Pemkot Makassar Harusnya Dapat Rp900 Miliar Dari Retribusi Parkir, Bukan Rp90 Miliar

Direktur Swadaya Mitra Bangsa (Yasmib) Sulsel, Rosniaty Azis.

Terkini.id — Swadaya Mitra Bangsa (Yasmib) Sulsel menyebut bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar harusnya mendapatkan Rp900 miliar dari hasil retribusi parkir dalam setahun.

Direktur Yasmib Sulsel, Rosniaty Azis mengatakan, sejauh ini Pemkot Makassar hanya memperoleh Rp90 miliar dari retribusi parkir di wilayah Makassar.

Berdasarkan asumsi, jumlah kendaraan di Kota Makassar sebanyak 1 juta lebih unit, sedangkan parkir Rp2 ribu sekali parkir.

“Sederhana sekali perhitungannya, jumlah kendaraan itu lebih 1 juta unit, itu dikali 2000 sekali parkir saja, dikali lagi 30 hari atau selama sebulan, kemudian dikali lagi selama setahun, harusnya pendapatan parkir bisa mencapai Rp900 miliar. Itu baru perhitungan paling rendah, masa cuma dapat Rp90 miliar,” ujar Rosniaty saat hadir pada diskusi yang digelar oleh ICW, Senin 13 Januari 2020.

“Kalau dikatakan dikelola pihak ketiga katakanlah swasta dan pemerintah mendapatkan 50-50 persen, Pemkot masih bisa dapat Rp500 miliar,” tambahnya.

Olehnya itu, ia menduga adanya kebocoran pendapatan parkir di Kota Makassar.

“Kalau tidak mau ada kebocoran, sistem pengelolaan parkirnya harus dibenahi. Kadang-kadang kita bayar parkir ada yang tidak ada karcisnya, bahkan ada yang kadaluarsa. Inilah yang menjadi PR bagi Direksi PD Parkir Makassar,” pungkasnya.

Komentar

Rekomendasi

Berita Lainnya

Cegah Corona, PMI Makassar Semprot Disinfektan Dua Perumahan Dosen

Gandeng PMI Makassar, PT Bintang Salurkan 1000 APD ke Sejumlah RS

DPRD Makassar Alokasikan Rp10 Miliar Untuk Penanganan Covid-19

KM Lambelu Dikarantina 2 Mil Dari Dermaga Makassar

Pemkot Makassar Belum Terapkan PSBB, Ini Tanggapan Ketua DPRD

Hindari Politisasi Penyaluran Bantuan Dampak Covid-19

Jurnalis distribusikan APD di 11 Kecamatan Kota Makassar

PMI Makassar Semprot Disinfektan Balai Kota

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar