Paham radikal dan intoleran menyerang Anak

Dwi Surti Junida
Dwi Surti Junida, S.Sos. M.Si. (foto/terkini.id)

Terkini.id – Miris mengetahui para pelaku peledakan bom bunuh diri di tiga tempat di Surabaya beberapa waktu lalu berasal dari satu keluarga.

Pada peledakan bom tiga gereja di Surabaya pada Minggu 13 Mei 2018 tersebut menewaskan 13 orang dan 43 lainnya luka-luka. Pelakunya merupakan pasangan suami istri dan empat orang anaknya.

Di Sidoarjo, satu keluarga dengan dua anak diketahui juga pelaku peledakan, sedangkan di Mapolresta Surabaya, pelaku peledakan juga merupakan satu keluarga dengan tiga orang anak, namun satu diantaranya selamat karena terlempar.

Pertanyaan yang muncul dalam benak saya adalah bagaimana pola pendidikan dan pengasuhan dari keluarga anak-anak pelaku pemboman tersebut sehingga bisa memiliki paham radikal sejak dini? Bagaimana lembaga formal seperti sekolah tidak dapat mencegah paham intoleran pada anak-anak pelaku pemboman tersebut?

Ini pertanyaan besar yang harus dijawab oleh para orangtua dan guru sebagai pendidik di sekolah, apalagi kita baru saja memperingati hari pendidikan nasional yang jatuh tanggal 2 Mei yang lalu. Kenapa bisa memiliki paham radikal, coba kita telusuri.

Baca juga:

Mengingat tumbuh kembang anak ditentukan dari nilai yang ditrasferkan oleh orang-orang yang sangat dekat dengan dirinya sejak dini, katakanlah hal ini adalah kedua orangtua mereka.

Orang tua memiliki pemahaman yang sempit terkait Agama

Kenapa paham radikal dan intoleran bisa masuk dan mengakar ke otak anak, menurut hemat saya karena kedua orangnya memiliki pemahaman yang sempit akan ilmu keagamaan itu sendiri. Karena setahu saya, semua agama tidak memiliki ajaran radikal dan intoleran.

Semua ajaran agama apapun memiliki dasar-dasar toleran dalam berperilaku dengan agama lain. Jika ada yang menganggap bahwa paham radikal dan intoleran adalah ajaran agama mereka, maka itu bukan berasal dari agama apapun.

Dalam hal ini orangtua harus memiliki pendidikan agama yang baik, yang benar sesuai syariah Allah Swt jika mereka muslim. Atau mungkin, jika diperlukan, orang tua bekerjasama dengan para ustaz, guru agama dan pihak-pihak lainnya yang dipercaya mampu memberikan pemahaman agama yang benar pada anak-anak mereka.

Selanjutnya, orang tua harus sebisa mungkin memastikan pengetahuan agama yang didapat anak-anaknya melalui pengetahuan agama yang mendalam, penuh hikmah dan rahmat pada sesama, menjalin hubungan sesama manusia, termasuk menjalin hubungan sosial terhadap umat diluar agama mereka.

Guru diharapkan memberi pemahaman yang benar kepada Anak didik

Kemudian, bagaimana dengan para pendidik kita di sekolah. Setahu saya sekolah adalah lembaga kedua setelah orangtua yang berkewajiban membina dan mendidik anak-anak demi menghasilkan penerus bangsa yang bermoral, memiliki empati yang tinggi, berjiwa sosial dan berprestasi dalam agama, bangsa dan Negara.

Pertanyaannya sekarang kenapa anak-anak yang bersekolah bisa memiliki paham radikal dan intoleran? Bagaimana sistem kurikulum dan lingkungan sekolah menyikapi nilai-nilai sosial seperti toleran atau saling menghargai dengan orang yang berasal dari agama, suku, ras dan etnis yang berbeda? Apakah sudah sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma bangsa kita yang beriklim plural.

Dalam hal ini sekolah memiliki tanggungjawab mendidik dan mencegah paham anti radikal dan anti intoleran, baik melalui proses pembelajaran di kelas, terutama pelajaran agama maupun melalui berbagai bentuk interaksi anak-anak di lingkungan sekolah.

Guru diharapkan bisa menanamkan pemahaman agama benar seperti cinta damai dan toleran pada anak didiknya. Guru juga diharapkan dapat menjadi mitra bagi orang tua yang bisa turut memperkuat dan mengasah sikap-sikap toleran anak dalam beragama.

Dengan demikian, pengetahuan, pemahaman, dan karakter anak-anak didik sedini mungkin tentang beragama terarah dengan baik dan benar. Terarah secara damai dan toleran dengan terbentuk kokoh karena didukung adanya sinergitas orang tua di rumah dan guru di sekolah.

Komentar

Rekomendasi

Anarkis itu Suara yang Tak Terdengarkan

Hong Kong Konawe

Pesan-Pesan Ramadan dari New York

Vaksin Lebaran

Idul Fitri dan Fitrah Cinta

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar