Pak Prabowo, serius masih mau bertarung?

Prabowo Subianto

Terkini.id – Sebagai penantang Jokowi, Prabowo Subianto mungkin sedang sibuk merayu para sekutunya untuk tetap setia, bersatu, dan bertarung kembali.

Jika diibaratkan kekasih, Prabowo sedang berusaha meyakinkan PKS dan PAN, agar tidak berpaling ke lain hati. Maklum, keduanya sedang “digantung” lantaran Prabowo belum menentukan siapa yang akan dipilih menjadi pendampingnya.

Mungkinkah Prabowo akan memilih cawapres usulan PAN, atau PKS?

Atau tidak memilih keduanya? Tetapi calon di luar itu yang elektabilitasnya sedang tinggi, seperti Gatot Nurmantyo, TGB, atau Agus Harimurti Yudhoyono (AHN)?

Di sisi lain, dua sekutunya itu, Partai PAN, dan PKS, punya kemungkinan untuk “putus”, lalu membangun poros baru: poros ketiga di luar koalisi Prabowo dan Jokowi.

Denny Siregar menganalisa, peristiwa pertemuan alumni 212 dengan Jokowi, beberapa waktu lalu, kemudian disusul berita heboh penghentian kasus Habieb Rizieq Shihab (HRS) oleh Polda Jawa Barat, merupakan bagian dari skenario poros ketiga para sekutu yang “ogah” mengusung Prabowo lagi.

Berbeda dengan pro Prabowo, skenario poros ketiga ini lebih halus: membangun persepsi bahwa Jokowi sudah “damai” dengan alumni 212, dan itu terbukti dengan kasus penistaan Pancasila HRS dihentikan.

Padahal, penghentian kasus HRS itu sudah dilakukan pada Februari, jauh sebelum pertemuan alumni 212 dengan Jokowi.

Karena kesan Jokowi berdamai dengan HRS, sebagian barisan pendukung Jokowi (khususnya Ahoker) pun kocar kacir, dan mulai kehilangan kepercayaan lantaran anutannya itu lemah dan berkompromi terhadap HRS yang menista Pancasila.

Peluang tiga capres

Skenario terbaik untuk mengalahkan Jokowi adalah skenario tiga capres, seperti halnya pada Pilkada DKI Jakarta, yakni mengusung Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Anies Baswedan untuk mengalahkan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Seperti diketahui, untuk bisa mengusung Calon Presiden, paling tidak harus diusung partai koalisi karena presidential treshold adalah 20 persen, atau minimal diusung 112 kursi DPR RI.

Dengan begitu, di luar koalisi Jokowi (PDIP, Nasdem, Golkar, PPP dan Partai Hanura dengan total 291 kursi), masih ada peluang mengusung dua Capres lagi.

Gerindra bisa mengusung Prabo wo, jika berkoalisi dengan PKS (40 kursi) dan PAN (48 kursi), sehingga total kursi 161.

Sementara, dua partai lain belum menentukan sikap PKB (47 kursi), dan Demokrat (61 kursi).

Nah, seperti desas desus yang beredar, tidak semua pendukung Gerindra menginginkan Prabowo capres. Kubu Desmond di Gerindra, malah mengusulkan Gatot Nurmantyo untuk diusung Gerindra.

Jika PAN keluar dari koalisi Prabowo, maka Prabowo bisa tetap maju, karena dengan Gerindra dan PKS pun, sudah cukup mengusung Prabowo (113 kursi).

Dengan koalisi Demokrat, PAN, dan mungkin berpeluang mengajak PKB (jika Cak Imin batal jadi Capres Jokowi), kubu ini bisa saja mengusung Gatot Nurmantyo-AHY, atau Gatot-Cak Imin, atau pilihan lainnya, untuk bersaing dengan Prabowo dan Jokowi.

Elektabilitas Prabowo

Menjadi persoalan, karena nama Prabowo sebagai Capres sudah terang benderang diketahui publik. Kubu Jokowi pun mulai menabuh genderang perang.

Makanya, Ketua Umum Partai Gerindra itu terus diserang habis-habisan oleh pendukung Jokowi. Mulai dari isu perusahaannya yang paling banyak merekrut tenaga kerja asing, isu penculikan aktivis era Orde Baru, dan lain-lain.

Alhasil, elektabilitas Prabowo terus turun, dan mencapai angka 14 persen (Litbang Kompas), atau 29 persen (Indikator), dst.

Masalahnya, para simpatisan 212 yang mengklaim didukung 7 juta suara, PAN, bahkan termasuk PKS hingga saat ini belum menentukan pilihan, kecuali terus mengusung tagar 2019gantipresiden, tanpa mau menyebut siapa calon itu.

Bisa saja sengaja ditunda dimunculkan, sambil membiarkan lawannya fokus menyerang Prabowo Subianto dulu.

Jika Prabowo Subianto terus lemah, poros ketiga ini bukan tidak mungkin memiliki nilai tawar lebih tinggi, dengan mengusung Gatot. Sehingga kubu Prabowo harus legowo demi kemenangan.

Pertanyaannya, dengan elektabilitas yang terus turun saat ini, seriuskah Pak Prabowo masih mau bertarung lagi?

Komentar

Rekomendasi

Anggota DPRD Meity Rahmatia Bagikan Hand Sanitizer dan Sabun Cuci Gratis di Gowa

Pintu Pelimpah Bendungan Bili-bili Dibuka, Warga Diminta Tak Beraktivitas di Hilir Sungai Jeneberang

Peduli Wabah Corona, JMS Care Bagi-bagi Masker dan Hand Sanitizer Gratis

Meninggal akibat Kecelakaan Maut, Ini Rekam Jejak Karir Wakil Jaksa Agung Arminsyah

Fadli Ananda: Keputusan KPU Menunda Pilkada Sangat Tepat

Anggota DPR RI AMI Perjuangkan Nasib Rakyat Terdampak Corona

Ditolak Warga Gowa, Pasien Corona Dikubur di Kompleks Pemakaman Pegawai Pemprov

Kebijakan Iqbal Suhaeb Berubah: Toko di Kota Makassar Bisa Buka Sampai Pukul 12 Siang

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar