Peneliti: Pelaksanaan PSBB di Kota Makassar Perlu Lebih Tegas

Satpol PP Kota Makkasar siram toko yang buka di tengah PSBB

Terkini.id, Makassar – Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) melakukan diskusi dampak penerapan PSBB di Kota Makassar bersama Muhammad Afif Sallatu peneliti Logov Celebes, Sabtu 2 Mei 2020.

Diskusi melalui live story Instagram BaKTI ini mendapatkan kesimpulan, PSBB di Kota Makassar sudah tepat. Tapi kurang tegas.

Afif menilai efektivitas penerapan PSBB selama sembilan hari masih belum berjalan maksimal. “Kalau kita lihat pemberitaan di media, sepertinya beberapa masyarakat Makassar lebih suka berada di luar (rumah),” ungkapnya.

Selain itu, Afif juga menilai ada koordinasi yang tidak berjalan baik seperti masih banyak tempat usaha yang semestinya tutup tetapi malah tetap buka.

Pada ekspos terbuka hasil kajian Logov Celebes mengenai dampak ekonomi Covid-19 di Kota Makassar menghimpun lima poin yaitu salah satunya yaitu dampak ekonomi berkaitan pengangguran dan kemiskinan.

Baca juga:

Menurut Afif, pengambilan keputusan penerapan PSBB di Makassar merupakan langkah yang tepat meskipun agak telat karena harus menunggu kebijakan pusat.

“Terjadi siklus guncangan permintaan dan penawaran karena pembatasan aktivitas produksi. Tapi ini jauh lebih baik dibandingkan tidak menerapkan PSBB,” terangnya.

Hasil penelitiannya memproyeksikan penerapan PSBB ini akan membuat perekonomian Pemkot Makassar anjlok pada kuartal ke II namun akan cepat rebound di kuartal ke III.

“Memang perekonomian akan anjlok tapi akan mudah juga untuk rebound. Tapi jika tidak PSBB akan turun bertahap dan bakal lamban melakukan rebound,” pungkasnya.

Potensi ekonomi Pemkot Makassar diproyeksikan akan turun Rp 3,6 Triliun jika menerapkan PSBB dan mencapai Rp 6,63 T jika tidak menerapkan PSBB. Ruang fiskal Makassar bakal siap untuk re-alokasi anggaran sebab sisa kemampuan fiskal Makassar 2020 sekitar Rp 1,7 Triliun atau sekitar 43 persen.

Kendati demikian, Afif menyarankan saat ini pemerintah harus fokus pada mitigasi Covid-19 sebagai penyebab lesunya perekonomian agar tidak telat dalam mengambil keputusan.

“Banyak pengusaha yang bilang sekarang memang saatnya rugi, pilih mana rugi sekarang tapi kedepannya bisa untung atau memilih rugi berkepanjangan,” paparnya.

Ketua Apindo Sulsel, La Tunreng dalam ekspos terbuka juga menyebutkan bahwa para pengusaha juga siap membantu pemerintah. “Pengusaha bisa masing-masing Rp 10 juta,” ujarnya.

Selain itu, Logov juga melakukan survei terhadap 500 responden yang berdomisili di Makassar untuk melihat respon mereka terhadap pandemi ini.

Hasil survei tersebut menyebutkan sebagian besar responden sangat mendukung untuk pengambilan kebijakan yang lebih tegas seperti karantina wilayah dibanding PSBB.

Kendati demikian Logov menyebutkan langkah tersebut tidak mudah jika melihat jumlah investasi di Indonesia dalam tiga tahun terakhir.

“Yah kalau ambil langkah tersebut tentu akan membuat perekonomian lesu sehingga kebijakan itu menjadi tidak realistis jika menggunakan pertimbangan itu,” tutupnya.

Komentar

Rekomendasi

Beredar Skenario Pelonggaran PSBB Bertahap, Industri Beroperasi Mulai 1 Juni?

Pengumuman, UMKM Beromzet di Bawah Rp 4,8 Miliar Kini Bebas Pajak

Begini Kondisi Perekonomian Kota Makassar Selama Pandemi

Prediksi The Economist: Hampir Semua Negara G20 Resesi, Kecuali Indonesia dan 2 Negara Ini

Harga Gula Pasir di Kabupaten Bone Meroket, Begini Temuan di Lapangan

Optimalkan Layanan, BNI Syariah Relokasi Kantor Cabang Veteran Makassar

Kena Pajak Cukai, Harga Kantong Plastik Naik Jadi Rp500 Per Lembar di Minimarket

Jiwasraya dan Window Dressing

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar