Ironi Monumen Maha Putera Emmy Saelan, Sampah ‘Masuk’ Monumen

Monumen maha putera emmy saelan
Monumen maha putera emmy saelan

Terkini.id-Makassar, Hujan gerimis baru saja membahasahi ruas jalanan Kota Makassar, Jumat 15 November 2019. Bau aspal bercampur hujan merupakan kerinduan setelah Kemarau yang berkepanjangan.

Kebetulan, masih terbawa suasana Hari Pahlawan 10 November 2019, yang jatuh pada Hari Ahad, penulis mencoba untuk mencapai Lokasi Monumen Maha Putera Emmy Saelan pada Senin, 11 November 2019 Jalan Hertasning, lokasinya tepat berada di Jalan atau lebih tepatnya gang, disamping arah Homestay berhadapan dengan Kantor Diknas Kota Makassar.

Titik kemacetan mulai melanda di perapatan jalan Hertasning setelah tangki bensin pertama. Melewati perapatan Kantor PLN dan Jalan Toddopuli Raya. Perlahan tumpukan kendaraan mobil dan motor semakin merapat memaksaku untuk mencari jalur alternatif sedikit zig zag mengambil jalur kekiri. Tujuanku ingin secepatnya sampai ditujuan.

Yah, kebetulan momentum Hari Pahlawan 10 November 2019, Senin kemarin, penulis berkunjung ke dalam Monumen Maha Putera Emmy Saelan.

Dan Jum’at sore ini penulis berkunjung kembali untuk melihat langsung suasana sebelum gelap.

Kendaraan butut yang setia menemani sehari hari, kuarahkan memasuki gerbang . Dahulu gerbang ini nampak dari luar jalan Hertasning, namun sekarang nyaris tak nampak kerena sudah berdiri beberapa ruko , penginapan homestay juga rumah makan serta beberapa tempat usaha disekelilingnya.

Pada gerbang utamanya nampak pilar gerbangnya, bagai menyatu dengan bangunan ruko, sulit dibedakan yang mana gerbang utama ,yang mana menjadi tembok ruko. Seperti menyatu tembok temboknya.

Jika saja tidak ada terpasang Bendera Sang Merah Putih yang warnanya telah pudar, Serta gerbang dengan tulisan Monumen Maha Putra Emmy Saelan, Dengan aksara tulisan di gerbangnya yang sudah tidak berkilau lagi, warna chrom stainless steel perlahan sudah uzur termakan usia, jika tidak ada tanda tanda diatas mungkin saja para pengunjung yang akan berkunjung kesini bisa kesasar.

Kupinggirkan si Butut , perlahan nampak beberapa orang dengan aktivitas yang membuatku ,sedikit heran bercampur takjub, Melihat kegiatan bongkar muat sampah dari Kendaraan motor sampah roda tiga, kemudian sampah tersebut beralih ke truk sampah.

Wow Luar Biasa, Tepat pada Hari Pahlawan, tempat monumental ini dijadikan tempat persinggahan mode transit armada sampah di seputaran wilayah Kelurahan Kassi Kassi.

Dada tiba tiba nyeri perasaan seperti tercabik cabik , Salut atas kreativitas dari para pemangku kepentingan di wilayah ini

Menjadikan Monumen Maha Putera Emmy Saelan sebagai tempatperputaran distribusi sampah dari kendaraan motor sampah ke kendaraan truk sampah.

Sebaiknya, apapun alasannya, atas nama keterbatasan lahan, ataukah tersedianya akses tanah lapang yang luas yang berada ditengah kota , sudah seyogyanya Pemangku kepentingan setempat tidak menggunakan lokasi Monumental ini sebagai lahan tempat bergentayangan sampah sampah rumah tangga dan sampah lainnya yang dihasilkan oleh Para Pahlawan Masa Kini. suasananya cukup ramai seperti cekpoin mobilitas urusan sampah menyampah, bagaikan tempat ini dibangun sekedar mengatasi masalah sampah tanpa masalah.

Seperti bukan melihatnya sebagai Monumen Perjuangan.

Dan untuk mengenang kembali seperti apa, Napak tilas perjuangan Emmy Saelan hingga dibuatlah sebuah karya kenangan pengingat sebagai Monumen Maha Putra Emmy Saelan

Dikutip dari berbagai sumber, Berikut kisahnya.

Emmy Saelan, sosok wanita yang lahir dari Keluarga Saelan di JalanTweede Zeestraat(sekarang Jalan Ali Malaka) Emmy Saelan berasal dari keluarga pendidik dan pejuang di Makassar. Lahir 15 Oktober 1924, ia diberi nama Salmah Soehartini Saelan oleh ayahnya Amin Saelan dan Ibu Sukamtin.

Amin Saelan adalah tokoh Perguruan Taman Siswa di Makassar. Dan merupakan anak tertua dari delapan bersaudara, yakni Maulwi, Saeni, Elly, Evi, Rahayu,Saidah, dan Sabina. Maulwi Saelan adalah satu-satunya anak lelaki dalam keluarga Amin Saelan

Saudari Emmy, (Almh) Elly Saelan adalah istri Alm.Jend.M. Jusuf Panglima ABRI / Menteri Pertahanan dan Keamanan di era Presiden Soeharto, wafat pada 11 Oktober 2014 dan dimakamkan disamping pusara suami tercinta , di TPU Panaikang, Paropo.

Juga sauadara laki-laki satunya (Alm).Kol Maulwi Saelan adalah Ajudan pribadi Presiden Sukarno, Maulwi juga tokoh sepak bola Nasional seangkatan Sang Legenda Bola di Makassar , Ramang.

Pernah memimpin Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia(PSSI Tahun 1964-1967) Wafat pada 10 Oktober 2016 dan dimakamkan di TMP Kalibata.

Adapun Peran Emmy Saelan di Laskar Harimau Indonesia yaitu memimpin laskar wanita, sekaligus bertugas di Palang Merah, karna latar belakangnya pernah mengabdi di RS.StellaMaris . Dikarenakan kulitnya yang putih, dia mendapat nama sandi Daeng Kebo

Waktu berlalu, hari berganti, hingga malam yang pilu itu tiba.

Suratan takdir tak dapat ditolak. Tengah malam, di hutan kampung Kassi-Kassi di luar kota Makassar, tanggal 23 Januari 1947 adalah akhir hidup Emmy.

Ketika itu Emmy Saelan yang memimpin 40 orang sekaligus, memimpin Palang Merah , terjebak dalam pertempuran, yang dipimpin oleh Robert Wolter Mongisidi, yang kala itu sedang berada di kampung Tidung, tak jauh namun terpisah dari lokasi Emmy.

Karena terkepung dengan pasukan tank Belanda dan dihujani tembakan, Wolter Mongisidi memerintahkan pasukannya untuk mundur.

Di saat yang sama di lokasi terpisah, Emmy Saelan yang membawa korban-korban luka, berusaha mundur, Tapi sudah terlambat

Kepungan begitu ketat. Persenjataan musuh jauh lebih kuat. Tak ada lagi ruang gerak bagi pejuang-pejuang muda yang bersenjata seadanya itu.

Emmy semakin terdesak dan terkepung. Tentara Belanda berteriak padanya untuk segera menyerah.

Teman teman Emmy Saelan, semua sudah gugur tertembak. Tinggal Emmy sendiri yang masih hidup. Perintah untuk menyerah tak digubris Emmy.

Sebagai jawaban, dilemparkannya granat ke pasukan Belanda itu.

Duarrrr!

Sejumlah tentara Belanda tewas karenanya, Emmy Saelan juga memilih ikut gugur dari pada menjadi Tawanan Belanda.

Perjuangan Emmy Saelan, menginspirasi karena ia terlibat langsung dalam rencana penyerbuan terhadap tangsi-tangsi Belanda, dan membangkitkan semangat perlawanan pemuda Sulawesi.

Sehingga memaksa Belanda setuju membicarakan perang itu dalam Konferensi Meja Bundar,Tahun 1949.

Di Monumen inilah yang merupakan saksi bisu keberanian Emmy Saelan bersama para laskar pejuang lainnya.

Pada salah satu prasasti, terukir tulisan

Di tempat inilah gugur

Maha Putera Emmy Saelan

Dalam satu pertempuran dengan tentara NICA Belanda,

pada tanggal 21 Januari 1947

Teruskan Perjuangan Kami

Enam baris kalimat di atas prasasti tersebut nyaris susah dibaca.

Dibawahnya pun, ada prasasti lain yang menyatakan bahwa monumen tersebut adalah :

Monumen Maha Putera Emmy Saelan yang diresmikan oleh Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Surono, pada 10 November 1985

Inipun juga nampak sudah pudar dan perlahan merangkak uzur.

Cat emasnya nampak dikalahkan dengan cuaca.

Nampak juga Lambang Negara Pancasila, yang dudukannya nyaris jatuh, ditambah Sayap dan Kakinya tidak lengkap lagi, begitu juga Perisai di dada Sang Garuda, juga telah rompal dan tak bersisa pada Lambangnya, entah cuaca ataukah tangan tangan yang tidak bertanggung jawab.

Jika dirunut keterangan yang tertera di atas prasasti, Persis di titik inilah sebagai Titik Utama atau Ground Zero, Sang Srikandi Laskar Harimau Indonesia , Emmy Saelan meregang nyawanya, Gugur bersama anggotanya laskar laskar pemberani.

Pada usia 22 tahun, berusia muda namun memiliki jiwa dan semangat yang berkobar kobar melawan Penjajah.

Bangunan Monumen Maha Putera Emmy Saelan, sebagai pengingat perjuangan Emmy dan rekan seperjuangan.

Jasad Emmy sendiri, kini bersemayam dengan tenang di Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar.

Namun, sebelumnya dahulu dikubur oleh pihak Belanda di sekitar dalam lokasi Monumen setelah peristiwa 21 Januari 1947, setelah keadaan agak tenang, pihak keluarga memindahkan nya ke TMP Panaikang.

Srikandi muda itu telah pergi.

Sangat Miris, mungkin kalimat ini sepertinya tepat disandangkan, ketika melihat kondisi Monumen Pahlawan Emmi Saelan sekarang ini.

Ketika segenap Bangsa Indonesia merayakan di momentum Hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November setiap tahunnya.

Namun disaat yang sama pula masih berlangsung juga aktifitas bongkar muat sampah dari kendaraan motor sampah kemudian ke mobil truk sampah.

Ditambah kondisi Bangunan Monumen Emmy Saelan ini telah retak dibeberapa bagian pada lantai keramiknya, cat yang mulai pudar, rumput yang tidak terurus, sampah berserakan, juga sebagai parkiran mobil mobil pribadi, bagaikan tank tank Belanda jaman dahulu yang menyeruak masuk memburu para Pejuang.

Sepertinya lengkaplah sudah karya generasi penerus cita cita bangsa dengan tagline Aku Pejuang Masa Kini.

Dan, di Lokasi Monumen Emmy Saelan masih dijumpai pada Jumat 15 November 2019, masih dalam suasana yang sama seperti Senin 11 November 2019 serta hari hari sebelumnya.

Menurut beberapa sumber yang ditemui, Aktivitas mobilitas sampah hingga aktivitas lainnya seperti menjadi tempat parkir mobil pribadi, hal ini telah berlangsung sekian lama ,dan tetap aktif hingga saat ini.

Apakah ini merupakan manifestasi nilai nilai dari slogan Aku Pahlawan Masa Kini ataukah hanya sebagai Simbolik ?

Semoga saja, Monumen Maha Putra Emmy Saelan, bukan hanya menjadi Asesoris Perayaan Dirgahayu Kemerdekaan 17 Agustus, Hari Pahlawan 10 November atau Hari Besar lainnya.

Sepertinya semakin berkurangnya kadar perhatian khusus sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasa mereka yang berjuang nyawa, dan telah kita nikmati hasilnya.

Para pahlawan telah berjuang, merebut mempertahankan kemerdekaan Negara kita, dan menjadi kewajiban kita bersama sebagai Penerus untuk terus mengisi Kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para Pahlawan, terutama perjuangan dalam memberantas kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, kesenjangan, dan yang lain-lainnya (Presiden Jokowi pada Peringatan Hari Pahlawan 2019 di TMP Kalibata)

Sudah selayaknya pihak terkait memperhatikan akan situs peninggalan sejarah Monumen ini serta mengajak pihak terkait mengatasi kendala yang terjadi dilapangan, begitupun juga ditempat lainnya di seluruh Indonesia tanpa terkecuali, bukankah,

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya (Pidato Presiden Sukarno, Hari Pahlawan 10 November 1961)

Semuanya Kembali pada Nurani kita masing masing sebagai Anak Bangsa.

Semoga saja.