Masuk

Nina Nurmila: Feminisme Banyak Disalahpahami dan Dianggap Negatif Tanpa Didasari Pengetahuan yang Cukup

Komentar

Terkini.id, Jakarta – Aktivis gender, Nina Nurmila mengatakan bahwa feminisme banyak disalahpahami dan dianggap negatif tanpa didasari pengetahuan yang cukup.

Dalam pernyataan Nina Nurmila yang dikutip dari laman resmi Nahdatul Ulama (NU) itu, ia menyebut bahwa praktik feminisme sebenarnya telah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. 

Hal itu, katanya, bisa dilihat dari ajaran Rasulullah terkait keadilan, termasuk keadilan antara laki-laki dan perempuan.

Baca Juga: 5 Hal yang Paling Sering Disalahpahami dari Feminisme

“Hanya, feminisme ini banyak disalahpahami dan dianggap sesuatu yang sangat negatif tanpa didasari pengetahuan yang cukup,” kata Nina, dilansir dari Sindo News, Minggu, 19 September 202.

Nina lantas menjelaskan soal definis feminisme dalam buku Feminisme Islam: Genealogi, Tantangan, dan Prospek di Indonesia karya Etin Anwar.

Dikatakan, feminisme adalah kesadaran terhadap adanya penindasan dan perendahan terhadap perempuan karena jenis kelamin mereka, upaya untuk mengeliminasi penindasan atau subordinasi, serta untuk mencapai kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan.

Menurut Nina Nurmila, Islam yang dibawa oleh Rasulullah juga mengajarkan pentingnya keadilan, termasuk keadilan antara laki-laki dan perempuan. 

“Konsekuensi nilai keadilan itu tercermin dalam penolakan Islam terhadap tradisi bangsa Arab dahulu yang mengubur hidup-hidup anak perempuan ketika baru lahir,” jelasnya.

Nina Nurmila menerangkan bahwa dasar pengingkaran tradisi bangsa Arab Jahiliyyah itu disinggung dalam Alquran surat An-Nahl ayat 59 yang berbunyi, “Ingatlah, alangkah buruknya (putusan) yang mereka tetapkan itu”. 

“Ini merupakan praktik feminisme, hanya saja belum diistilahkan saat itu,” ujar Nina.

Ia memberikan contph praktik feminisme lain di zaman Nabi Muhammad SAW, yakni masalah waris. 

Kata Nina Nurmila, pada masa Arab Jahiliyyah, perempuan dianggap sebagai sesuatu yang bisa diwariskan. 

Namuan ketika Islam datang, lanjutnya, perempuan tidak hanya bisa menerima waris, namun juga dapat memberi harta waris. 

“Ini merupakan reformasi yang sangat progresif pada masanya,” kata Nina Nurmila.

Bukan hanya itu, ia juga menilai bahwa praktik feminisme juga ada dalam bentuk monogami. 

Nina mengatakan, pada masa Arab Jahiliyah, belum ada pembatasan memperistri. 

Namun, katanya, ketika Islam datang, terjadi pembatasan dengan maksimal empat istri.

Nina Nurmila mengatakan bahwa hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 3 yang berbunyi, “Maka nikahilah perempuan-perempuan yang kalian sukai, dua, tiga, atau empat”. 

“Ayat ini pun masih dibaca setengah-setengah oleh beberapa kalangan. Mereka mengabaikan fawaakhidatan (satu perempuan),” kata Nina Nurmila.