh sains lebih kuat dari sekedar mampu menggantikan semua kerja Tuhan.

Transformasi Eropa menjadi pemicu terjadinya perubahan yang berjarak terhadap model berfikir manusia secara totalitas yang membuat wajah dunia seketika berubah.

Semburan renaisans turut sampai ke belahan dunia bagian selatan yang memaksa aturan teokrasi dan feodalisme pada akhirnya harus berdamai dengan kehendak akal.

Kepercayaan di Eropa tentang kemajuan-kemajuan tersebut diakomodir oleh sistem demokrasi, yang menghadirkan kemungkinan jika setiap pribadi mampu membuat makna atas kehendaknya sendiri. Tidak jarang juga demokrasi malah disertai pertentangan antarkelas dan golongan.

Pada pemerintahan demokratis di sebagian negara Asia Tenggara berupaya mengembalikan politik patronase post pemerintahan otoritarian, dan yang paling terpusat gagalnya sekulerisasi bukti jika demokrasi rasional menjadi irasional. Sehingga bukan hal yang aneh, jika agama masih berperan dalam membangun tatanan demokrasi kontemporer.

Diam-Diam Sedang Mendambakan

Jika berangkat dari perspektif demokrasi rasional yang dikatakan Nietzche, hal ini bahkan menjadi ‘aib’ bagi negara adidaya yang diklaim sebagai perwakilan terbaik negara demokrasi di dunia.

Sejak Francis Fukuyama menerbitkan bukunya “The End  of History and The Last Man”, dalam tulisannya menjelaskan demokrasi liberal merupakan muara akhir dari perjalanan peradaban manusia, dengan spontan dunia seketika dikagetkan oleh sosok Donald Trump yang tak pernah lepas dari kejadian yang memancing kontroversial, ketika dirinya maju sebagai calon presiden Amerika Serikat tahun 2016 lalu.

Karena dirinya sering mengeluarkan beberapa wacana agama dalam berbagai kesempatan kampanyenya. Yang menariknya, Trump justru mendapatkan banyak suara di berbagai negara bagian.

Saya menilai dari pengalaman Amerika tersebut, walaupun yang dilakukan Trump terbilang intoleran namun apakah peristiwa itu menandai bahwa masyarakat barat sedang mendambakan adanya tuhan dalam peradabannya untuk memahami demokrasi di masa yang akan datang?

Batas pemisah antara agama dan publik harus segera digantikan rasionalitas gaya baru yang bersedia menjadi pemahaman jika agama tidak lagi dianggap elemen yang rapuh untuk menjalankan sebuah sistem demokrasi.

Maka dengan itu, keinginan keberadaan Tuhan menandakan jika renaisans jilid kedua sedang berlangsung. Yang mengantarkan pada suatu waktu iman dan akal saling melengkapi.

Pada level tertentu, justru peran agama bisa membantu untuk penambahan kualitas pemerintahan yang demokratis bebas dari tindakan korupsi, pro-kesejahteraan, profesional, dan visioner.

Jika kita bisa mengambil manfaatnya, hal tersebut membuktikan bahwa akal tidak cukup sebagai solusi terhadap persoalan kesejahteraan bahkan kematian.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Ketauladanan Ibrahim AS- 02

Money Politik, Diantara Larangan dan “Kebutuhan” Warga

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar