Peneliti ungkap fakta mengejutkan cara manusia purba ‘bersetubuh’

Peneliti ungkap fakta mengejutkan cara manusia purba 'bersetubuh'. (Foto/Boombastis.com)

Terkini.id, – Sejak manusia diciptakan, ada kebutuhan biologis yang dimediasi lewat hubungan intim. Tujuannya untuk melestarikan keturunan.

Menurut Anda, bagaimana orang-orang yang hidup di zaman dulu melakukan hubungan intim? Dimana pada masa itu ilmu pengetahuan dan sarana untuk melakukannya masih sangat kurang. Apakah mereka juga mengerti tentang persetubuhan?

Beberapa arkeolog di dunia melakukan beberapa metode penelitian dan berhasil mengungkap seperti apa kehidupan percintaan orang-orang di zaman purba.

Berikut beberapa fakta bagaimana manusia purbakala bersetubuh, seperti dilansir dari berbagai sumber.

1. Bercinta dengan binatang

Gambar ukiran di gua menggambarkan manusia purbakala bercinta dengan binatang

Studi yang dilakukan oleh para peneliti arkeologi menyimpulkan bahwa nenek moyang kita pada zaman dulu juga kerap berhubungan badan dengan binatang.

Hal tersebut dibuktikan dengan adanya gambar pada salah satu gua di Perancis. Gambar tersebut seperti bercerita bagaimana singa betina menjilati alat vital manusia raksasa atau Vulva.

Sebuah lukisan lain yang menggambarkan seorang pria berhubungan badan dengan keledai betina juga ditemukan di Italia.

2. Menghormati Patung Venus simbol kesuburan

Patung Venus simbol kesuburan

Patung Venus merupakan gambaran Afrodit dan Etruscan deity Turan. Afrodit merupakan dewi cinta, kecantikan dan seksual. Dipercaya bahwa nafsu untuk memiliki Afrodit bisa memecah belah para dewa.

Baca :5 fakta keahlian Manusia Purba ini mengejutkan para ilmuwan

Turan adalah dewi yang juga melambangkan cinta, kesuburan, dan dianggap sebagai pelindung kota Velch. Manusia yang hidup di zaman tersebut menyembah patung yang terkesan vulgar ini sebagai berhala kesuburan.

Mereka memang tidak mengerti fungsi biologis, sehingga menganggap kehamilan merupakan sesuatu yang ajaib dan harus dihargai.

3. Memuaskan diri dengan benda buatan

Dildo zaman purbakala

Rupanya orang kuno ribuan tahun yang lalu juga sudah paham dengan ‘memuaskan diri’. Hal itu dibuktikan dengan penemuan benda alat pemuas semacam dildo, benda ukiran yang dibentuk begitu halus hingga menyerupai kelamin manusia.

Benda tersebut ditemukan di Hohle Fels Cave, bagian barat daya Jerman. Salah seorang peneliti Arkeolog, Timothy Taylor mengatakan ukuran dan bentuk benda ini sangat mirip dengan aslinya.

Benda tersebut juga digunakan oleh manusia purba sebagai hammerstone, alat bantu yang fungsinya tidak jauh beda dengan palu.

4. Brutal membunuh bayi

Ilustrasi manusia purbakala membunuh bayi

Tidak semua orang purba menghormati kehamilan. Sebagian juga paham apa itu membatasi kesuburan. Yang dilakukan kadang lebih brutal dari aborsi di jaman sekarang.

Svend Hansen, seorang sejarawan menjelaskan bahwa dalam kehidupan masyarakat purba, tingkat kelahiran yang tinggi tentu tidak diinginkan.

Baca :Penelitian pasca sarjana harus saling menyapa

Kehidupan orang zaman purba tidak hanya sekedar nongkrong di gua, mereka juga kerap melakukan perjalanan melalui pedesaan.

Jika ada bayi, maka perjalanan mereka akan terasa lebih berat, dan ada satu mulut lagi yang harus diberi makan. Maka dari itu, orang zaman dulu membunuh bayi dengan cara brutal agar tingkat populasi tetap stabil.

5. Perkawinan sedarah

Tulang tengkorak manusia purba

Pada tahun 2013, peneliti mengungkapkan bahwa nenek moyang prasejarah kita dulu tentu terlibat perkawinan sedarah. Hal itu tidak bisa dielak lagi setelah para peneliti menemukan bukti.

Dengan peralatan CT Scan, para peneliti melihat beberapa tengkorak orang zaman kuno. Dari hasil CT Scan ditemukan bahwa terdapat mutasi genetik yang tidak biasa. Hal itu bisa disebabkan karena perkawinan sedarah.

Mutasi tersebut membuat lubang pada mahkota tengkorak, bisa dikatakan mereka cacat.

Menelisik kehidupan dan cara orang-orang zaman purbakala berhubungan intim, mungkin sedikit membuat bulu kita bergidik. Harap dimengerti, saat itu belum ada ilmu pengetahuan seperti sekarang ini.

Sebagai generasi beruntung yang lebih berpengetahuan, mestinya manusia di zaman sekarang lebih beradab dalam melakukan aktivitas pemenuhan kebutuhan biologis tersebut.