Pegiat Literasi di Makassar Diskusikan “Mantra Cinta”

Bedah buku Sehimpun Puisi "Mantra Cinta" karya Rusdin Tompo di Hotel Continent Centrepoint, Jalan Adiyaksa, Makassar, Kamis 25 April 2019

Terkini.id, Makassar – Mantra itu bukan hanya memiliki kekuatan kata tapi juga batin. Mantra ini dikenal dalam berbagai tradisi, termasuk di Sulawesi Selatan. Peruntukan mantra bisa untuk keperluan macam-macam, diantaranya untuk menggaet lawan jenis.

“Tapi mantra yang kita bahas hari ini adalah buku kumpulan puisi, yang juga punya daya magis. Diksi-diksi sederhana bertema cinta justru jadi mantra yang menarik untuk dibaca dan didiskusikan,” demikian pandangan Yudhistira Sukatanya yang hadir sebagai pembedah buku Sehimpun Puisi “Mantra Cinta” karya Rusdin Tompo.

Acara bedah buku terbitan daerah Kota Makassar ini diadakan di Hotel Continent Centrepoint, Jalan Adiyaksa, Makassar, Kamis 25 April 2019. Acara ini dihadiri para pegiat literasi lintas generasi, terdiri dari komunitas, pelajar, guru, pustakawan, prndongeng hingga penulis dan penyair.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Makassar, Harun Rani, yang hadir dalam acara bedah buku itu, mengakui bahwa puisi-puisi bertema cinta seperti yang ditulis oleh Rusdin Tompo, saat masih bersekolah selalu dicari, apalagi kalau ada tugas menulis puisi.

Sekretaris Dinas Perpustakaan Kota Makassar, Indra Artati yang mewakili Kepala Dinas Perpustakaan, saat membuka acara mengatakan bahwa kegiatan bedah buku seperti ini merupakan bentuk dukungan instansinya bagi kemajuan literasi agar masyarakat bertambah referensinya, khususnya dalam buku-buku sastra.

Kabid Layanan Alih Media dan Teknologi Informasi Perpustakaan, Muhammad Fadli, selaku panitia menyampaikan bahwa bedah buku seperti ini akan memberikan pembelajaran seputar proses kreatif dari penulisnya. Bukan hanya kita membaca keindahan puisi-puisinya.

Penulis buku Sehimpun Puisi “Mantra Cinta”, Rusdin Tompo, bercerita bahwa buku ini mengalami metamorfosis, dari semula berupa catatan-catatan di sembarang kertas, seperti sobekan kertas, bekas pembungkus nasi kuning, koran, aluminium foil rokok, kardus dan lainnya yang disimpan bertahun-tahun.

“Buku puisi ini ditulis dalam rentang waktu yang panjang, lebih 30 tahun,” kisah Rusdin tentang proses kreatifnya menulis puisi.

mantra cinta

Puisi paling “tua”, ungkapnya, ditulis tahun 1984 (Dalam Maya) dan paling terakhir tahun 2016 (Cahya). Dari 125 puisi, 26 puisi di antaranya ditulis pada masa SMA (1984-1987). Ada 8 puisi ditulis pada masa mahasiswa (1988-1992).

Puisi-puisi dalam “Mantra Cinta”, lanjut pria yang lebih dikenal aktivis anak itu, berkisah tentang seluruh siklus cinta. Mulai dari seseorang yang masih jomblo, patah hati, cinta platonis, orang yang asyik masyuk dalam pacaran, cinta suami istri dalam pernikahan, hingga tragedi percintaan. Meski begitu, katanya, puisi yang ditulisnya tidak melulu soal cinta asmara tapi juga cinta dengan muatan kemanusiaan.

Acara bedah buku ini semakin meriah dengan pembacaan puisi oleh peserta dan sejumlah penyair yang merupakan sahabat-sahabat Rusdin Tompo. Para penyair mengaku tergerak untuk membaca puisi karena terinspirasi oleh puisi-puisi dalam “Mantra Cinta”.

Mereka yang tampil membaca puisi antara lain Maysir Yulanwar, Yudhistira Sukatanya, Asis Nojeng, Astriani Syamsuddin, dan Amir Jaya. Bahkan seorang murid SD Negeri Borong bernama Lala yang masih duduk di kelas IV juga membacakan puisi karya Rusdin Tompo.

Rusdin Tompo mengatakan pembelajaran dari buku yang ditulisnya adalah pentingnya mendokumentasikan karya kita, sesederhana apapun itu.

Berita Terkait
Komentar
Terkini