Para Pembully Tidak Akan Tahu Kekuatan Cinta Messi Pada Bola

messi, cinta, bola
kierancarrolldesign.com

Terkini.id – Bagi sosok seperti Lionel Messi, tidak ada yang paling utama selain merengkuh gelar piala dunia.

Untuk hal yang satu ini, dia bahkan pernah berucap rela untuk menukar seluruh gelar pemain terbaiknya untuk satu gelar piala dunia saja. Dari sini saja sudah tercermin betapa Ia mencintai negaranya dibanding clubnya.

Banyak orang yang meragukan ketika ia bermain di negaranya. Messi dituduh tidak seserius, seperti ketika bermain di Barca.

Ada juga yang menganggap Messi tidak bisa bermain bagus ketika bersama Argentina. Bahkan ada tuduhan konyol, Messi sengaja merusak permainan tim. Bermain pada level terendah atau bahkan keluar dari strategi permainan pelatih.

Jelas semua hal di atas adalah opini yang menyesatkan. Fakta justru bicara sebaliknya. Setelah era Maradona, hanya Messi-lah yg bisa membawa argentina sampai pada laga puncak piala dunia.

Sebelumnya banyak nama besar di Argentina. Pada piala dunia 2002 di Jepang, tim Argentina adalah yang paling diunggulkan menjadi juara dunia.

Komposisi tim sangat seimbang. Di belakang ada bek tangguh: Ayala, Samuel, Heinze dan Javier Zanetti.

Di tengah, dihuni gelandang berkelas: Veron, Requilme dan Aimar. Di depan penyerang yang sangat tajam: Batistuta, Crespo, Lopes dan Ortega. Nyatanya, Argentina tidak lolos dari grup.

Kita pindah pada piala dunia tahun 2018 ini. Tim Argentina menjadi tim yg memang tidak diandalkan.

Di penyisihan terseok-seok. Dan dalam catatan statistik, pada penyisihan itu ketika messi tidak ada, tim hanya bisa mendapat 6 poin dan terlempar di urutan ke-5.

Dua puluh dua poin didapatkan justru saat bersama Messi. Puncaknya pada laga terakhir yang menentukan melawan Ekuador, Messi mencetak hattrick.

Pada pertandingan itu, Messi seakan mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk membawa Argentina pada piala dunia 2018.

Saat Argentina mengumumkan skuatnya di Piala Dunia 2018, nama-nama pemain yang muncul adalah nama yang sama sekali tidak menggetarkan jagat sepak bola.

Beberapa nama beken memang ada, tetapi rata-rata sudah berusia 30 tahun ke atas. Di antara nama yang terkenal itu di klubnya juga hanya cadangan. Bahkan ada yang cadangan mati.

Bukan Salah Messi

Jelaslah bahwa tim yang bersama Messi kali ini bukan tim yang istimewa. Anda tidak bisa bandingkan dengan tim 2014 yang lalu, apalagi tim pada tahun 2002. Kalah kelas.

Di tengah tim yang seperti itulah, Anda menghakimi messi bermain sangat buruk. Itu penghakiman yang tidak adil. Ia memang bermain tidak sebagus dari permainan yang sudah sudah, tetapi mau bermain bagaimana jika aliran bola tidak ada yang datang kepadanya.

Ia pemain bintang yang dikurung di kamarnya seorang diri oleh pemain lawan. Pemain Argentina yang lain dibiarkan bermain tanpa Messi. Dan anda tahulah apa yang terjadi kemudian?

Walau demikian Messi masih bisa meledak di dua pertandingan terakhir. Messi selain jadi man of the match pada pertandingan lawan Nigeria, juga dapat poin 8 menurut catatan optah dalam pertandingan lawan Prancis. Posisi kedua, di bawah Mbappe.

Dalam soal kepemimpinan di lapangan, mungkin Messi memang tidak sebagus maradona.

Karakter Tenang dan Pemalu

Satu-satunya yang kurang pada dirinya. Karakter yang dia miliki memang karakter yang tenang dan cenderung pemalu. Ia tak akan meledak ledak seperti Maradona. Karakter inilah yg menjadi ciri Argentina. Sangar, meledak-ledak, dan ekspresif dan sayangnya tidak ada pada Messi.

Walaupun, dia sendiri sudah berusaha membentuk dirinya menjadi semacam itu. Salah satunya dengan bercambang dan bertatto.
Messi telah mengambil sisi tarian indahnya Tango, tapi tidak pada sisi emosinya yang menggelegak. Tentu saja itu tidak mengurangi sosoknya yang telah bermain baik bagi negaranya.

Baca juga: 4 fakta tendangan salto Ronaldo, “kryptonite” bagi Buffon

Bagi yang akhirnya mencela Messi dan menumpahkan kekesalan pada pemain yang satu ini, bisa jadi adalah orang yang kecewa krn tak kunjung Argentina menjadi juara.
Pelampiasannya adalah pada pemain bintangnya. Bagi rakyat Argentina dan pendukungnya, trophy di tangan barulah dianggap pantas. Bermain sebagus apapun jika hanya sampai di final tetap saja pecundang.

Ini pandangan emosional tanpa sungguh sungguh melihat detail permainan Argentina dan Messi di dalamnya.

Yang lain yang membully Messi bisa dipastikan adalah para pembencinya atau setidaknya pendukung bintang lainnya. Yang ditunggu memang hanyalah kekalahan Messi dan timnya.

Hanya dengan itulah, ia dapat melampiaskan kekesalannya terhadap Messi yang selama ini menutupi kecemerlangan pemain lainnya dengan sentuhan mahabbah-nya pada bola.

Berita Terkait
Komentar
Terkini