Opini: Stop Diskriminasi ODHA (Orang Dengan HIV dan Aids)

Oleh: La Unga Samsi

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh, dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4.

Semakin banyak sel CD4 yang dihancurkan, kekebalan tubuh akan semakin lemah, sehingga rentan diserang berbagai penyakit.

Infeksi HIV yang tidak segera ditangani akan berkembang menjadi kondisi serius yang disebut AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). AIDS adalah stadium akhir dari infeksi virus HIV.

Pada tahap ini, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi sudah hilang sepenuhnya.

Sampai saat ini belum ada obat untuk menangani HIV dan AIDS. Akan tetapi, ada obat untuk memperlambat perkembangan penyakit tersebut, dan dapat meningkatkan harapan hidup penderita.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, selama tahun 2016 terdapat lebih dari 40 ribu kasus infeksi HIV di Indonesia. Dari jumlah tersebut, HIV paling sering terjadi pada heteroseksual, diikuti lelaki seks lelaki (LSL), dan pengguna NAPZA suntik (penasun). Di tahun yang sama, lebih dari 7000 orang menderita AIDS, dengan jumlah kematian lebih dari 800 orang.

Baca :Angka terinfeksi HIV/AIDS di Sulsel terus meningkat

Data terakhir Kemenkes RI menunjukkan, pada rentang Januari hingga Maret 2017 saja sudah tercatat lebih dari 10.000 laporan infeksi HIV, dan tidak kurang dari 650 kasus AIDS di Indonesia.

Kita ketahui bahwa di Indonesia sudah ada 98 peraturan daerah (Perda) penanggulangan HIV/AIDS baik tingkat provinsi (21), kabupaten (54) dan kota (23) serta 10 peraturan (pergub 4, perbup 5 dan perwali 1). Tapi, perda-perda itu hanyalah ‘macan kertas’ yang tidak berguna karena pasal-pasal penanggulangan sama sekali tidak menyentuh akar persoalan.

Bahkan, banyak perda dan lain sebagainya yang hanya mengedepankan norma, moral dan agama dalam penanggulangan ODHA.

Saya jamin. Siapapun tidak ingin menjadi ODHA bahkan penyuka free sex dan pecandu narkoba sekalipun. Semua mungkin setuju jika menjadi ODHA bukanlah pilihan, Namun, vonis itu harus diterima meski terasa sangat menyakitkan dan penuh ketidakadilan. Mengapa tidak adil?

Sungguh, banyak orang yang menjadi ODHA padahal kehidupan mereka baik-baik saja. Mereka bukan pecandu atau penyuka free sex. Namun, mereka terjangkit virus karena sebuah ketidaksengajaan.

Baca :Maros peringati Hari AIDS dengan Jalan Santai

Saran saya “Bagaimana Pemerintah mengerahkan agar setiap lapisan masyarakat untuk sama – sama dengan pemerintah yang terkait untuk melindungi & membantu ODHA agar mengembalikan kepercayaan diri mereka untuk menjalankan kehidupan seperti orang SEHAT pada umumnya”. [01 – 12 – 2018] (Hilman)

La Unga Samsi

Student of Public Health University of the Republic of Indonesia Fighters.

La Unga adalah Kordinator Daerah Sulselbar Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia.