Musik Sulawesi Selatan Sebelum Tidur!?

Terkini.id, Makassar – Saya Arham, dan Itto, berasal dari Sulawesi Selatan. Kami terlibat percakapan di salah satu media sosial malam itu (1/3/20). Kami membicarakan sebuah diskusi musik yang dilaksanakan pada malam sebelumnya.

Perbincangan mengalir, lalu pembahasannya mengarah ke daerah asal kami, Sulawesi Selatan. Tentunya yang dibicarakan adalah mengenai geliat-geliat dunia musiknya.

Kami sebenarnya juga tidak begitu paham dengan kondisi musik di Sulawesi Selatan saat ini karena sejauh ini kami tinggal menetap di luar. Pun, kami tidak ingin “sok tahu” mengenai kondisi musik di sana, walau itu merupakan daerah asal kami.

Hingga akhirnya kami memutuskan harus membangun komunikasi dengan beberapa kawan yang sepanjang pengetahuan kami terbilang aktif dalam aktivitas musik di daerah Sulawesi Selatan.  

Malam selanjutnya (2/3/20), kali ini kami bertiga. Ada Yudi dari Kabupaten Bone ikut bergabung. Memilih Yudi untuk berbicara mengenai kondisi musik di Sulawesi Selatan, khususnya Bone dan Makassar bukan berarti bahwa dialah yang mengetahui semua tentang dunia musik di Sulawesi Selatan.

Ini terhitung kebetulan saja karena hanya dia yang dapat kami jangkau, memungkinkan untuk diajak ngobrol santai melalui teknologi panggilan video, dan layak dijadikan salah satu informan.

Kami ingin mendengar Yudi bercerita mengenai apa saja terkait dengan musik berdasarkan pengamatannya selama ini. Pengalaman Yudi tentu sedikit banyaknya penting kami dengar untuk mengetahui kondisi terkini iklim musik di Sulawesi Selatan. 

Yudi memulai bercerita mengenai musik yang pernah ia jumpai di Bone. Ada tiga hal yang ia kemukakan malam itu, pertama keberadaan komunitas band musik yang memanfaatkan café sebagai ruang alternatif pergelaran musik.

Komunitas anak band ini tergolong ramai dengan aktivitas musiknya, ditambah dengan semakin banyaknya jumlah café yang berada di Kabupaten Bone. Kondisi ini sudah menjadi ciri khas musisi-musisi di daerah tersebut.

Mereka sudah mampu menunjukkan identitasnya dalam sebuah Kota. Namun, mereka masih belum berani memproduksi karya sendiri dan menyebarkannya melalui media-media yang ada, dalam artian masih sebatas meng-cover lagu-lagu yang sudah ada sebelumnya. 

Kedua, ada kelompok yang bernama Pagenrang Rukka, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, pagenrang berarti pemain “genrang” dan rukka berarti ribut atau berisik. Genrang itu sendiri merupakan alat yang menghasilkan bunyi ketika dipukul, misalnya seperti bedug, gendang, kentongan dan lainnya.

Komunitas ini tergolong aktif melakukan kegiatan-kegiatan kesenian, namun ketika pandemi Covid-19 menyerang, aktivitas mereka otomatis terganggu. 

Ketiga, Yudi memotret keberadaan komunitas musik Sekolah Kalam Kudus. Di sekolah ini ada kegiatan ekstrakurikuler musik. Mereka belajar musik baik itu praktek dan teori. Pelajaran teori musik pada komunitas ini sekaligus membedakannya dengan kelompok lainnya. Namun, kondisinya sama saja yang dialami Pagenrang Rukka, yakni juga vakum setelah covid-19 melanda Indonesia. 

Secara umum, Yudi juga menyoroti tentang krisis kesadaran berkarya secara mandiri oleh kawan-kawan komunitas musik di Bone. Mereka umumnya berkarya masih dalam lingkup “pesanan” atau bahasa umum di sana yaitu “job”. Kondisi ini memprihatinkan bagi Yudi karena idealnya mereka harusnya bukan hanya mementingkan job, namun juga sadar akan pentingnya membuat karya, konser, dan membangun relasi lebih luas lagi.

Tetapi kesadaran akan pentingnya hal tersebut belum begitu dirasakan oleh kawan-kawan pegiat musik di Bumi Arung Palakka ini. Masih diperlukan kerja ekstra dan waktu yang lama untuk membangun kesadaran tersebut. 
  
Setelah berbicara mengenai beberapa amatannya di Bone, Yudi juga berbicara mengenai musik di Makassar sepanjang yang pernah diamatinya. Di Makassar ada satu hal menarik yang dilihat oleh Yudi, yakni kesan adanya benteng pemisah antara kutub Utara, yakni Tamalanrea dan sekitarnya dengan kutub Selatan, yaitu sekitaran daerah Parangtambung.

Di Utara, ada kelompok-kelompok musik yang umumnya merupakan mahasiswa dan alumni Unhas (Universitas Hasanuddin). Sedangkan di Selatan umumnya tergolong mahasiswa dan alumni UNM (Universitas Negeri Makassar) dan beberapa pekerja seni di beberapa Sanggar Seni di kawasan daerah tersebut.

Di Utara ada kelompok musik seperti Theory of Discoustic dan Kapal Udara, sedangkan di Selatan ada Urbaneggs. Semua kelompok musik ini mencoba mengeksplorasi akar kebudayaan Sulawesi Selatan, atau dengan istilah “Gerakan Kembali ke Akar”.

Namun yang disayangkan oleh Yudi, dua kutub yang harusnya saling berdialektika dan saling mengisi serta menginspirasi satu sama lain, ternyata belum terjadi secara intens selama ini. Utara dan Selatan sibuk dengan dirinya masing-masing.  

Sepertinya diperlukan “sesuatu” yang bisa menjadi jembatan agar keduanya bisa melebur dalam sebuah dialektika berkesenian. Jembatannya bisa berupa ruang alternatif yang dapat diakses bersama, event musik, menghadirkan figur seseorang yang mampu menengahi dan segala macam lainnya.

Jika itu terwujud, Makassar bisa memiliki warna khas kegiatan bermusik yang ditandai dengan karakter yang masingmasing berbeda berdasarkan lokasinya, namun berasal dari kesadaran bersama, yaitu mengembangkan potensi kelokalan yang ada di Sulawesi Selatan. 

Di samping itu, kondisi memprihatinkan bagi kami justru terjadi di kawasan Selatan. Komunitas musik yang berada di kawasan ini terkesan mengalami erosi dari segi produksi karya artistik dan pewacanaan. Mereka jarang melakukan proses bermusik dan memproduksi karya secara mandiri, menggelar karya dan membentuk ekosistem kegiatan bermusiknya sendiri.

Sehingga, eksistensi mereka patut dipertanyakan saat ini. Padahal ada beberapa sosok figur yang berada di kawasan ini yang dinilai bisa menjadi penggerak aktivitas musik. Sebut saja nama seperti Arifin Manggau, Andi Ikhsan, Maskur, Bonzay, dan lainnya.

Dua nama pertama juga termasuk akademisi musik di Universitas Negeri Makassar, sedangkan dua nama terakhir merupakan seniman dan pekerja musik yang kiprahnya sudah tidak diragukan lagi di Kota Makassar.  

Saya sendiri mengenal semua nama tersebut, namun lebih dekat secara emosional dengan dua nama pertama. Pendapatku, saya melihat kedua sosok tersebut saat ini sibuk dengan urusan rezim administrasi perguruan tinggi sehingga tidak memiliki lagi waktu mengurus kegiatan bermusik, selain mengajar dan kegiatan-kegiatan lainnya dalam ruang lingkup kampus.

Kondisi ini tentunya sangat disayangkan, mengingat mereka dulunya aktif membuat karya musik, bahkan bisa berbicara di event-event nasional. Sedangkan bagi Itto, dia melihat dua nama terakhir ini sepertinya kurang memiliki rasa percaya diri menunjukkan karya-karyanya di ruang yang lebih luas hingga level nasional, bahkan internasional.

Padahal, mereka berdua pernah membuat konser musik yang memainkan karya-karya sendiri secara mandiri, yaitu Maskur di Gedung Kesenian Sulawesi Selatan, Societeit de Harmonie, dan Bonzay di sebuah café di Kabupaten Gowa, Bambunajiva. Namun sayangnya, setelah konser itu, tak ada lagi terdengar kabar tentang proses musiknya.   

Melihat kondisi seperti itu, saya mengingat ada satu ruang berkesenian yang bernama Baruga Colli’ Pujie yang berada di kampus UNM Parangtambung. Di ruang ini selalu menjadi tempat kegiatan-kegiatan kesenian, termasuk musik.

Banyak kelompok musik dan karya musik lahir di tempat ini. Sebut saja misalnya Tangan Perkusi yang kerap melakukan latihan dan melahirkan karya-karya musik di Baruga tersebut. Selain itu, Alm. Hamrin Samad juga banyak melahirkan karya musik menarik di sini, begitu juga nama-nama lain seperti Fattah, Ime, Utta, Iwan, Dika dan tentunya masih banyak lagi nama musisi lainnya yang lahir dan berkarya dari tempat ini.

Namun, untuk saat ini, tidak ada lagi geliat musik terdengar dari tempat ini, entah apa sebabnya. Saya hanya beramsumsi, bisa saja dengan tidak aktifnya lagi Baruga Colliq Pujie turut berperan terhadap erosi produksi karya musik dari wilayah ini. 

Itulah paparan yang disampaikan Yudi, beserta ditambahi argumen dari saya dan Itto. Setelah itu, Itto mengutarakan beberapa pandangannya. Sebagai pegiat musik yang telah lama berada di luar, seperti di Pulau Jawa dan Sumatra, Ia memulai penjelasannya dengan mengingat momen ketika ia kembali ke Makassar setelah menyelesaikan studi etnomusikologi di ISI (Institut Seni Indonesia) Surakarta.

Kala itu ia terlibat membentuk kelompok musik Urbaneggs. Beberapa karya musik tercipta, dan bahkan telah melakukan konser yang membawakan karya sendiri. Namun tidak lama, ia kembali merantau di daerah Sumatra, tepatnya di Riau. 

Setelah berada di Riau, ia masih aktif berkomunikasi dengan kawan-kawan Urbaneggs, dan mengharap teman-teman yang berada di Makassar melanjutkan eksistensi kelompok ini. Namun, apa yang diharap Itto tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi.

Ia justru menilai Urbaneggs jalan di tempat, khususnya dari segi manajerial dan proses berkeseniannya. Padahal, kelompok ini sudah memiliki beberapa karya dan diisi oleh musisi-musisi yang memiliki karakter, seperti misalnya Apho dan Ochang, ditambah lagi personil lainnya yang juga memiliki karakter tersendiri, khususnya dalam aspek musik tradisional Makassar. Semuanya telah memberi warna tersendiri bagi karya musik Urbaneggs selama ini. 

Itto bercerita, pernah dalam satu kesempatan, ia bertemu dengan beberapa pegiat musik di Jakarta. Ketika mereka berbicara tentang musik di Makassar, Itto menyayangkan nama Urbaneggs tidak terdengar gaungnya bagi apresiator musik di luar Sulawesi Selatan.

Padahal banyak kesempatan mengikuti event musik nasional dan internasional yang justru tidak dimanfaatkan oleh teman-teman Urbaneggs. Ia menyayangkan, dengan potensi musik dan kemampuan para pemainnya, Urbaneggs justru tidak mampu berbicara banyak dan terkesan berputar di situ-situ saja. 

Urbanegss tentunya bukan satu-satunya kelompok yang diharap bisa berbicara banyak di dunia musik Indonesia. Kami juga mengharap banyak dari kelompok musik daerah lain di Sulawesi Selatan yang muncul dan bisa diapresiasi oleh penikmat musik di tanah air, misalnya seperti Kapal Udara dan Theory of Discoustic.  

Saat ini sudah banyak media yang dapat digunakan, bahkan pemerintah juga telah banyak memberikan fasilitas untuk keberlangsungan aktivitas musik di Indonesia. Tinggal bagaimana caranya, kawan-kawan pegiat musik di Sulawesi Selatan bisa membangun jejaring lebih luas lagi agar bisa mendapat informasi lebih banyak. Tanpa kesadaran seperti itu, sulit untuk berbicara banyak, bahkan hanya berputar di dalam lingkaran sendiri. 

Itto agak “cemburu” melihat teman-teman dari komunitas sastra di Sulawesi Selatan. Mereka punya event tahunan, yaitu Makassar Writer Festival yang telah menjadi salah satu ikon di Kota Makassar.

Mengapa teman-teman musik tidak dapat menyatukan barisan, mencoba berserikat, berjejaring dan membuat eventnya sendiri seperti yang dilakukan oleh teman-teman sastra tersebut. Bahkan, teman-teman musik sebenarnya bisa saja ikut mengembangkan event yang sudah ada itu, seperti misalnya membuka salah satu sub item kegiatan yang bertema musik dan sasta, yang kira-kira dapat mengeksplorasi sastra lisan di Sulawesi Selatan sebagai ide karya musik.

Namun perlu dicatat, itu hanya harapan seorang pegiat musik asal Sulawesi Selatan yang selama ini aktif di luar. Ini tidak bisa terealisasi jika tidak ada kesadaran sendiri dari kawan-kawan pegiat musik di Sulawesi Selatan untuk memulai membangun hal itu.   

Menjelang akhir pembicaraan, kami tertuju pada wacana pendidikan musik yang ada di Makassar. Kami tersadar, bahwa selama ini Sulawesi Selatan, khususnya Makassar belum memiliki lembaga pendidikan tinggi formal di bidang musik.

Di UNM hanya ada mata kuliah musik, tidak ada program studi, jurusan bahkan fakultas khusus bidang musik. Ada pun ISBI (Institut Seni Budaya Indonesia) yang saat ini masih menjadi perpanjangan ISI Surakarta yang berada di Makassar, juga belum membuka program khusus bidang musik, begitu juga dengan kampus lain seperti Unhas dan lainnya.

Kondisi ini sebenarnya memprihatinkan karena dapat diartikan bahwa musik belum dianggap penting sebagai sebuah telaah ilmu pengetahuan di daerah ini. Memang miris jika dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia, apalagi melihat Makassar sebagai pintu gerbang kawasan Indonesia Timur. 

Malam pun semakin larut. Sedikit lagi menunjukkan pukul 24.00 WIB. Kami sepakat menyudahi pembicaraan dan membuat daftar nama kawan-kawan yang dapat kami hubungi lagi nantinya untuk berbagi pengalaman aktivitas musik di Sulawesi Selatan.

Rencananya, setiap minggu kami akan meluangkan waktu untuk membincangkan kondisi musik di Sulawesi Selatan. Kami menyepakati memilih malam, agar dapat membicarakan musik Sulawesi Selatan sebelum tidur.

Hal ini kami anggap penting agar nantinya dari wacana yang kita bicarakan dapat menemukan titik temu dan melahirkan ide-ide positif untuk membangun kerja kolektif giat-giat musik di Sulawesi Selatan.

Harapannya, kita bisa berbuat sesuatu untuk musik di Sulawesi Selatan, sebelum Musik Sulawesi Selatan benar-benar tertidur.  
 
Penulis: Arhamuddin Ali sebagai Peneliti Musik 

Bagikan