Opini: Milenial Menuju Pilpres 2019

TAHUN 2019 disebut-disebut sebagai tahun politik di kalangan masyarakat indonesia, bagaimana tidak Tahun 2019 ini Indonesia akan menghelat pesta demokrasi terakbar yaitu pemilihan presiden dan wakil presiden masa bakti 2019-2024, dan ditambah lagi dengan pemiliahan dewan – dewan legeslatif mulai dari tingkatan daerah sampai pada tingkatan pusat.

Pada pesta demokrasi terakbar yang diadakan 5 Tahun sekali itu tersebut tentunya sangat mengundang perhatian dan antusiasme masyarakat indonesia, tidak terkecuali dikalangan milenial atau juga disebut sebagai pemilih pemula bahkan ada juga yang beranggapan bahwa kaum milenial adalah kelompok pemilih cerdas.

Tentunya menuju puncak perhelatan pada tanggal 17 April 2019 tersebut, para pasangan calon presiden dan wakil presiden beserta para tim sukses kedua kubu terus melakukan sosialisasi dan kampanye guna menarik simpatik para masyarakat pemilih melalui strategi dan taktik kedua kubuh tentunya.

Komisi pemiliahan umum (KPU) yang bertanggung jawab untuk menyelengarakan pemiliahan umum berdasarkan amanah dalam undang – undang nomor 22 tahun 2017 tentang penyelengaraan pemilikan umum yang dilandaskan oleh suatu komisi pemilikan umum (KPU) yang bersifat nasional, tetap dan mandiri.

Tentunya KPU sebagai suatu lembaga pemerintahan yang diamanahkan menyelenggarakan pemilu terkusus pada pemilihan presiden dan wakil presiden, pada tahun 2019 ini KPU memberikan ruang kepada kedua paslon untuk mengaktualisasikan dirinya melalui forum resmi yang disediakan KPU yaitu kegiatan debat capres dan cawapres, berdasarkan keputusan KPU bersama tim kampanye kedua paslon telah menyepakati susunan debat dan jadwal debat.

Masyarakat indonesia menjelang hari H pemungutan suara akan disuguhkan berbagai macam bentuk pariasi kampanye oleh kedua kubuh yang sedang berkompetisi ini memperebutkan takhta tertinggi di struktural kepemerintahan, tak terlepas dari itu kalangan milenial tak luput dari godaan dari tim kampanye masing-masing kubuh.

Milenial adalah generasi yang lahir awal 1980-an hingga awal 2000-an, pada pada pemilu 2019, bagian dari kelompok milenial ini sebagian besar merupakan pemilih pemula.

Koordinator Pusat Peneliti Politik LIPI, Sarah Nuraini Siregar menyatakan, berdasarkan hasil survei lembaganya, ada sekitar 35 persen sampai 40 persen pemilih dalam Pemilu 2019 didominasi generasi milenial, “Atau jumlahnya sekitar 80 juta dari 185 juta pemilih,” kata Sarah saat ditemui di Gedung LIPI, Jakarta Selatan, pada Selasa 11 Desember 2018.

Namun apa jadinya ketika kelompok milenial ini  memilih untuk golput atau dengan kata lain tidak menggunakan hak suaranya, sebuah survei pada tahun 2017 tentang orientasi politik generasi millenial yang dilakukan oleh centre for strategre and international studies, menemukan fakta strategre and international studies, menemukan fakta bahwa kaum millenial sedikit minat dalam politik, atau dengan kata lain kaum millenial memilih sikap apatis terhadap politik yang kian tahun mangkin meningkat.

Jadi adanya isu kalangan millenial untuk golput jadi ancaman bagi penyelengaraan pilpres 2019 ini, melihat tingkat golput telah menunjjukan tren yang meningkat dari tahun ketahun dimana hampir 30% pemilih terdaftar memilih golput di pilpres 2014 lalu dimana mayoritas yang memilih untuk golput adalah kaum millenial.

Bukan tanpa sebab kaum milenial memilih untuk tidak menggunakan hak suaranya pada pilpres kali ini, melainkan adanya rasa kekecewaan yang berbeda beda pada anak muda indonesia hari ini melihat politik indonesia yang kian hari mendekati hari pencoblosan mempertontonkan perilaku para politikus- politikus yang kurang bermoral.

Dan hampir disetiap harinya para kubuh yang sedang bertarung ini saling serang, memfitnah satu sama lain bahkan sampai pada kampanye-kampanye SARA yang dilakukan masing-masing tim sukses dan akhirnya memberikan pendidikan politik yang kuram baik kepada generasi-generasi selanjutnya.

Hal demikianlah yang menjadi polemik dikalangan masyarakat indonesia hari ini tak terkecuali dikalangan milenial, milenial ataupun para pemilih cerdas melihat fenomena tersebut yang jauh dari harapan dan cita-cita kebangsaan menuju indonesia yang  berkemajuan.

Para generasi milenial tentunya memiliki harapan-harapan kepada presiden terpilih nantinya, yang tentunya tidak terlepas dari kemajuan bangsa ini. pemerintah nantinya yang akan memimpin indonesia 5 tahun yang akan datang  diharapkan mampu mengevaluasi kinerja-kinerja kepemerintahan sebelumnya yang kurang baik, diberbagai lini kehidupan masyarakat dan yang paling penting adalah mempersiapkan generasi-generasi muda bangsa ini melalui sistem pendidikan yang baik guna pempersiapkan sumber daya manusia (SDA) yang siap bersaing di kanca internasional dan mampu mengelolah sumber daya alam (SDM) secara mandiri agar ketergantungan kepada negara asing itu dapat diminimalisir.

Presiden harapan milenial diseluruh penjuru tanah air ini berharap pemerintahan yang akan mempimpin indonesia 5 tahun yang akan datang, dia yang mampu memberikan lapangan pekerjaan kepada generasi milenial indonesia yang layak untuk menyongsong perekonomian masyarakat indonesia yang berkemajuan.

Presiden harapan milenial adalah presiden yang mampu memfasilitasi para milenial untuk mengembangkan segala potensi pada dirinya melalui kebijakan pemerintah yang pro dengan pelajar dan mahasiswa yang notabenenya adalah kaum milenial.

Dan tentunya presiden yang terpilih nantinya yang mampu merealisasikan aspirasi anak-anak muda yang memiliki ide-ide kreatif dan inovatif melalui kebijakan ataupun  program kerja kepemerintahan yang memberikan ruang sebebas-bebasnya kepada milenial yang tentunya memiliki gagasan baru untuk kemajuan bangsa dan negara ini.

Generasi milenial indonesia yang mayoritas adalah pelajar dan mahasiswa atau dengan kata lain para pemilih cerdas tentunya mengharpkan pembuktian kepada presiden terpilih nantinya, bukan hanya menebar janji-janji kampanye politik, agar negara Indonesia dapat bersaing dengan negara-negara maju lainnya didunia ini dan tentunya dapat mewujudkan masyarakat adil dan makmur.

Melalui tulisan ini, penulis mengajak seluruh masyarakat indonesia terkusus kaum milenial diseluruh indonesia untuk menggunakan hak pilihnya pada pilpres 17 April 2019 yang akan datang demi kemajuan bangsa dan negara indonesia yang kita cintai bersama ini.

“golput bukan solusi, mari nyoblos !”

Vanto Kun adalah mahasiswa Universitas Negeri Makassar

Berita Terkait
Komentar
Terkini
Opini

Hajj Journey 2

ADA indikasi kuat bahwa haji atau amalan-amalan ritual di Tanah Haram sudah ada sejak awal turunnya manusia ke bumi ini. Hal itu terbukti dengan jejak-jejak
Opini

Hajj Journey

SAAT ini umat Islam di seluruh dunia bersiap-siap menyambut datangnya bulan haji. Bahkan saat ini pun musim haji yang penuh hiruk pikuk itu telah
Opini

Seni Perang Sun Tzu

UMUM menerima Sun Tzu sebagai jenderal besar, ahli strategi militer, dan ahli filsafat. Ia dipandang sebagai penulis buku klasik “The Art of War” yang
Opini

Sebab Kita Semua adalah Garuda

HARI ini kita menyaksikan sebuah peristiwa bersejarah. Setelah semua kontestasi yang membuat bangsa ini terpolarisasi. Setelah hiruk pikuk perdebatan bahkan caci maki di media
Opini

Legalitas vs Moralitas

DALAM mendefenisikan kebenaran itu harus ada dua hal yang mendasari. Dasar legalitas (hukum) dan dasar moralitas (etika). Keduanya boleh jadi saling mengikat.Hukum tanpa moralitas
Opini

Keputusan Itu

SEBUAH keputusan itu tidak selamanya menyenangkan. Jangankan keputusan manusia, yang seringkali penuh dengan intrik kepentingan dan manipulasi.Keputusan Allah saja, jika tidak sesuai keinginan dan
Bisnis

Tutupnya Gerai Giant

GIANT itu dimiliki oleh Group Hero. Hero sendiri didirikan oleh MS Kurnia pada 23 Agustus 1971, namanya Hero Mini Supermarket yang bertempat di Jalan
Opini

Libra Bitcoin, Mata Uang Baru dari Facebook

BITCOIN memang belum bisa meruntuhkan mata uang. Bahkan sempat melemah. Tapi beberapa hari terakhir ini on fire lagi. Gara-gara Facebook bikin kejutan: meluncurkan 'mata