Pendiri Facebook kecam Donald Trump, ada apa?

CEO Facebook, Mark Zuckerberg melalui tulisan panjang yang diposting pada akun Facebook pribadinya, secara gamblang mengecam dan mengkritik kebijakan anti-imigran Trump. / Ist

CALIFORNIA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang baru saja dilantik, sudah mendapat antipati banyak pihak terutama berkaitan dengan kebijakannya soal imigran.

Memang, sejak awal mencalonkan diri sebagai Presiden AS, Trump konsisten menyuarakan sikap anti-imigran. Salah satu rencana kebijakannya yang mengundang kontroversi adalah menolak pengungsi dari Iran, Iraq, Libya, dan Syria.

Trump juga berencana membangun dinding pembatas dengan Meksiko, serta memperketat izin visa kerja profesional bagi warga negara asing.

Kontroversi masih berlanjut pasca sepekan resmi menjabat. Pasalnya, Trump telah menandatangani perintah untuk segera menjalankan rencana-rencana kebijakannya.

Hal ini mengusik CEO Facebook, Mark Zuckerberg. Melalui tulisan panjang yang diposting pada akun Facebook pribadinya, Zuckerberg secara gamblang mengecam dan mengkritik kebijakan anti-imigran Trump.

Mulanya, ia menyebut keluarganya datang dari Jerman, Austria, dan Polandia. Di samping itu, istrinya dikenal sebagai keturunan Tionghoa (Tiongkok). Ayah dan ibu istrinya dituliskan sebagai pengungsi dari Tiongkok dan Vietnam.

Menurut Zuckerberg, AS adalah bangsa imigran, dan sepatutnya warga AS harus bangga hal itu, Sabtu 28 Januari 2017.

Ia mengaku prihatin terhadap kebijakan anti-imigran yang telah ditandatangani Trump. Dalam pandangannya, hal itu (menghadang) imigran tidak bakal membuat negara makin aman.

“Semestinya pemerintah lebih fokus meredam pergolakan yang terjadi di kancah global. Pasalnya, membeludaknya imigran adalah dampak dari masalah yang terjadi di negara asal para imigran,” ulas Zuckerberg.

Ia menyampaikan, seharusnya pemerintah AS tetap membuka pintu untuk para pengungsi yang membutukan pertolongan lantaran itu adalah jati diri bangsa AS.

 Zuckerberg bisa dibilang sebagai satu-satunya pemimpin industri teknologi yang lantang menyuarakan ketidaksetujuannya atas kebijakan Trump pasca menjabat Presiden AS.

Rekan-rekannya yang lain cenderung menolak Trump di awal, namun kemudian mendekat ketika Trump resmi terpilih sebagai Presiden AS ke-45. Hal tersebut bisa jadi untuk menjamin keamanan bisnis-bisnis mereka.

Berita Terkait