Mudik: Pulang Ke Kampung Halaman dan Kembali Kepada Pikiran

Ilustrasi Mudik. (sumber: WiliamWattPhotography)

“KOTA-kota besar di Indonesia (termasuk Makassar) dibangun oleh para ‘Pendatang’,” kata Susan Blackburn dalam tulisannya.

Tradisi mudik adalah fenomena unik di Indonesia. Pasalnya, peristiwa itu terekam setahun sekali. Dia akan tiba dengan sendirinya saat mendekati hari raya keagamaan umat islam.

Dengan mudah kita menyaksikan jutaan orang bergerak dari kota menuju kampung dengan segala konsekuensi kemacetan yang ditimbulkannya.

Mudik sangat identik dengan kerinduan akan identitas kepada kampung halaman beserta isinya. Mereka yang sebelumnya meninggalkan struktur sosial kampung menuju kota-kota besar akan kembali mengunjungi identitas asalnya.

Di sisi lain, wajah perkotaan pada hari setelah itu, tak lagi memperlihatkan mimik pongah yang mempertontonkan kekerasan.

Jalanan yang biasanya menjadi pusat permasalahan, pasca-mudik akan menjadi sepi dari deru percakapan dan bising kendaraan.

Pertanyaanya, apa yang akan terjadi terhadap siklus perkotaan bila jutaan orang yang pulang ke kampung halamannya memutuskan tak kembali?

Bagaimana bila para pendatang memutuskan membangun kampung halamannya dengan seluruh kemampuan dan pengalamanya dari kota?

Bukankah penelitian Susan mengatakan, kota besar di bangun para pendatang?

Menjawab pertanyaan di atas tentu membutuhkan jeda. Barangkali membutuhkan waktu untuk membayangkan situasinya. Tapi apakah itu mungkin terjadi?

***

Kembali ke Susan Blackburn. Setelah merampungkan penelitianya, ia kemudian mengabadikannya dalam bentuk buku. Salah satu yang menarik minatnya adalah persoalan perkotaan. Bukunya yang paripurna adalah ‘Jakarta, Sejarah 400 Tahun.

Karyanya yang muncul pada tahun 1987 mendapat respons dari penguasa orde baru kala itu. Dengan segenap kekuatannya, negara mencekal lahirnya pikiran tersebut terbit. Tentu saja, seperti jawaban umumnya, negara mengatakan pikiran tersebut mengancam stabilitas negara.

Memang, Susan dengan enteng memaparkan bahwa kota Jakarta (termasuk Makassar) dibangun hanya untuk memenuhi impian para penguasa.

Karya-karya yang jujur sering kali tak mendapat tempat untuk tumbuh beriringan dengan diskursus kekuasaan. Itu selalu terjadi pada sebuah negara yang takut dengan perbedaan pikiran, apalagi kritik.

Nasib serupa juga terjadi pada Sastrawan besar Indonesia, Pramudya Ananta Toer harus berkelahi dengan kepongahan kekuasaan. Ia mendekam di penjara bernama Pulau Buru tanpa melalui proses hukum sama sekali.

Namun Pram tak gentar, melalui pengasingan tersebut, ia terus menyuarakan pikirannya dan melahirkan karya monumentalnya.

Sialnya, karyanya yang lahir dari pengasingan, ‘Tetralogi Pulau Buru’ tak mendapat tempat di negara asalnya. Paradoksnya, buku itu menjadi tenar dan berhasil menyihir ratusan pembaca di luar negeri. Sekilas, menjadi perbincangan dan menarik kalangan dari berbagai belahan dunia.

Beberapa negara maju, misalnya, Australia, Amerika hingga Filipina menjadikan sebagai bacaan wajib di sekolah. Mereka sering kali menyebut membaca Indonesia dan ironinya melalui Pramudya Ananta Toer.

“Hanya satu negara besar yang tak mengajarkan karya Pramoedya ke Siswanya: Indonesia,” kata Max Lane, seorang Indonesianis asal Australia yang kali pertama menerjemahkan Tetralogi Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer ke dalam bahasa Inggris.

Pembacaan Max Lane dalam menerjemahkan buku Pram membutuhkan waktu selama 6 tahun. Ia, dengan pengamatan yang dalam, membilangkan Indonesia belum hadir sebelum Pram menuliskan sejarah Indonesia dalam karyanya.

Lalu, mengapa hingga saat ini, Buku Pram belum diajarkan di sekolah? Bukankah kita bercita-cita menjadi negara maju?

***

Berkaca pada peristiwa di atas, defenisi mudik seharusnya tak berhenti pada pulang ke kampung halaman saja, lebih dari itu, mudik juga mestinya terbaca sebagai pulang kepada pikiran.

Dengan begitu, wajah perkotaan dan kampung tak lagi mengalami kesenjangan sosial dan ekonomi sebagai sebagai sebuah rumah.

Bukankah rumah bernama Indonesia berdiri karena pikiran yang sama? Kemerdekaan untuk seluruh rakyat Indonesia.

Lalu, mengapa kita gemar menghukum perbedaan. Bukankah bulan Ramadhan adalah sebaik-baik untuk saling memaafkan.

Berita Terkait
Komentar
Terkini
Opini

Harapan Baja Krakatau Steel

MASIHKAH ada harapan untuk Krakatau Steel?Tidak mudah.Tapi masih ada anak usaha KS yang labanya besar: pelabuhannya masih bisa laba Rp 200 miliar setahun.Pelabuhan itu
Opini

Teka-teki Skenario Akhir Demo di Hong Kong

TEKA-teki skenario akhir demo di Hongkong terjawab. Minggu malam lalu.Malam itu kelompok radikal kembali ke markas mereka: di The Hong Kong Polytechnic University. Jumlahnya
Opini

Mengapa Ahok Perlu Memimpin Pertamina?

TADINYA, sistem pengelolaan Migas di Indonesia menerapkan skema bagi hasil atau Production Sharing Cost (PSC) cost recovery.Namun sekarang sudah diganti dengan skema Gross Split.
Opini

Hong Kong Sedang Merusak Dirinya Sendiri

MULANYA adalah kriminal biasa. Chan Tong-Kai, remaja Hongkong usia 20 tahunan menikmati liburan bersama kekasihnya Poon Hiu-wing di Taiwan, Fabruari 2018.Tapi tampaknya pasangan itu
Opini

Pengusaha Terseret

ACARANYA makan siang. Dengan delapan pengusaha besar di Jakarta. Hanya makan siang. Masakan Italia. Di Shangri-La Hotel.Saya memanfaatkannya untuk survei kecil-kecilan. Saya tanya mereka
Opini

Bangga Claudia

WARTAWAN Radar Cirebon saya minta ke Grage City Mall. Ke lantai 2. Di situ ada gerai cepat saji. Namanya sangat masa kini: Pota Friend."Tutup
Opini

Produksi Garam Jeneponto Semakin Merosot

GARAM merupakan bumbu masak yang paling sering digunakan oleh ibu rumah tangga. Tidak lengkap rasanya jika suatu masakan tidak ditambahkan garam. Berbicara mengenai garam,
Opini

Putusan Ayodhya

Satu masjid.Ribuan orang tewas.Entah masih akan berapa ribu lagi.Tergantung apa yang akan terjadi berikutnya. Setelah ada putusan mahkamah agung Sabtu kemarin.Ini bukan sembarang masjid:
Opini

Ibu Kota Sepaku

SAYA ke ibu kota Indonesia. Sabtu kemarin. Setelah acara wisuda di Universitas Mulia Balikpapan.Ke sebelah mananya?Ke pinggirnya.Belum bisa ke tengahnya? Belum ada jalan ke